Sekitar satu setengah jam berlalu, laki-laki itu mengembuskan napas panjang sambil meregangkan pergelangan tangannya."Sekarang harusnya udah mendingan, senggaknya anakmu bisa minum susu."Begitu sensasi yang menggelitik kulit kepala itu menghilang, aku perlahan membuka mata dan melihat bagian dadaku sudah basah kuyup.Wajahku memerah malu, aku segera menunduk untuk merapikan pakaianku.Laki-laki muda itu berdiri dan menuliskan nomor teleponnya di secarik kertas. Ekspresinya tampak lembut, bahkan suaranya terdengar semerdu kucuran air pegunungan yang menyejukkan hatiku."Kalau payudaranya bengkak lagi, telepon aku saja. Kasihan Nenek kalau dikasih tahu, kakinya lagi susah jalan, nanti dia malah panik sendiri."Aku mengangguk, tapi mataku masih menatap lekat tangan laki-laki itu yang putih, ramping, dan indah dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Setelah laki-laki itu pergi, aku membasahi bibirku lalu menggendong putraku yang sudah kelaparan.Sekarang semuanya benar-benar sudah lancar.
Read more