Short
Tukang Pijat Desa

Tukang Pijat Desa

By:  LiamCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9Chapters
21views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tangan besar dokter desa yang hangat mendekapku, sementara kelembutan di dadaku terus berubah bentuk di bawah usapannya yang ringan. Aku menggertakkan gigi dengan wajah yang memerah padam dan tubuh yang gemetar hebat, tak mampu menahan rintihan manja yang terus lolos dari bibirku. "Suamimu ada di sebelah, lho. Pelan-pelan, nanti bakal lebih menegangkan ...."

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Alin, aku sudah menikah selama dua tahun dan memiliki seorang putra.

Kami tinggal di sebuah desa terpencil di pegunungan yang sangat kekurangan pasokan barang, bahkan untuk membeli perlengkapan bayi yang layak pun aku harus menempuh perjalanan jauh dengan kendaraan menuju kota kecamatan.

Keadaan ekonomi keluarga juga menjadi makin sulit sejak kehadiran anak kami.

Demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kami berdua, suamiku tidak ragu untuk berdiskusi dengan keluarga, lalu dia mengemas barang-barangnya dan berangkat mengadu nasib ke kota.

Tak terasa, suamiku sudah pergi selama dua bulan lebih.

Aku tinggal sendirian di rumah tanah ini bersama putraku, sementara mertuaku sesekali datang membantu.

Namun, karena kelelahan, kondisi kesehatanku menurun dari hari ke hari.

Terutama di bagian dada yang terasa sangat bengkak, seolah ada gumpalan keras di dalamnya, sampai sentuhan sekecil apa pun membuatku berkeringat dingin karena menahan sakit.

Putra tersayangku tidak bisa minum ASI, hal itu membuat kami sekeluarga merasa sangat panik.

Ibu mertua bahkan mengajak ayah mertua yang sudah renta naik ke gunung menangkap ayam hutan untuk menambah asupan giziku.

Aku sempat mengira, setelah memakannya kondisiku akan membaik.

Namun, siapa sangka, setelah menyantap ayam hutan itu, rasa sakitnya justru membuatku berguling ke sana kemari sepanjang malam.

Putraku menangis kencang di sampingku karena kelaparan, sementara aku tidak bisa mengeluarkan setetes ASI pun.

Membiarkan anakku terus kelaparan jelas bukan sebuah pilihan.

Aku kebingungan dan terus mondar-mandir di dalam rumah, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengambil telepon rumah dan menghubungi Dokter Nina di puskesmas desa.

Dokter Nina adalah seorang wanita tua berusia hampir 70 tahun yang terkenal sebagai dokter hebat dengan kemampuan medis tinggi dan hati yang sangat baik.

Bu Nina mengangkat teleponku dan setelah mendengar penjelasan mengenai kondisiku, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke rumah guna memberikan penanganan.

Aku merasa sangat berterima kasih, lalu segera mendekap putraku yang tak henti menangis sambil menunggu kedatangannya.

Entah sudah berapa lama berlalu, aku menahan cemas, takut nenek itu kenapa-kenapa karena usianya sudah tua dan harus berjalan sendirian di malam hari.

Baru saja aku hendak menggendong putraku keluar untuk memeriksa keadaan, tak disangka pintu rumah tiba-tiba terbuka.

Sorot senter yang menyilaukan langsung mengarah ke wajahku. Mataku sampai berkunang-kunang, aku refleks mundur beberapa langkah, lalu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai.

Kaos dalam katun yang kupakai tergulung dan tertekan di bawah pantatku, kerahnya tertarik lebar, membuat dadaku terasa dingin tersapu udara.

Begitu aku melihat ke arah pintu, aku nyaris menjerit karena ketakutan.

"Kok malah laki-laki!"

"Bu Nina mana?"

Aku mendekap anakku dengan panik sambil berusaha menutupi tubuhku, air mata hampir saja tumpah karena rasa cemas yang memuncak.

Laki-laki itu segera memejamkan mata rapat-rapat dan mengibaskan tangan, "Jangan takut, aku cucunya Bu Nina. Aku baru lulus dari fakultas kedokteran di kota. Kaki Nenek lagi sakit dan susah jalan, jadi dia menyuruhku kemari untuk memeriksamu."

Mendengar penjelasannya, aku merasa sedikit lebih tenang.

Tapi, ini urusan perempuan, mana pantas diperiksa dokter laki-laki.

Mau ditaruh di mana mukaku kalau sampai orang-orang tahu.

Seolah mengerti kekhawatiranku, laki-laki itu menunjukkan wajah yang sangat tulus, "Di mata dokter nggak ada perbedaan jenis kelamin. Aku cuma datang buat bantu mengatasi penyumbatan ASI kamu, kalau nggak, anakmu nggak bakal bisa minum susu dalam waktu dekat."

Melihat putraku yang sudah lemas karena terlalu banyak menangis, aku mengatupkan bibir rapat-rapat, lalu setelah ragu sejenak, aku akhirnya mempersilakan laki-laki itu masuk ke dalam rumah.

Di bawah sorot lampu, aku baru bisa melihat sosoknya dengan jelas. Wajahnya tampan dan bersih, tubuhnya tinggi ramping, serta mengenakan kacamata yang membuatnya tampak seperti orang terpelajar yang sopan.

Mengikuti arahannya, aku membaringkan anakku lalu aku sendiri merebahkan diri di atas ranjang kayu.

Detik berikutnya, laki-laki itu mengulurkan tangan dan perlahan mengangkat kaos dalam yang kukenakan, hingga menyembul keluar sepasang payudaraku yang memerah dan membengkak karena bendungan ASI.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status