Share

Bab 4

Author: Liam
Tak butuh waktu lama, laki-laki yang sudah kukenal itu tiba di rumahku.

Aku sudah lebih dulu menutup rapat tirai jendela, melepas pakaian, lalu berbaring di atas ranjang kayu sambil menunggunya datang.

Tirai tertutup rapat, tak membiarkan setitik pun cahaya matahari menyelinap masuk.

Ruangan menjadi remang, ditambah hanya ada kami berdua di sana, membuat atmosfer secara otomatis berubah menjadi menggoda.

Aku mengatupkan bibir sambil menatap laki-laki yang kini duduk di hadapanku.

Wajahnya yang tampan dan bersih berada sangat dekat, tatapannya begitu fokus, bahkan lensa kacamatanya yang bening memantulkan kilatan cahaya yang terasa berbeda.

Karena sebelumnya sudah pernah bersentuhan sedekat itu, kali ini aku jauh lebih berani.

Aku mengerang manja, mengikuti gerakan tangannya dengan meliukkan pinggang dan sesekali mengangkat punggungku yang gemetar.

Air mata yang muncul karena reflek tubuh perlahan menggenang di pelupuk mataku.

Aku menggigit bibir sambil mengeluarkan rintihan-rintihan kecil dari mulutku.

"Tubuh kamu sudah jauh lebih rileks, suaranya juga lebih enak didengar."

"Suamimu nggak pernah ada di rumah?"

"Kamu pasti kesepian banget, ya."

Kata-katanya bagai kerikil kecil yang dilempar ke permukaan danau yang tenang, memercikkan riak-riak, lalu menyisakan gelombang hasrat yang menyebar pelan.

Jantungku berdegup kencang mendengar ucapannya, napasku pun terasa makin sesak tidak beraturan.

Suhu di sekitar kami meningkat dengan cepat, keintiman dalam udara seolah berkembang biak dan terasa lengket menyelimuti kulit.

Keringat membasahi kepalaku. Ketika aku mengangkat pandanganku, aku melihat wajah pria itu pun memerah, seolah reaksiku membuatnya ikut tergoda.

Aku jadi agak malu.

Tapi saat membayangkan laki-laki yang tampak sopan dan terpelajar ini bisa sampai hilang kendali karenaku ....

Rasanya ternyata cukup menyenangkan juga.

"Suamiku pergi kerja ke kota. Katanya setahun pun belum tentu bisa pulang sekali. Aku cuma tahu tiap bulan dia kirim sedikit uang."

Aku menjawabnya, sementara tubuhku ikut bergetar dan suaraku melembut sampai terdengar rapuh.

Segera setelah itu, tangan laki-laki itu perlahan mulai bergeser turun dari dadaku.

Aku menelan ludah dengan susah payah.

Dia menatapku dengan sorot mata yang tampak berkilau penuh gairah, tatapan basah yang sanggup meluluhkan hati siapa pun yang melihatnya.

"Boleh nggak?"

Pertanyaannya menyusup tanpa suara ke telingaku, selembut belaian yang mengusap gendang telinga, pelan-pelan menggoda tanpa henti.

Bibir merahku sedikit terbuka, aku mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi laki-laki itu, "Di kondisi begini kamu masih tanya boleh nggak?"

"Bukannya harusnya kamu lanjut saja?"

Aku terengah pelan.

Ekspresi kegembiraan terpancar di wajah laki-laki itu.

Tepat saat aku mengira keinginanku akan segera terpenuhi.

Pintu rumah yang tertutup rapat tiba-tiba didorong terbuka dari luar.

Suamiku berdiri di ambang pintu dengan membawa banyak barang, menatap kami berdua, lalu terpaku membeku di tempat.

Seketika itu juga, meledaklah teriakan histeris yang memekakkan telinga.

Dia mengamuk, mempertanyakan apa yang sedang kulakukan.

Aku dalam keadaan tanpa busana berada di dalam satu ruangan dengan laki-laki muda yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Pemandangan itu cukup untuk membuat suamiku ingin membunuhku.

Keributan itu begitu keras sampai mertuaku ikut tahu dan buru-buru datang, lalu mencoba menjelaskan pada suamiku.

Karena sudah berhari-hari membujukku dan tidak melihat laki-laki ini datang lagi, mereka akhirnya benar-benar percaya bahwa aku tidak bersalah.

Mendengar penjelasan dari orang tua kandungnya sendiri, suamiku akhirnya luluh dan percaya.

Tapi, sesi pijat ini belum berakhir.

Setelah mertuaku pergi, demi berjaga-jaga suamiku memeluk anak kami lalu berbaring di ranjang kayu, katanya ingin mengawasiku.

Namun, belum lewat beberapa menit, suara dengkurannya yang keras mulai menggelegar.

Aku menatap mata laki-laki itu, seluruh tubuhku terasa panas membara yang tak tertahankan, seolah ada ribuan semut yang sedang menggerogoti kulitku.

Aku bergerak gelisah.

Tekanan tangannya menguat, lalu perlahan turun ke arah pahaku. Di bawah tatapanku yang memohon, dia pelan-pelan merenggangkan kedua kakiku, memperlihatkan keindahan yang tersembunyi di dalam sana ....
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tukang Pijat Desa   Bab 9

    "Apa?"Laki-laki itu jelas tersentak kaget mendengar ucapanku.Aku mengulanginya lagi.Laki-laki itu menelan ludah, lalu tiba-tiba dia langsung memanggul tubuhku dan membawaku masuk ke dalam puskesmas yang sedang sepi.Ranjang besi di sana berderit kencang. Aku mencengkeram jeruji pembatasnya erat-erat, dan entah kenapa, dadaku terasa lega bukan main.Laki-laki muda yang tampan ini, yang seribu kali lipat lebih baik dari Fikri, sedang berada di atas tubuhku dan berusaha keras memuaskanku.Teknik pijatannya yang ahli hampir seketika membuatku merasa melayang ke langit ke tujuh.Kami benar-benar bercumbu dengan liar di dalam puskesmas itu.Pakaian berserakan di lantai.Aku benar-benar takjub dengan permainan laki-laki dari kota besar ini, sampai rasanya aku rela mati di pelukannya.Aku sendiri tidak tahu pasti. Apa saat ini aku memang tertarik pada laki-laki ini, atau hanya murni ingin balas dendam pada Fikri agar dia juga merasakan pahitnya dikhianati.Sebuah rasa pahit yang menyesakkan

  • Tukang Pijat Desa   Bab 8

    Bayangan dua orang terpantul jelas di balik tirai putih itu.Jendela terbuka lebar, tirai yang basah terkena hujan berkibar tertiup angin.Jantungku seketika terasa berhenti berdetak.Aku terus meyakinkan diri bahwa ini tidak mungkin terjadi.Tapi tetap saja, tanpa ragu sedikit pun, aku langsung mendorong pintu depan tempat itu dengan keras.Detik saat aku muncul, semua orang di sana terpaku di tempatnya.Mereka menatapku, melihat tubuhku yang kotor dan pakaian compang-camping yang basah kuyup menempel di kulit, juga rambut panjangku yang berantakan seperti rumput kering menutupi wajah.Tanpa perlu berpikir pun aku sudah tahu.Saat ini, wujudku pasti seperti hantu penasaran."Siapa sih ini?""Kok bisa ada orang kayak gini masuk ke tempat kita?""Bau banget badannya.""Cepat usir dia!"Orang-orang berteriak histeris, tatapan jijik mereka yang terang-terangan menghujam tubuhku dan membakar setiap inci kulitku.Mereka berseru agar tikus got sepertiku ini segera dibuang keluar.Ada yang ma

  • Tukang Pijat Desa   Bab 7

    Di luar tiba-tiba turun hujan sangat lebat, aku tidak membawa payung dan hanya bisa berdiri di bawah langkan atap dengan bingung.Hujan deras itu menghantam genangan air dengan suara berisik hingga menciptakan kabut tipis.Aku tidak tahu kapan hujan ini akan berhenti.Tapi, apa suamiku tidak terjebak di tengah jalan?Itu terlalu berbahaya.Tidak bisa, aku harus mencarinya.Memikirkan hal itu, aku mencengkeram kertas di tanganku lebih kuat.Menantang hujan, aku mengetuk jendela pos satpam dan menanyakan letak tempat itu dengan jelas. Di bawah tatapan sayu penuh iba dari bapak satpam, aku nekat menerobos derasnya badai.Tidak lama kemudian seluruh tubuhku sudah basah kuyup, air hujan menutupi wajahku dan mengaburkan pandangan.Aku mengusap wajahku asal, lalu memanggil nama suamiku dalam gelap malam.Lampu jalan yang jarang-jarang memancarkan cahaya remang, membuat bayangan orang di atas air terlihat sangat panjang.Kilat menyambar membelah langit malam yang sunyi, disusul suara guntur ya

  • Tukang Pijat Desa   Bab 6

    Aku menitipkan putraku sementara kepada mertua sambil memberikan beberapa pesan, lalu segera mengemas barang-barang dan naik ke traktor Paman Adit di ujung desa untuk berangkat ke kota.Suara mesin traktor yang menderu-deru membuat kepalaku pening, tapi hatiku justru terasa sangat hangat.Sinar matahari jatuh di tubuhku, aku bersandar puas pada tumpukan jerami yang empuk.Paman Adit melirikku lewat kaca spion, lalu menggoda, "Kalian berdua mesra banget.""Bikin orang iri saja.""Nggak kayak anakku. Anakku di rumah irit mati-matian nunggu suaminya cari duit di kota, eh pas udah punya uang malah tidur sama perempuan lain."Ucapannya membuat jantungku seperti jatuh.Aku mengatupkan bibir, rasa khawatir langsung menyusup.Bagaimana kalau suamiku juga begitu, setelah punya uang malah meninggalkan aku dan anakku?Seolah dalam sekejap hatiku tercebur ke dalam jurang dingin. Kegelisahan menyerbu, aku mencengkeram ujung bajuku erat-erat.Kalau dia benar-benar sukses, apa dia masih mau punya aku

  • Tukang Pijat Desa   Bab 5

    Suamiku tidur tepat di sampingku, tapi aku justru melakukan hal seperti ini dengan pria lain.Sebagai seorang istri, sekaligus seorang ibu.Gelombang gelisah dan rasa bersalah menghantam dadaku. Aku mendadak mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan pria itu.Dia menatapku dengan heran, "Kenapa?"Aku membuka mulut, tapi cukup lama tidak ada satu kata pun yang keluar. Jantungku terasa seperti dilempar ke atas penggorengan, dipanggang berkali-kali, terus merasa bimbang dan tersiksa.Belum sempat aku bicara, laki-laki itu menarik tangannya dengan lesu, dia sepertinya sudah paham apa yang aku pikirkan.Dia mengatupkan bibir dengan kecewa, lalu tersenyum yang sedikit dipaksakan ke arahku."Nggak apa-apa, aku tahu kekhawatiranmu, aku paham kok.""Gimanapun juga kamu udah nikah dan punya anak ...."Laki-laki itu berucap dengan suara yang makin mengecil dan terdengar tidak yakin.Aku bahkan merasa seolah-olah dia sedang tidak bicara padaku, melainkan sedang bergumam pada dirinya s

  • Tukang Pijat Desa   Bab 4

    Tak butuh waktu lama, laki-laki yang sudah kukenal itu tiba di rumahku.Aku sudah lebih dulu menutup rapat tirai jendela, melepas pakaian, lalu berbaring di atas ranjang kayu sambil menunggunya datang.Tirai tertutup rapat, tak membiarkan setitik pun cahaya matahari menyelinap masuk.Ruangan menjadi remang, ditambah hanya ada kami berdua di sana, membuat atmosfer secara otomatis berubah menjadi menggoda.Aku mengatupkan bibir sambil menatap laki-laki yang kini duduk di hadapanku.Wajahnya yang tampan dan bersih berada sangat dekat, tatapannya begitu fokus, bahkan lensa kacamatanya yang bening memantulkan kilatan cahaya yang terasa berbeda.Karena sebelumnya sudah pernah bersentuhan sedekat itu, kali ini aku jauh lebih berani.Aku mengerang manja, mengikuti gerakan tangannya dengan meliukkan pinggang dan sesekali mengangkat punggungku yang gemetar.Air mata yang muncul karena reflek tubuh perlahan menggenang di pelupuk mataku.Aku menggigit bibir sambil mengeluarkan rintihan-rintihan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status