Isabella menarik lengan Aldrich dan diajaknya sang suami ke dalam ruangan kerjanya. Di sana Isabella membuka laci, menunjukkan banyak surat-surat yang dikirim oleh kakeknya selama ini. "Mungkin karena itu dia marah," ujar Isabella. Aldrich menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekecewaan yang terpancar, tapi di satu sisi ia mencoba untuk memaklumi. Isabella pasti sungkan, bila menuruti keserakahan kakeknya dan mengatakan pada Aldrich secara terang menerang. "Maafkan aku..." Belum sempat Aldrich bertanya, Isabella sudah lebih dulu meminta maaf padanya karena tidak mengatakan ini sejak awal."Kalau kau tidak menyembunyikan semua ini dariku, nanti masalah ini sudah selesai," ujar Aldrich, suaranya tetap lembut tidak mengandung kemarahan sama sekali. Aldrich tahu, kondisi Isabella saat ini benar-benar rapuh dan hancur. Bila ia sedikit saja menaikkan ego dan emosinya, segalanya dalam diri Isabella ikut hancur. Aldrich mendekati sang istri dan memeluknya. Ia mengaj
Last Updated : 2026-06-05 Read more