Satu minggu kemudian,Isabella menikmati sarapannya tanpa nikmat. Sejak lima menit di meja makan, hanya dua potong daging yang masuk ke dalam mulutnya. Pikirannya saling beradu. Di hadapannya, Aldrich menatap istrinya yang masih tidak selera makan. "Hari ini aku punya banyak waktu luang. Apa kau ingin jalan-jalan, Sayang?" Aldrich menatap Isabella. Isabella meletakkan sendok dan garpunya. Membalas tatapan Aldrich tanpa riak di sepasang matanya. "Aku dengar dari Marmara, kau juga menolak untuk lanjut berobat." Aldrich kembali berkata. "Tetapi, Marmara bilang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Sayang." "Em." Isabella hanya bergumam. Sendok dan garpu yang dia pegang pun diletakkan di atas piring. Isabella menatap Aldrich yang kini memandangnya. "Aku ingin pergi ke rumah Nenek," ujar Isabella sambil tertunduk. "Kalau begitu kita pergi bersama." Aldrich memutuskan. "Aku bisa ke sana sendiri, Al." Baru pertama kali ini sabella menolak penawaran Aldrich. Pria itu lantas
Read more