MasukAku hanya ingin membalas pengkhianatan suamiku yang pulang membawa wanita hamil dengan cara yang setara: menikah lagi dengan pria asing yang kusewa sebagai suami kedua. Kupikir itu hanya skandal kecil untuk melukai harga dirinya. Tapi yang tak pernah kuduga, pria yang kini berbagi ranjang denganku ternyata adalah…
Lihat lebih banyak“Lihatlah wanita gila itu! Di hari ulang tahun suaminya, dia muncul bersama pria lain. Sungguh, wanita yang memalukan!”
Isabella menanggapi olokan para tamu pesta itu dengan santai. Ia telah terbiasa dengan semua ocehan orang-orang di sekitarnya. Bahkan pria tampan yang berjalan di sampingnya juga mengacuhkan ocehan itu. Isabella Marionette, adalah seorang istri pebisnis nomor satu di Kota Salatine. Pamornya menjadi istri seorang Marquess Caspian Roswell hancur berkeping-keping saat wanita itu beberapa kali menampakkan dirinya bersama pria lain di pesta para bangsawan maupun di tempat umum. Akan tetapi itu semua, bukan tanpa alasan. “Apakah Anda tidak keberatan dengan olokan mereka, Nyonya?” tanya Aldrich Costantine—pria tampan berambut hitam yang menggandengnya dengan mesra. Senyum Isabella terbit dengan manis. “Tidak sama sekali. Ayo, kita temui suamiku dan istri keduanya yang menyedihkan itu!” Mereka berdua melewati para tamu yang memperhatikannya dengan tatapan jijik dan aneh. Tepat di depan sana, seorang pria tampan berambut cokelat dengan setelan tuxedo hitam mengepalkan kedua tangannya kuat saat melihat istrinya datang bersama pria lain di ulang tahunnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang berusia lima tahun lebih muda darinya. Memeluk lengannya dengan mesra, seakan-akan dialah istri pertama. Caspian Roswell melotot lebar. “Apa-apaan kau, Isabella?!” Isabella yang sudah berdiri di hadapannya hanya tersenyum tipis. “Apa?” Wanita itu terkekeh penuh ejek. “Maksudmu, pria tampan di sebelahku ini?” Caspian mengepalkan kedua tangannya. “Berani-beraninya kau membawa pria simpananmu ke pestaku! Kau lupa kalau kau adalah Nyonya di rumah ini dan kau adalah istriku?!” Pandangan Isabella terlempar pada sosok wanita di samping Caspian yang tengah bergelayut manja padanya. Wajahnya yang lugu dan mulus mempercantik tampilannya di luar, tapi tidak dengan kelakuannya yang tak jauh berbeda dari ular berbisa. “Dulu, aku memang istrimu, Caspian. Tapi, kini status itu tidak penting lagi bagiku,” kata Isabella tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita di samping suaminya itu. Isabella tersenyum miris pada suaminya yang melotot padanya. “Kaulah, yang memulai api ini dan membuatku terlihat jahat di mata semua orang. Semuanya, karena dirimu, Caspian!” ***** Dua minggu yang lalu.... “Aku akan menikahi Natalie dalam waktu dekat secara tertutup. Dia juga tinggal bersama kita. Karena saat ini, Natalie sedang hamil anakku.” Sekujur tubuh Isabella menegang seperti disambar petir saat mendengar ucapan suaminya. Wanita bertubuh kurus berusia dua puluh lima tahun itu tetap diam membeku. Isabella, dulunya adalah istri yang hangat dan perhatian. Namun, sikapnya berubah dingin dan tak acuh semenjak ia sadar bahwa selama beberapa tahun menikah, suaminya tidak pernah mencintainya dan memperhatikannya. Yang paling menyakitkan, setelah ia mengetahui bahwa suaminya memiliki wanita lain yang lebih dia sayangi dibandingkan istrinya sendiri. Isabella menatap lurus dan tajam ke arah sosok gadis muda berwajah polos dan lugu yang berdiri di belakang suaminya, gadis itu adalah Natalie Balvere—calon istri kedua Caspian. Gadis muda, anak Baron miskin yang membuat suaminya tergila-gila karena kecantikannya. “Kau, mengajak kekasih gelapmu ini tinggal di sini? Bersamaku?” Suara dingin Isabella memekakkan telinga. Gadis di belakang Caspian itu menatap takut dan gugup pada Isabella. Wajahnya yang lugu dan polos, membuat Isabella penasaran. Natalie sedikit menampakkan dirinya dan tersenyum manis. “Nyonya Marchioness, sebenarnya saya yang meminta pada Tuan Marquess untuk tinggal di sini. Semoga kedepannya, kita bisa kenal baik dan akrab setelah tinggal satu rumah bersama.” Dengan bangganya gadis itu mengatakannya. “Aku tidak gampang akrab dengan orang lain. Apalagi dengan wanita pendatang baru!” “Kau harus bisa menerima kedatangan Natalie di rumah kita dan jangan menindasnya, dia sedang hamil anakku.” Caspian menyahuti dengan nada tak terima. Dahi Isabella mengernyit, parasnya masih tampak tenang meskipun hatinya sangat panas seperti air yang mendidih. “Satu hal yang perlu kau tahu, Marquess Roswell. Anak yang terlahir dari istri barumu, suatu saat nanti dia tidak akan bisa mendapatkan warisan apapun darimu.” “Aku tidak peduli.” Caspian tersenyum miring menunjukkan kesombongannya. “Dia lebih baik daripada kau yang tidak becus memberikanku keturunan. Kau selalu keguguran, sampai dokter mengatakan kau tidak bisa punya anak lagi.” “Ouh benarkah? Ya ampun, Nyonya Marchioness, kasihan sekali.” Natalie menyahuti dengan wajah polos dan ekspresi terkejut. Nadanya yang terdengar iba sekaligus mencemooh di saat yang bersamaan. Caspian berjalan mendekati Isabella, berdiri menjulang di hadapannya dan menatapnya dengan begitu rendah. “Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari seorang istri yang mandul sepertimu!” Pandangan Isabella terpinga-pinga, tanpa menunjukkan rasa sedih yang mendalam di hatinya. “Kau mengkhianati perjodohan keluarga kita, Caspian.” “Pernikahan kita sebatas formalitas bisnis keluarga. Aku tidak pernah mencintaimu. Apalagi sekarang kau sudah mandul. Sama saja kau menjadi wanita yang tidak berguna!” Isabella terjengit seperti dicambuk oleh sambaran petir. Hatinya tersayar oleh kata rendahan yang terlontar dari bibir suaminya. Akan tetapi, Isabella tetap tidak berkomentar. Ia berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya untuk pria ini. Caspian menoleh pada Natalie. “Ayo, Natalie. Kita pergi ke kamarku.” Gadis muda itu tersenyum manis dan mengangguk. Isabella terlampau muak. Ia langsung membalikkan badannya dan enggan menatap kepergian mereka. Selama tiga tahun mereka menikah dalam perjodohan. Dua perusahaan raksasa otomotif yang berkembang di bawah kekuasaan Kerajaan Salatine, bersatu menjadi perusahaan raksasa di benua barat setelah bersatunya dua cucu pewaris melalui ikatan tali pernikahan, yaitu pernikahan Caspian dan Isabella. Jelas-jelas Isabella tidak bisa bercerai begitu saja dengan Caspian. Ia memikirkan nasib perusahaan milik sang kakek yang kini dikendalikan oleh Caspian, karena keluarga Marionette yang tidak memiliki penerus laki-laki, sangat mempercayai cucu menantunya. Akan tetapi, kepercayaan itu sirna di belakang mereka. “Seandainya pernikahan ini tidak mempertaruhkan bisnis milik sang kakek, aku sudah menceraikanmu sejak dulu!” Air mata Isabella yang ditahannya sejak tadi, akhirnya menetes tetapi ia menyekanya cepat. Isabella meremas rok gaun yang ia pakai dengan wajah mengeras dan marah. Kesabarannya kini telah habis. “Tunggu pembalasanku, Caspian....” Isabella menoleh pada Jestin—ajudan setianya yang berdiri di dekat pintu, siap menerima perintah dari Isabella. “Jestin!" “Apa yang bisa saya bantu, Nyonya?” tawar pria bertubuh tinggi besar itu. Isabella yang kini berdiri anggun, meliriknya dengan beku. “Carikan aku seorang pria bayaran yang tampan dan berbadan gagah. Yang bisa aku gunakan ... sebagai calon suami kedua!”"Kenapa belum tidur juga? Apa kau belum mengantuk, Isabel?" Aldrich memeluk tubuh Isabella dari belakang saat istrinya berbaring menatap jendela kamar yang belum ditutup. Terasa wajah Aldrich yang tenggelam dalam ceruk leher Isabella, rengkuhan tangannya yang kekar melilit perut Isabella dengan posesif. "Aku belum mengantuk," jawab Isabella mengulurkan tangannya ke belakang mengusap kepala Aldrich. "Tidurlah, ini sudah malam," bisik Aldrich. Isabella membalikkan badannya menatap Aldrich yang diam menatapnya juga tanpa berkedip. Isabella menangkup kedua pipinya lalu mengecup singkat bibir pria itu. "Terima kasih sudah mengizinkanku tinggal di rumah Nenek walaupun hanya beberapa hari saja," ujar Isabella pada sang suami. "Hem. Sama-sama Sayang." Aldrich menatapnya dalam dan hangat. Dalam tatapan matanya seperti ada kerinduan yang dalam dan begitu jauh yang tidak bisa diungkapkan dari kata-kata. Selama hampir satu bulan pasca Isabella keguguran, Aldrich tidak pernah menyentuhnya
Ini baru pertama kalinya Isabella menginap di kediaman Nenek Aldrich. Suasana di tempat itu, sunyi dan terasa jauh lebih tenang saat malam hari.Di ruang makan hanya ada Ratu Meleka bersama Aldrich dan Isabella. Menu makan malam kali ini lebih banyak dari biasanya. Ratu Meleka diam-diam juga peduli pada kesehatan Isabella dan memilih untuk memasak makanan kesukaan cucu menantunya. "Makan yang banyak, Isabella. Tidak usah sungkan-sungkan." Ratu Meleka sejak tadi memperhatikannya. "Iya, Nek." Isabella tampak menikmati menu makan malam yang disajikan. Baru kali ini ia memakan olahan daging rusa yang diasap, dagingnya lembut, gurih.Aldrich ikut memperhatikan istrinya tersebut. Isabella makan lebih banyak dari biasanya, dibandingkan saat ia berada di rumah—Isabella lebih lahap makan saat berada di sini. "Apakah di istana tidak pernah memasak daging rusa, Aldrich?" tanya Ratu Meleka pada cucunya. "Tentu saja pernah, Nek." Aldrich menjawab. "Tapi sepertinya koki di tempat Nenek memang
Isabella dan Aldrich tiba di kediaman Ratu Meleka—Nenek Aldrich. Setelah kabar simpang siur tentang Isabella hampir menyebar, sebagai keluarga utama kerajaan Helenster, Ratu Meleka pun mengetahuinya.Wanita yang sudah tua itu awalnya sangat menyayangi Isabella. Namun setelah kabar beredar, Isabella tidak tahu bagaimana sikap Ratu Meleka, apakah masih sama, atau akan berubah sebaliknya. Saat Isabella dan Aldrich turun dari kereta kuda, lalu mereka disambut oleh pelayan utama di rumah itu. Mereka dipersilakan masuk. "Ternyata kalian." Ratu Meleka menyapa Aldrich dan Isabella. Cucu dan cucu menantunya pun memberi hormat padanya. Ratu Meleka memperhatikan Isabella dengan mata datar. "Masih punya wajah untuk keluar, Isabella?" tanyanya. Isabella mengangkat pandang pada wanita tua yang duduk di depannya. Isabella kembali tertunduk. "Kau menampar seseorang di pesta di depan semua orang, itu bukan perbuatan yang pantas dilakukan oleh seorang keluarga kerajaan!" omel Ratu Meleka pada Isa
Satu minggu kemudian,Isabella menikmati sarapannya tanpa nikmat. Sejak lima menit di meja makan, hanya dua potong daging yang masuk ke dalam mulutnya. Pikirannya saling beradu. Di hadapannya, Aldrich menatap istrinya yang masih tidak selera makan. "Hari ini aku punya banyak waktu luang. Apa kau ingin jalan-jalan, Sayang?" Aldrich menatap Isabella. Isabella meletakkan sendok dan garpunya. Membalas tatapan Aldrich tanpa riak di sepasang matanya. "Aku dengar dari Marmara, kau juga menolak untuk lanjut berobat." Aldrich kembali berkata. "Tetapi, Marmara bilang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Sayang." "Em." Isabella hanya bergumam. Sendok dan garpu yang dia pegang pun diletakkan di atas piring. Isabella menatap Aldrich yang kini memandangnya. "Aku ingin pergi ke rumah Nenek," ujar Isabella sambil tertunduk. "Kalau begitu kita pergi bersama." Aldrich memutuskan. "Aku bisa ke sana sendiri, Al." Baru pertama kali ini sabella menolak penawaran Aldrich. Pria itu lantas
Empat jam Aldrich menenangkan Isabella sampai istrinya tertidur. Aldrich membaringkan Isabella di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan hangat. Aldrich menatap wajah Isabella, mengusapnya lembut. Hatinya perih saat mendengar ungkapan Isabella. Wanita itu terus bertanya di mana letak kesalah
Isabella bersembunyi di taman, di balik semak-semak tanaman bunga mawar. Ia menangis memegangi dadanya yang terasa penuh dan sesak. Isak tangisnya bisa saja terdengar oleh orang-orang di sekitar sana. Ia duduk di atas rumput karena kakinya tersandung hingga ia terjatuh di sana. "Padahal aku menga
Tamparan keras yang Isabella berikan pada Viviene berhasil menyita perhatian semua orang. Para bangsawan-bangsawan lain melotot ke arah Isabella. "Grand Duchess, apa yang Anda lakukan?!" teriak Lady Margareta, sahabat baik Viviene. Napas Isabella naik turun menatap Viviene yang diam memegangi pip
Surat dari Salatine masih terus berdatangan. Isabella padahal sudah meminta pada Aldrich agar mencari cara untuk tidak menerima surat-surat itu lagi. Akan tetapi hari ini yang dikirim adalah surat dengan sampul berwarna merah cerah. Berbeda dengan biasanya. Isabella penasaran, ia membuka isi sura






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan