Mag-log inAku hanya ingin membalas pengkhianatan suamiku yang pulang membawa wanita hamil dengan cara yang setara: menikah lagi dengan pria asing yang kusewa sebagai suami kedua. Kupikir itu hanya skandal kecil untuk melukai harga dirinya. Tapi yang tak pernah kuduga, pria yang kini berbagi ranjang denganku ternyata adalah…
view moreIsabella tidak mengerti mengapa Aldrich melarang ibunya untuk mengundang wanita bernama Viviene. Isabella hanya bisa diam menahan rasa penasaran sebelum ia mencari tahu. Di dalam ruang keluarga, Isabella membantu Ratu Lovita menyiapkan beberapa catatan keperluan pesta. Mereka mencatat segala hal yang dibutuhkan, dari hidangan, waktu pesta, hingga hal paling dasar sekalipun. "Ibu, apa Kak Viviene tidak jadi diundang?" tanya Harriet menatap ibunya. Ratu Lovita tersenyum manis. "Tentu saja kita undang, Sayang. Bagaimanapun juga, dia termasuk bangsawan di daerah kita." Isabella menatap ibu mertuanya itu dengan penuh rasa penasaran. "Siapa Viviene itu, Bu?" tanya Isabella. "Kak Viviene itu kemarin-kemarin mau menjadi Kakak iparnya Harriet," jawab Harriet dengan polos. Ratu sontak membungkam mulut Harriet seketika dan melotot pada putrinya sebelum menoleh pada Isabella dengan tatapan lembut. "Harriet itu putri dari negara tetangga, tapi dia berada di sini karena menemani Nen
Aldrich kembali menutup dan mengunci pintu kamar, pria itu merangkul Isabella dan kembali diajaknya untuk istirahat. Isabella berbaring di sampingnya, tapi ia menjadikan dada Aldrich yang bidang sebagai bantalnya. "Bagaimana bisa Harriet sampai mendengar kita," cicit Isabella. "Biarkan saja. Toh dia juga tidak mengerti." Aldrich mengelus rambut Isabella dan mengecup pipi wanita itu. "Tapi aku malu." Melihat ekspresi Isabella yang seperti itu, lantas Aldrich dengan cepat mengubah posisinya menjadi mengurung tubuh Isabella. Satu-satunya hal yang paling Aldrich sukai adalah menggoda Isabella, bahkan bila sampai membuat wanita itu menangis merengek karenanya. "Jangan minta lagi, kita baru saja melakukannya beberapa menit yang lalu." Isabella memalingkan wajahnya. "Tapi kan tidak seru, Harriet merusak suasana." "Merusak bagaimana? Dia datang di saat kita sudah melakukannya kok." Isabella berusaha untuk menahan bahu Aldrich. Pria itu ingih tahu respon Isabella. Aldrich m
Setelah berpelukan hangat, Aldrich mencumbu Isabella dengan mesra. Mencecap setiap rasa yang ada, meninggalkan jejak dan tanda di leher dan kulit manapun yang bisa ia jangkau. Isabella menggeliat merasakan sensasi yang membuatnya mabuk kepayang. "Emmhhh, Sayang jangan tinggalkan jejak lagi—!" Isabella meramas rambut hitam Aldrich begitu suaminya itu mendaratkan bibirnya di atas adalah satu dia asetnya yang menyembul indah. Layaknya bayi yang berjam-jam kepalaran, Aldrich sungguh tak membuang waktu sedikitpun. Hingga Isabella yang sejak tadi melenguh berkali-kali, ia mendesah pelan saat merasakan jemari tangan Aldrich sudah sampai ke bawah sana dan membuka kaki Isabella perlahan-lahan. "nghhh—!" Isabella merengkuh erat punggung Aldrich begitu tubuh mereka menyatu dengan erat. Rasa lega menjalar di hati Isabella saat bagiannya yang semua terasa hampa dan kaku, kini kembali terisi oleh sesuatu yang seolah dirindukan oleh bagiannya. "Tunggu," lirih Isabella menahan punggu
Isabella dan Aldrich melakukan perjalanan menuju ke kediaman sang Nenek—Ibu dari Raja Edward yang saat ini tinggal di kediaman mewah di dekat pegunungan terdekat. Sepanjang perjalanan, Isabella menikmati pemandangan yang indah dan juga jalan yang sunyi dan sepi, tenang tanpa berpapasan dengan orang satupun. "Di sini sangat indah, dan juga sunyi," ujar Isabella sambil menatap ke arah jendela kereta kuda. "Hutan dimiliki oleh keluarga kerajaan, termasuk masih masuk di wilayahku. Aku meminta agar tidak ada pemburu yang masuk ke area ini. Karana hutan ini memiliki ekosistem yang bagus, hewan-hewan di sini seperti burung... mereka memiliki banyak jenis yang tidak bisa dijumpai di hutan manapun." "Benarkah?" Isabella terkagum-kagum melihat pemandangan di luar. Aldrich tekekeh. "Pulang nanti, kita bisa berhenti dan aku akan mengajakmu jalan-jalan di dalam hutan." "Apakah aman?" Isabella menatap sang suami. "Tentu saja." Seperti anak kecil yang dijanjikan sebuah hadiah, Isabel
Bagitu Isabella dan Caspian sampai di pesta, semua mata menuju pada mereka. Pasalnya, pasangan ini digadang-gadang memiliki pasangan masing-masing. Caspian meraih tangan Isabella dan melingkarkan tangan wanita itu di lengannya. "Gandeng aku dengan benar, Isabella," perintah Caspian. "Huh, malas!
Embusan napas hangat menerpa tengkuk leher Isabella. Wanita itu membuka sepasang matanya saat menyadari pelukan seseorang semakin erat di perutnya. Isabella teringat bila ia tengah tertidur bersama Aldrich saat ini. Pria itu belum bangun, dia justru memeluk Isabella dengan erat dan hangat. "Aldri
Isabella menunggu Aldrich membersihkan tubuhnya. Wanita itu duduk di atas ranjang, terdiam dan menerka-nerka. Di luar, hujan turun di tengah malam. Udara dingin kian terasa mencekam dirasakan oleh Isabella. Isabella menunduk dan mengusap keningnya. "Pantas saja dia sangat pandai menulis dan menge
Saat pagi tiba, Aldrich dan Isabella bersiap untuk pergi bersama. Mereka juga mengajak Mrs. Dysen untuk menemani perjalanan mereka. Selama menikah dengan Caspian, Isabella tidak pernah merasakan suasana berbulan madu. Tetapi bersama suami keduanya yang berstatus kontrak itu, justru Isabella diajak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu