Aku menundukkan kepala, hanya bisa mendesah dengan suara yang terputus-putus.Sementara itu, kaki Hardi terus menekan di sela pahaku. Di dalam kantor yang sempit itu, hanya terdengar suara deru napas kami yang berat.Akhirnya, dia pun melepaskan hasratnya.Hardi mencengkeram daguku, memaksaku untuk menatapnya, “Telan!”Aku menggeleng, tapi saat dia beranjak hendak pergi, aku pun ketakutan dan langsung memeluk pinggangnya, lalu dengan susah payah menelan semuanya.Kemudian, Hardi mengangkatku ke atas meja kerja. Dengan kertas gambar sebagai alas pinggangku.Dia membuka kakiku, merobek satu-satunya penutup yang tersisa di dadaku. Lalu membenamkan wajahnya di sana, sambil menarik napas dalam-dalam.“Bu Sri, dengan tubuhmu seperti ini, bagaimana suamimu bisa menahan diri?”Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa menggeleng pasrah, meresponnya dengan gerakan yang lebih intens.“Masuklah.”Hardi terkekeh sinis, “Masuk ke mana? Aku nggak mengerti. Bu Sri, coba ajari aku lagi.”Tatap
Baca selengkapnya