Share

Bab 2

Penulis: Husky
Terhalang selapis kain tipis, ujung tajam piala itu seolah menggores area sensitifku secara samar-samar.

Aku tak bisa menahan dan mendesah dua kali.

Begitu menyadari bahwa ini di kamar mandi umum dan siapapun bisa masuk kapan saja, aku segera menutup mulutku dengan tangan.

Rupanya, tindakan itu membuatnya agak kesal. Dia menarik tanganku dengan kasar dan meletakkannya di pinggangnya sendiri.

“Bu Sri, kalau kamu begini terus, aku nggak bisa memulai materi pelajaranku.”

Aku menggigit bibir, “Ayah Hansen, kamu nggak takut kalau….”

“Bu Sri, lebih baik kamu cemaskan dirimu sendiri!”

Dia membuang piala itu ke samping dengan asal-asalan, lalu berjongkok dan tanpa ragu melepaskan pakaian dalamku.

“Bu Sri, karena kamu nggak bisa menjaga mulutmu, biar aku yang mendidik kamu baik-baik!”

Sambil berbicara, dia langsung mengulurkan tangan ke dalam.

Meski gerakan ini sudah berulang kali dia lakukan, kali ini temponya jauh lebih cepat dan dalam.

Aku tersentak hingga pinggangku terangkat, tapi dia mencengkeramku dengan kuat.

“Bu Sri, pinggangmu ramping sekali!”

Aku menggeleng, tapi gerakan tangannya malah semakin berat.

Dia memaksa kakiku terbuka dan merobek rokku.

“Sreeet….”

Suara rok yang robek itu membuat bulu kudukku berdiri. Aku berusaha menghentikannya, “Jangan… jangan!”

Hardi menyeringai jahat. Dia membuka paksa kemejaku dan memegang buah dadaku yang terasa panas.

“Bagaimana? Bisa beradaptasi?”

Beberapa kali sebelumnya, aku biasanya mulai kehilangan kesadaran saat mencapai tahap ini. Tapi sekarang, aku malah mulai mengharapkannya.

Berharap akan langkah yang selanjutnya.

Dia mulai meremas buah dadaku tanpa ampun, beberapa kali memberikan rangsangan.

Tubuhku gemetar hebat, kakiku tanpa sadar melingkari pinggangnya.

Aku bisa merasakan benda miliknya yang tegang, tapi entah mengapa, dia hanya menggunakan tangan atau benda apapun yang bisa digunakan.

Dia menunduk, menggigit bibirnya dan menciumku dengan rakus.

Kedua tangannya bekerja di atas dan di bawah dengan ritme berbeda, hampir membuatku gila.

“Bu Sri, kamu sudah basah kuyup.”

Aku merangkul kepalanya, menyodorkan wajahku dan mendesaknya untuk segera lanjut, “Cepat, lebih cepat….”

“Ceklek….”

Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Terdengar suara tawa beberapa orang.

Gawat, itu rekan kerjaku.

Aku berusaha bangun, tapi Hardi menekanku dengan kuat di atas kloset.

“Ya ampun, nggak disangka ternyata Bu Sri yang menang!”

“Namanya juga pemenang kehidupan. Suaminya tampan dan kaya, karirnya juga cemerlang. Beda dengan kita!”

“Haish! Tapi kudengar hubungan Bu Sri dan suaminya nggak harmonis. Lihat saja, suaminya bahkan nggak datang hari ini, ‘kan?”

….

Mereka bergosip tentang rumah tanggaku.

Seketika, hatiku menegang dan tersadar kembali. Saat aku ingin mendorong Hardi menjauh, dia malah membuka kakiku selebar mungkin.

“Kamu….”

Aku tak berani bersuara, hanya bisa melototinya. Tapi, dia tak peduli dan melepas ikat pinggangnya.

“Bu Sri, menantang nggak?”

Usai bicara, dia langsung menekannya ke arah mulutku. Tenggorokanku tercekat, aku hampir tak bisa bernapas.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 9

    Suara tawanya semakin kencang, semakin lama semakin gila.“Kalah?” ujarnya mengulang.“Sri, sepertinya kamu lupa sesuatu?”Dia mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa tombol, lalu mengarahkan layarnya padaku.Itu video malam itu!“Kalau sampai terjadi sesuatu padaku, video ini akan langsung tersebar ke semua grup orang tua murid di sekolahmu, ke ponsel mantan suamimu dan ke orang tuamu. Coba tebak, siapa yang akan rugi besar saat itu?”Jantungku sempat berhenti berdetak sesaat.Namun, aku tidak mundur sedikit pun.“Sebarkan saja, aku sudah tidak peduli lagi,” kataku.Dia terdiam.“Apa?”“Aku bilang, sebarkan saja.”Aku menatapnya dan melanjutkan, “Lebih baik reputasiku hancur dan aku kehilangan segalanya daripada harus terus dikendalikan olehmu. Lagipula….”Aku mengeluarkan ponselku sendiri dan menekan sebuah tombol.Layarnya menyala, menunjukkan bahwa rekaman suara sedang berjalan.“Percakapan ini juga sudah kurekam.”Aku melanjutkan, “Termasuk pengakuanmu soal cadangan video itu dan

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 8

    Suaranya terdengar sangat tenang, “Tepat di dalam kantor, pintunya nggak tertutup rapat, aku melihatnya.”Jantungku menegang.“Aku sangat terkejut dan juga… merasa mual.”Dia melanjutkan, “Guru yang sudah seperti bidadari di hatiku, ternyata juga nggak sebaik itu. Setelah itu, aku tahu dia nggak hanya berhubungan dengan kepala sekolah, tapi juga punya hubungan gelap dengan beberapa guru pria lainnya. Padahal di permukaan, dia tetaplah guru teladan yang lembut dan bermartabat.”Dia menoleh dan menatapku.“Sejak saat itu, aku pun menyadari satu hal.”Matanya sangat gelap, seperti dua lubang hitam yang tak berdasar.“Guru, terutama guru perempuan, semuanya penuh kepalsuan. Di depan orang terlihat terhormat, tapi di belakang… siapa yang tahu seperti apa aslinya?”Aku merinding.“Jadi kamu….”“Jadi aku ingin melihatnya sendiri.”Dia memotong kalimatku, sudut bibirnya membentuk senyuman yang menakutkan.“Aku ingin melihat guru-guru perempuan yang merasa dirinya tinggi itu ditarik jatuh olehk

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 7

    Aku berdiri di depan pintu apartemen sewaan Hardi.Aku mengenakan seragam sekolah sesuai permintaannya.Rok seragam itu sangat pendek, tepat di atas lutut.Kemejanya pun tipis, dengan kancing yang terpasang rapat hingga paling atas.Dia membukakan pintu sambil mengenakan piyama dan tangannya memegang kaleng bir. Dia menatapku dengan mata yang masih mengantuk.Dia memerhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.“Sangat cocok,” ujarnya sambil menyamping memberi jalan.“Masuklah.”Lampu ruang tamu sangat redup, hanya ada kilatan cahaya dari layar televisi yang menyala.Sebuah film lama sedang diputar dengan volume yang sangat pelan.Di atas meja tamu, beberapa kaleng bir kosong berserakan dan sebungkus keripik kentang yang sudah terbuka.“Di mana Hansen?” tanyaku dengan suara yang setenang mungkin.“Kukirim ke rumah neneknya,” jawab Hardi sambil menutup pintu dan langsung menguncinya.Lalu melanjutkan, “Ini akhir pekan.”Hanya ada kami

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 6

    Aku dipermainkan sesuka hati seperti boneka lusuh, benar-benar kehilangan kemampuan untuk melawan.Atau mungkin aku menyukai perasaan ini, perasaan yang benar-benar jatuh ke dalam kegelapan.Hardi berdiri di samping sambil merokok, menatapku dengan dingin. Sorot matanya menunjukkan jarak yang sangat jauh.Sekarang, dia memiliki lebih banyak kelemahan untuk mengancamku.Tubuhku tampak berantakan, basah dan kotor tak karuan.Begitu satu orang selesai, yang lain segera datang menggantikan. Kakiku terus-menerus dipaksa berganti posisi.Kadang di atas bahu, kadang di atas paha, kadang dicengkeram oleh tangan orang lain.Aku hampir kehilangan kendali atas tubuhku sendiri, membiarkan para pria ini mempermainkanku.“Bu Sri, menurutmu bagaimana pelajaran hari ini?”Aku tahu Hardi sedang mempermalukanku. Dia ingin menjadikanku mainan bagi orang-orang ini sepenuhnya.“Bagus sekali!”Dia menjatuhkan abu rokoknya ke tubuhku. Aku menatapnya dengan pandangan sayu, mencoba meraih tangannya, tapi akhir

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 5

    Aku menundukkan kepala, hanya bisa mendesah dengan suara yang terputus-putus.Sementara itu, kaki Hardi terus menekan di sela pahaku. Di dalam kantor yang sempit itu, hanya terdengar suara deru napas kami yang berat.Akhirnya, dia pun melepaskan hasratnya.Hardi mencengkeram daguku, memaksaku untuk menatapnya, “Telan!”Aku menggeleng, tapi saat dia beranjak hendak pergi, aku pun ketakutan dan langsung memeluk pinggangnya, lalu dengan susah payah menelan semuanya.Kemudian, Hardi mengangkatku ke atas meja kerja. Dengan kertas gambar sebagai alas pinggangku.Dia membuka kakiku, merobek satu-satunya penutup yang tersisa di dadaku. Lalu membenamkan wajahnya di sana, sambil menarik napas dalam-dalam.“Bu Sri, dengan tubuhmu seperti ini, bagaimana suamimu bisa menahan diri?”Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa menggeleng pasrah, meresponnya dengan gerakan yang lebih intens.“Masuklah.”Hardi terkekeh sinis, “Masuk ke mana? Aku nggak mengerti. Bu Sri, coba ajari aku lagi.”Tatap

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 4

    Hardi itu seorang mandor bangunan dan ini adalah tempat tinggalnya di lokasi proyek.Aku yang mengenakan mantel wol mahal, merasa sangat tidak cocok berada di antara mereka.“Ini wali kelas putraku.”Hardi sama sekali tidak menunjukkan sikap mengancam seperti sebelumnya. Sebaliknya, dia dengan santai mempersilakanku duduk dan menyodorkan sebotol bir.“Oh, ternyata guru!”Seluruh ruangan tertawa terbahak-bahak. Aku merasa canggung dan tersudut di antara orang-orang ini hingga mataku memerah.“Bu Sri terlihat berbeda dengan kita, orang berpendidikan memang tampak sangat anggun.”Separuh hidupku kuhabiskan di lingkungan akademis yang terisolasi. Meski profesiku sebagai guru membuatku bertemu berbagai macam orang, ini pertama kalinya aku menghadapi orang-orang seperti mereka.“Bu Sri pasti belum pernah minum bir, ‘kan?” Para pekerja Hardi mulai menggodaku dan aku hanya bisa menyesap minuman itu.Rasa birnya agak menyengat. Aku menatap Hardi dan bertanya, “Kalian memasukkan sesuatu ke dala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status