Compartir

Bab 3

Autor: Husky
Hardi mencengkeram rahangku, memaksaku untuk menerima bendanya yang menegang sepenuhnya.

Aku menelan ludah dengan susah payah, mataku terasa panas dan air mata pun tumpah begitu saja.

Di balik dinding itu, ada rekanku.

Di dalam sini, ada orang tua muridku.

Saat ini, aku tak lebih dari boneka yang sedang dipermainkan sesuka hati.

Ukuran Hardi terus membesar. Aku mual dan ingin muntah, tapi dia malah tampak semakin puas, terus mendorong dirinya lebih dalam.

Aku memeluk pinggangnya, berdoa agar orang-orang di luar segera pergi.

Namun, Hardi tidak berniat melepaskanku. Kedua tangannya kembali meraba tubuhku.

Di bawah kendalinya, aku melayang dan dunia seolah berputar

Entah berapa lama berlalu, akhirnya suara di luar pun menghilang.

“Plak….”

Gerakan Hardi semakin cepat, hingga akhirnya dia pun mengerang tertahan.

Tubuhku tampak berantakan, setiap helai rambutku seolah membawa aroma gairah yang menyesakkan.

Dengan wajah dingin, Hardi memakai bajunya kembali, memungut piala di lantai, lalu melemparkannya ke arahku.

Sebelum pergi, dia berkata, “Bu Sri, aku mau Hansen diberi les tambahan akhir pekan ini. Tempatnya di rumahku. Untuk biayanya… akan kuberikan langsung nanti, bisa?”

Tanpa menunggu jawabanku, dia memasukkan pakaian dalamku ke dalam sakunya.

“Kamu pasti nggak mau suamimu menerima kiriman paket berisi benda ini, ‘kan?”

Aku terkulai lemas di atas kloset, kakiku tak sanggup lagi menopang tubuh.

Setelah dia pergi, aku mengunci pintu. Aku menatap mainan itu, lalu memungutnya kembali.

Tanpa ragu, aku memasukkannya lagi ke dalam tubuhku.

Aku memejamkan mata, mulai mengenang kembali sensasi tadi, membayangkan bagaimana rasanya jika Hardi benar-benar menyatu dengan tubuhku.

Aku menjadi semakin basah dan tak bisa menahan diri untuk memasukkannya lebih dalam.

Pukul tujuh malam, aku melempar piala itu begitu saja ke atas lemari sepatu di pintu masuk.

Benda logam itu membentur permukaan marmer meja, menimbulkan dentang yang tajam.

Di dalam rumah, suasana begitu sunyi hingga dengung lemari es pun terdengar jelas.

Layar ponsel menyala.

Sebuah pesan dari Evan muncul, [Ada operasi darurat lagi, kamu tidur duluan saja.]

Aku meletakkan ponsel terbalik di atas meja makan.

Selama tiga tahun terakhir, aku telah menghitungnya.

Pesan ini seperti ini telah muncul sebanyak 467 kali.

Dari awalnya yang merasa kecewa, kemudian marah, hingga kini menjadi mati rasa.

Aku sudah terbiasa.

Di dapur, sup yang telah kumasak selama empat jam masih terasa hangat.

Aku masuk ke kamar tidur, melepaskan setelan putih krem itu dan membiarkan rokku jatuh ke lantai.

Aku berjalan telanjang ke kamar mandi dan menyalakan pancuran air.

Airnya sangat panas, cukup panas hingga membuat kulitku memerah.

Sebelum uap air menyelimuti permukaan cermin, aku menatap wajahku sendiri.

Usia tiga puluh dua tahun, belum ada keriput yang terlalu jelas di sudut mata, tapi bibirku terlihat pucat setelah lipstik dihapus.

Rekan-rekan kerjaku selalu bilang aku ‘beruntung’, bisa ‘terlihat muda’ dan Dokter Evan beruntung bisa memiliki istri sepertiku.

Mereka tidak tahu bahwa suamiku sudah tiga tahun tidak menyentuhku.

Awalnya dia masih memberi penjelasan, entah itu karena capek, tekanan kerja yang besar atau operasi yang datang silih berganti.

Belakangan, dia bahkan tidak memberi penjelasan lagi.

Kami tidur di ranjang yang sama, tapi terpisah jarak setidaknya tiga puluh sentimeter.

Aku pernah mencoba untuk lebih agresif.

Bulan lalu saat ulang tahunnya, aku mengenakan lingerie renda hitam.

Aku mendekatinya di balik selimut, tapi saat tanganku baru saja menyentuh pinggangnya, dia pun membeku.

“Sri, aku ada operasi besar besok.”

Suaranya tidak mengandung gairah, hanya ada kelelahan, “Tidurlah.”

Saat itu, aku merasa sangat menderita.

Air mengguyur dari atas kepala. Aku memejamkan mata, tapi pikiranku terus terbayang adegan di kamar mandi siang tadi.

Tekanan saat ditekan di atas kloset dan juga rasa sakitnya.

Di tengah rasa sakit yang tidak nyata itu, aku malah bereaksi.

Tangan pria itu sangat besar dengan jari-jarinya yang kasar.

Aku membayangkan dia menekanku di atas meja kerja.

Lalu, aku merasa kelembaban yang menembus di kedalaman celana dalamku.

Saat hanya tersisa diriku seorang di rumah, aku mengambil kepala pancuran air.

Cara-cara lama seolah kehilangan kenikmatan saat ini.

Saat ini, yang bisa kupikirkan hanyalah pria itu.

Aku mengambil ponsel dan meneleponnya.

“Kamu di mana sekarang?”

Pria di balik telepon terkekeh, “Kamu yakin mau datang ke sini?”

Aku mengenakan kembali lingerie rendah hitam itu, memakai mantel dan bergegas menuju lokasi proyek. Saat membuka pintu, ternyata ada sekelompok pria yang berdiri di dalam.

“Maaf, aku mencari Hardi, sepertinya aku salah masuk.”

“Bu Sri!” Hardi muncul dari kerumunan dan menarikku masuk.

Aku memandang sekeliling dan merasa takut.

Namun, melihat tubuh mereka yang kekar, aku kembali bereaksi….
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 9

    Suara tawanya semakin kencang, semakin lama semakin gila.“Kalah?” ujarnya mengulang.“Sri, sepertinya kamu lupa sesuatu?”Dia mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa tombol, lalu mengarahkan layarnya padaku.Itu video malam itu!“Kalau sampai terjadi sesuatu padaku, video ini akan langsung tersebar ke semua grup orang tua murid di sekolahmu, ke ponsel mantan suamimu dan ke orang tuamu. Coba tebak, siapa yang akan rugi besar saat itu?”Jantungku sempat berhenti berdetak sesaat.Namun, aku tidak mundur sedikit pun.“Sebarkan saja, aku sudah tidak peduli lagi,” kataku.Dia terdiam.“Apa?”“Aku bilang, sebarkan saja.”Aku menatapnya dan melanjutkan, “Lebih baik reputasiku hancur dan aku kehilangan segalanya daripada harus terus dikendalikan olehmu. Lagipula….”Aku mengeluarkan ponselku sendiri dan menekan sebuah tombol.Layarnya menyala, menunjukkan bahwa rekaman suara sedang berjalan.“Percakapan ini juga sudah kurekam.”Aku melanjutkan, “Termasuk pengakuanmu soal cadangan video itu dan

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 8

    Suaranya terdengar sangat tenang, “Tepat di dalam kantor, pintunya nggak tertutup rapat, aku melihatnya.”Jantungku menegang.“Aku sangat terkejut dan juga… merasa mual.”Dia melanjutkan, “Guru yang sudah seperti bidadari di hatiku, ternyata juga nggak sebaik itu. Setelah itu, aku tahu dia nggak hanya berhubungan dengan kepala sekolah, tapi juga punya hubungan gelap dengan beberapa guru pria lainnya. Padahal di permukaan, dia tetaplah guru teladan yang lembut dan bermartabat.”Dia menoleh dan menatapku.“Sejak saat itu, aku pun menyadari satu hal.”Matanya sangat gelap, seperti dua lubang hitam yang tak berdasar.“Guru, terutama guru perempuan, semuanya penuh kepalsuan. Di depan orang terlihat terhormat, tapi di belakang… siapa yang tahu seperti apa aslinya?”Aku merinding.“Jadi kamu….”“Jadi aku ingin melihatnya sendiri.”Dia memotong kalimatku, sudut bibirnya membentuk senyuman yang menakutkan.“Aku ingin melihat guru-guru perempuan yang merasa dirinya tinggi itu ditarik jatuh olehk

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 7

    Aku berdiri di depan pintu apartemen sewaan Hardi.Aku mengenakan seragam sekolah sesuai permintaannya.Rok seragam itu sangat pendek, tepat di atas lutut.Kemejanya pun tipis, dengan kancing yang terpasang rapat hingga paling atas.Dia membukakan pintu sambil mengenakan piyama dan tangannya memegang kaleng bir. Dia menatapku dengan mata yang masih mengantuk.Dia memerhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.“Sangat cocok,” ujarnya sambil menyamping memberi jalan.“Masuklah.”Lampu ruang tamu sangat redup, hanya ada kilatan cahaya dari layar televisi yang menyala.Sebuah film lama sedang diputar dengan volume yang sangat pelan.Di atas meja tamu, beberapa kaleng bir kosong berserakan dan sebungkus keripik kentang yang sudah terbuka.“Di mana Hansen?” tanyaku dengan suara yang setenang mungkin.“Kukirim ke rumah neneknya,” jawab Hardi sambil menutup pintu dan langsung menguncinya.Lalu melanjutkan, “Ini akhir pekan.”Hanya ada kami

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 6

    Aku dipermainkan sesuka hati seperti boneka lusuh, benar-benar kehilangan kemampuan untuk melawan.Atau mungkin aku menyukai perasaan ini, perasaan yang benar-benar jatuh ke dalam kegelapan.Hardi berdiri di samping sambil merokok, menatapku dengan dingin. Sorot matanya menunjukkan jarak yang sangat jauh.Sekarang, dia memiliki lebih banyak kelemahan untuk mengancamku.Tubuhku tampak berantakan, basah dan kotor tak karuan.Begitu satu orang selesai, yang lain segera datang menggantikan. Kakiku terus-menerus dipaksa berganti posisi.Kadang di atas bahu, kadang di atas paha, kadang dicengkeram oleh tangan orang lain.Aku hampir kehilangan kendali atas tubuhku sendiri, membiarkan para pria ini mempermainkanku.“Bu Sri, menurutmu bagaimana pelajaran hari ini?”Aku tahu Hardi sedang mempermalukanku. Dia ingin menjadikanku mainan bagi orang-orang ini sepenuhnya.“Bagus sekali!”Dia menjatuhkan abu rokoknya ke tubuhku. Aku menatapnya dengan pandangan sayu, mencoba meraih tangannya, tapi akhir

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 5

    Aku menundukkan kepala, hanya bisa mendesah dengan suara yang terputus-putus.Sementara itu, kaki Hardi terus menekan di sela pahaku. Di dalam kantor yang sempit itu, hanya terdengar suara deru napas kami yang berat.Akhirnya, dia pun melepaskan hasratnya.Hardi mencengkeram daguku, memaksaku untuk menatapnya, “Telan!”Aku menggeleng, tapi saat dia beranjak hendak pergi, aku pun ketakutan dan langsung memeluk pinggangnya, lalu dengan susah payah menelan semuanya.Kemudian, Hardi mengangkatku ke atas meja kerja. Dengan kertas gambar sebagai alas pinggangku.Dia membuka kakiku, merobek satu-satunya penutup yang tersisa di dadaku. Lalu membenamkan wajahnya di sana, sambil menarik napas dalam-dalam.“Bu Sri, dengan tubuhmu seperti ini, bagaimana suamimu bisa menahan diri?”Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa menggeleng pasrah, meresponnya dengan gerakan yang lebih intens.“Masuklah.”Hardi terkekeh sinis, “Masuk ke mana? Aku nggak mengerti. Bu Sri, coba ajari aku lagi.”Tatap

  • Aku Dan Ayah Muridku   Bab 4

    Hardi itu seorang mandor bangunan dan ini adalah tempat tinggalnya di lokasi proyek.Aku yang mengenakan mantel wol mahal, merasa sangat tidak cocok berada di antara mereka.“Ini wali kelas putraku.”Hardi sama sekali tidak menunjukkan sikap mengancam seperti sebelumnya. Sebaliknya, dia dengan santai mempersilakanku duduk dan menyodorkan sebotol bir.“Oh, ternyata guru!”Seluruh ruangan tertawa terbahak-bahak. Aku merasa canggung dan tersudut di antara orang-orang ini hingga mataku memerah.“Bu Sri terlihat berbeda dengan kita, orang berpendidikan memang tampak sangat anggun.”Separuh hidupku kuhabiskan di lingkungan akademis yang terisolasi. Meski profesiku sebagai guru membuatku bertemu berbagai macam orang, ini pertama kalinya aku menghadapi orang-orang seperti mereka.“Bu Sri pasti belum pernah minum bir, ‘kan?” Para pekerja Hardi mulai menggodaku dan aku hanya bisa menyesap minuman itu.Rasa birnya agak menyengat. Aku menatap Hardi dan bertanya, “Kalian memasukkan sesuatu ke dala

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status