Zerian menggenggam ponselnya, terpaku di tempat, mendengarkan nada sibuk itu, seolah mendengar detak jantungnya sendiri berhenti mendadak.Gelombang besar rasa kehilangan dan kepanikan menyapu dirinya....Musim gugur di Laruna, hujan turun tanpa henti, dinginnya menusuk tulang, persis seperti suasana hati Jusifan saat ini.Sudah berbulan-bulan.Dia bagai anjing pemburu yang tak pernah lelah, memakai semua trik yang bisa dipikirkannya: mengejar ke mana-mana, mengadang dari segala arah, dan bersikeras menempel tanpa hentinya.Perhiasan mahal, kunci mobil balap edisi terbatas, buket bunga raksasa yang berbeda setiap hari, makan malam romantis dengan lilin di restoran kelas atas yang disewa khusus, bahkan menaburkan kelopak mawar memenuhi lantai di bawah apartemennya, dan menyewa band untuk menyanyikan lagu cinta ....Semua jurus yang dulu selalu ampuh saat mendekati perempuan, di hadapan Oria, kini berubah menjadi bahan tertawaan.Tatapan Oria padanya berubah dari sikap dingin tak acuh,
Read more