Setelah menutup telepon, Oria berjalan bagaikan mayat hidup, kembali ke apartemen tempat dia tinggal bersama Zerian.Dia mulai membereskan barang-barangnya secara mekanis. Semua hadiah yang diberikan Zerian selama setahun ini, kalung, gelang, boneka, lipstik ... satu per satu dilemparkannya ke tempat sampah.Bukti-bukti manis yang dulu dianggapnya berharga itu, kini terasa seperti lelucon sarkastik.Saat dia melempar kalung terakhir, bunyi kunci pintu terdengar.Zerian, eh bukan, Jusifan, masuk ke dalam.Dia menirukan nada suara Zerian, tapi sikapnya sangat lembut, "Oria, lagi buang apa?"Oria mengangkat kepala, mata merahnya menatap tajam wajah yang hampir sama persis dengan Zerian tetapi tampak lebih muda dan arogan itu. Jantung Oria seperti tercabik lagi, sampai dirinya hampir tak bisa bernapas."Barang-barang ini ... kamu nggak merasa familier?" Suaranya serak, nadanya sinis dan dingin.Senyum di wajah Jusifan sempat terhenti, lalu dengan dirinya cerdik mengalihkan topik, "Kenapa m
Read more