Pesan dari Ryn baru sempat Kylar baca ketika rapat yang sejak sore berlangsung akhirnya selesai. Dia melirik layar ponselnya sambil berjalan keluar dari ruang meeting.[Mas, kayaknya banyak yang perlu kita omongin.]Dan Kylar sama sekali tidak curiga.Selama menikah, mereka memang terbiasa saling mengirim pesan seperti itu. Kadang Ryn ingin bercerita soal restoran, kadang ingin mengeluh karena bayi mereka menendang terlalu keras, kadang hanya ingin membahas menu makan malam. Jadi, bagi Kylar, pesan itu tidak terdengar aneh.Dia hanya membalas singkat kalau meeting sudah selesai dan sedang dalam perjalanan pulang.Sekitar empat puluh menit kemudian, pintu penthouse terbuka. Aroma masakan langsung menyambut penciumannya.Dari arah ruang makan, dia melihat Ryn sedang membantu Ina menata beberapa piring di atas meja.“Mbak Ina, udah boleh ke belakang,” ucap Ryn begitu menyadari Kylar baru pulang.“Baik, saya permisi dulu, Tuan, Nyonya,” pamit Ina sambil sedikit membungkukkan badan sebelum
Baca selengkapnya