Ryn balas menatapnya beberapa detik. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, tetapi kali ini dia tidak menghindari tatapan Kylar.“Tapi Mas suka, ‘kan?”Jawaban provokasi itu membuat sudut bibir Kylar kembali terangkat.Setelahnya, Kylar mulai menyisipkan jemari di antara kain celana dalam yang tipis itu, dia usap segala sisinya. Basah tentu saja, hangat, dan Kylar mulai gila. Dia tangkap sorot mata yang kini menatapnya redup, sayu, putus asa, tapi juga memuja.Ryn bergerak lebih dulu, mencium bibirnya dan menutup semua engah maupun desah dengan ciuman-ciuman yang nyaris putus asa, sementara Kylar mulai menggerakkan jemarinya untuk mencari tempat yang lebih hangat.Dan dia menemukannya. Tepat di titik itu.“Kalau nggak nyaman, bilang,” gumam Kylar sesaat setelah Ryn melepaskan ciuman. "Cium aku, atau–"Ryn lebih dulu menciumnya sebelum Kylar sempat menyelesaikan kalimatnya.Jadi, sudah dipastikan Ryn menyetujui segala aturan dan syarat yang ingin dia jelaskan.Kylar bergerak perlahan
Read more