LOGIN“Kita menikah selama dua tahun.” Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
View More“Nyonya kenapa?”Suara Bimo membuat Ryn tersadar. Pria itu sudah membukakan pintu Rolls-Royce hitam yang terparkir di depan hotel.“Nggak apa-apa, Pak.” Ryn memaksakan senyum kecil yang bahkan tidak terasa seperti senyumnya sendiri. “Ayo kita pulang.”Dia bahkan tidak berpikir untuk kembali ke ballroom atau berpamitan kepada Anjana. Saat ini dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu.Begitu mobil mulai meninggalkan area hotel, Ryn kembali membuka ruang obrolan Kylar.Jemarinya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.[Mas, aku nggak oke.]Setelah beberapa detik, pesan kedua menyusul.[Aku butuh kamu.]Dan sebelum sempat menahan diri, satu pesan lagi terkirim.[Pulang, Mas.]Pesan itu terkirim, tetapi hanya centang satu.Ryn menatap layar ponselnya beberapa saat. Dia tahu alasannya. Cuaca di Maldives sedang buruk, sinyal pasti tidak stabil, dan Kylar jelas tidak sengaja mengabaikannya.Namun anehnya, mengetahui semua itu tidak membuat dadanya terasa lebih ringan. Justru mala
“Sepertinya saya tidak perlu mengenalkan kalian lagi ya?” ujar Indri santai. “Kalian teman dari SMA, bukan?”Ryn hampir tidak mendengar kalimat itu dengan utuh. Tatapannya terus berpindah antara Indri dan Zaky.Anak angkat? Kata-kata itu masih menggema di kepalanya.Selama ini dia tahu Zaky berasal dari keluarga berada. Dia tahu pria itu memiliki kehidupan yang baik. Namun tidak pernah sekali pun terlintas dalam pikirannya bahwa Zaky memiliki hubungan dengan keluarga Hartono.“Ma-maksudnya ini apa?” tanya Ryn terbata.Tidak ada yang langsung menjawab. Keheningan yang muncul justru membuat dadanya semakin sesak.“Apa maksudnya ini?” ulang Ryn lagi. Kali ini pandangannya tertuju lurus kepada Zaky. “Kak?”Zaky terlihat mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berjalan mendekat. Pria itu lalu duduk di sofa di samping Ryn.“Aku minta maaf, Ryn.”“Maaf untuk apa?” tanya Ryn dengan jantung yang kini terasa semakin tidak nyaman. Karena dia tahu, orang tidak meminta maaf tanpa alasan. “Dan s
Ryn mengernyit. Jujur saja, dari semua kemungkinan yang dia bayangkan sebelum masuk ruangan ini, tuduhan itu justru yang paling tidak masuk akal.“Bu Indri salah paham. Saya tidak pernah meminta apa pun dari keluarga Hartono,” jelas Ryn.“Saya tahu.” Jawaban Indri datang terlalu cepat. Membuat Ryn sedikit terdiam. “Saya tahu kamu tidak pernah meminta apa pun.”Indri menyandarkan punggungnya ke sofa. Tidak ada lagi senyum ramah di wajahnya sekarang. “Hanya saja saya tidak suka mengambil risiko.”“Risiko?”“Keberadaanmu.” Kali ini, nada suara wanita itu terdengar benar-benar dingin. “Mas Benny baru tahu tentangmu beberapa waktu lalu. Tapi saya tahu jauh sebelum itu.”“Apa?” Jantung Ryn seperti berhenti berdetak sesaat.“Saya tahu ibumu hamil. Saya tahu ketika dia masih mengandungmu. Saya tahu ketika dia melahirkanmu, dan saya tahu ketika kamu masuk panti asuhan.”“Kalau Ibu tahu ...” Tenggorokan Ryn terasa kering. “Kenapa Pak Benny tidak tahu?”Senyum tipis muncul di wajah Indri. Senyum
Karena Ryn sudah bertekad untuk berhenti bersembunyi, akhirnya setelah keluar dari toilet, dia mengikuti Tino yang mengarahkannya ke salah satu ruangan privat di sisi ballroom.Sepanjang perjalanan, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tidak ada alasan untuk gugup, toh ini hanya percakapan biasa.Namun tetap saja, ketika pintu ruangan itu dibuka dan dia melihat Benny serta Indri sudah duduk menunggunya di dalam, ada bagian kecil dalam dirinya yang kembali menegang.“Silakan, Nyonya.” Tino mempersilakan sebelum mundur keluar dan menutup pintu.Ryn mengembuskan napas pelan lalu melangkah mendekat.“Selamat malam, Pak. Bu.” Ryn mengulurkan tangan lebih dulu kepada Indri. Namun di luar dugaan, wanita bergaun zaitun itu justru bangkit dari duduknya dan memeluknya singkat.“Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung seperti ini,” sambut Indri hangat.Ryn sempat membeku sepersekian detik. Jujur saja, ini jauh dari bayangannya.Entah kenapa dia selalu membayangkan pertemuan pertama mer
Ryn hanya menatap Kylar, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kalimat itu.“Hah?! Dibuang? Ke laut? Kok dibuang sih, Mas?!” protes Ryn akhirnya. Matanya membulat sempurna sekarang.Kylar tidak terlihat bersalah. Bahkan sedikit pun tidak. “Kesel,” jawabnya singkat.Ryn semakin tidak percaya.
“Ponsel kamu lagi error kayaknya. Tadi sempat mati sendiri,” kilah Kylar santai, hampir terlalu santai.Ryn tidak langsung membuka mata. Dia hanya mengerutkan kening sedikit, masih setengah tenggelam di antara sadar dan tidak.“Error …?” gumamnya lemah.“Iya,” lanjut Kylar tanpa ragu. Tangannya nai
“Sekarang kamu harus makan. Tadi pasti tenaganya habis.”Suara Kylar terdengar lebih lembut dari biasanya, kontras dengan bagaimana semalaman dia nyaris tidak memberi Ryn kesempatan untuk benar-benar bernapas.Kamar itu sudah jauh lebih rapi sekarang. Seprai yang tadi berantakan sudah diganti denga
“Mas! Mulutnya–” Ryn langsung melotot.Kylar malah terkekeh pelan, tidak sedikit pun terlihat bersalah. Justru dia makin mendekat, seolah reaksi Ryn itu hiburan tambahan baginya.“Tapi dari yang aku baca di internet …” Kylar berhenti sebentar, matanya turun menelusuri Ryn tanpa malu-malu. Ekspresiny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore