LOGIN“Kita menikah selama dua tahun.” Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
View MoreRyn menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Pria itu benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk berpikir jernih.Dengan wajah yang sudah memerah sampai ke leher, akhirnya dia mengangkat tangan dan menurunkan satu sisi bathrobe yang dikenakannya.Kylar mengembuskan napas pelan. “Buka lagi, belum ada yang bisa aku lihat,” pintanya lirih.Jantung Ryn berdebar semakin cepat. Napasnya mulai terasa berat, sementara udara kamar hotel yang seharusnya sejuk mendadak terasa hangat. Jemarinya sedikit bergetar saat kembali menarik kain itu lebih rendah.“Lagi, please,” pinta Kylar sekali lagi. Kali ini suaranya terdengar nyaris memelas.Entah karena jarak yang membuatnya rindu, atau karena sorot mata pria itu yang terlihat begitu sayu dan lelah setelah seharian bekerja, Ryn akhirnya membuka simpul bathrobe yang mengikat pinggangnya.Kain itu mengendur perlahan. Dadanya semakin terekspos, meski masih belum sepenuhnya terlihat."Turunin lengannya sedikit. Boleh, Sayang?" Tangan Kylar di bawah sana s
Kylar tahu istrinya mungkin menganggap semua ini berlebihan, drama, tidak masuk akal, dan mungkin memang begitu.Namun sejak mendarat di Maldives, dia baru sadar kalau dia terlalu terbiasa dengan keberadaan Ryn.Karena itu, saat Ryn tadi menyuruhnya istirahat, entah kenapa dia justru tersinggung. Padahal dia menelepon bukan karena tidak bisa tidur, tidak juga karena bosan. Dia menelepon karena sejak siang dia menunggu waktu luang hanya untuk bisa melihat wajah istrinya lagi.“Ya udah.” Intonasi Ryn akhirnya melembut. “Aku minta maaf kalau bikin Mas nggak merasa dikangenin balik. Aku beneran kangen sama Mas kok.”“Nah.” Kylar mengangguk puas. “Itu baru istri aku.”Ryn langsung memutar bola mata. “Puas sekarang?”“Lumayan.”“Dasar.”Kylar terkekeh pelan. Dia menyugar rambutnya ke belakang lalu melonggarkan kerah kemeja yang sejak tadi terasa menyesakkan.Hari ini memang panjang. Meeting berjam-jam, inspeksi lokasi, laporan yang tidak ada habisnya, ditambah satu istri yang tanpa dosa men
Hari ini Kylar benar-benar rewel setengah mati.Bahkan kalau dibandingkan dengan kemarin saat Zaky mengambil daun dari rambutnya, yang ini jauh lebih parah.Ryn sampai tidak habis pikir. Memangnya melihat paha bisa langsung membuat hasrat pria itu naik?Lagipula, di Maldives pasti banyak turis yang berjalan-jalan hanya dengan bikini. Harusnya Kylar sudah kebal melihat hal semacam itu.Nyatanya tidak.Pesan-pesan menyebalkan itu terus berdatangan sejak pagi.Mulai dari menyuruhnya langsung pulang ke hotel setelah selesai bekerja, melarangnya mampir ke mana-mana, berkali-kali mengingatkan agar tidak pulang terlalu malam, sampai ketika tahu Lala tidak menginap karena orang tuanya datang ke apartemen gadis itu, Kylar langsung bawel bukan main.Bahkan ketika Ryn baru selesai mandi sore, notifikasi pesan dari Kylar kembali muncul di layar ponsel.[Coba foto lagi. Aku mau lihat.]Ryn menatap layar ponselnya lama.Ini sudah foto ke berapa? Empat? Lima? Atau enam?Semenjak foto sarapan tadi, K
Butuh dua detik sampai otak Ryn memproses maksud kalimat itu. Dan begitu sadar, wajahnya langsung memanas.“Astaga, Mas! Aku lagi ngomong serius juga!” protesnya sambil refleks menutup wajah dengan satu tangan. Untung saja Kylar hanya bisa melihat setengah tubuhnya dari layar ponsel. Kalau tidak, pria itu pasti sudah semakin puas melihat reaksinya.“Aku juga serius.”“Kylar!”Tawa pria itu langsung pecah memenuhi speaker ponsel. Sementara Ryn masih tidak habis pikir bagaimana suaminya bisa mengubah percakapan yang awalnya menyentuh menjadi seperti ini hanya dalam hitungan detik.Sedangkan di seberang sana, Kylar terlihat jauh lebih santai sekarang. Seolah melihat istrinya kesal adalah salah satu hiburan terbaik yang bisa dia dapatkan selama berada ribuan kilometer jauhnya.“Ya gimana? Kamu tadi yang mulai ngomong soal posisi,” goda Kylar sambil menyandarkan dagu di tangan dan menatap wajah Ryn yang masih merah.“Kalau aku lempar ponsel ini jangan salahin aku ya.”“Bohong.”“Kenapa boho
“Halo, Mas Leon. Maaf mengganggu. Boleh saya bicara dengan Mbak Ryn?”Naufal berbicara dengan nada setenang mungkin, meskipun di depannya Kylar sudah berjalan mondar-mandir seperti orang yang kehilangan arah. Sejak lima menit terakhir, atasannya itu tidak berhenti menatap ponsel, lalu berjalan, lal
Akhiri?Apa maksudnya akhiri semuanya?Semalam, setelah Ryn mengucapkan kalimat itu, panggilan langsung terputus. Bukan karena sinyal. Bukan juga karena baterai habis. Ryn memang sengaja menutup telepon.Dan sejak saat itu, Kylar tidak bisa lagi menghubunginya.Ponselnya hanya memberi jawaban yang
Bodoh!Harusnya Ryn sadar dari awal. Rumah sebesar ini tentu dipenuhi CCTV. Bukan hanya di luar, tapi kemungkinan juga di dalam.Ryn menatap layar ponselnya beberapa detik.“Tenang, Ryn,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Kamu cuma salah karena masuk tanpa izin. Dia salahnya lebih banyak.”Kali
Penuh.Mungkin itu satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan isi kepala Ryn sekarang.Terlalu banyak hal datang sekaligus hari ini. Terlalu banyak potongan cerita yang muncul tanpa peringatan.Zelena, Mada, lalu foto lama yang memperlihatkan sosok pria yang terasa sangat familiar itu.Bagaima






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore