Masuk“Kita menikah selama dua tahun.” Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
Lihat lebih banyak“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”
Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.
“Aku nggak minta pendapatmu.”
Suara laki-laki menyusul, rendah dan tegas. Dan sialnya, Ryn sangat mengenal suara itu. Itu suara Kylar Ashwara Putra, CEO Ashwara Culinary Group tempat dia bekerja.
Mati sudah. Kalau ketahuan dia di sini, selesai riwayatnya.
Ryn menarik napas gemetar. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah ketika dia buru-buru melipir ke balik tumpukan pot tanaman.
“Ingat ya! Keluarga aku pasti nggak akan tinggal diam kalau tahu semua ini,” lanjut perempuan itu, nadanya meninggi. “Apalagi kamu nggak punya alasan jelas buat menolak!”
Kylar menjawab datar, tanpa ragu, “Alasannya jelas. Aku nggak suka kamu.”
Ryn menelan ludah.
Di kantor, gosip tentang Kylar memang sudah lama beredar. Kylar menolak semua perempuan yang dijodohkan karena katanya pria itu memang tidak tertarik pada perempuan.
Dan mendengar kalimatnya barusan, Ryn mendadak merasa rumor itu bukan sekadar omongan orang iseng.
Ryn akhirnya menunduk, mencoba mundur selangkah demi selangkah. Namun, langkahnya yang panik justru membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya merosot sedikit, lalu dia refleks berjongkok.
Dan sial. Sungguh sial.
Bokongnya menyenggol vas bunga kecil yang ditempatkan persis di belakangnya.
Prang!
Benda itu jatuh, pecah, dan membuat kedua kepala serempak menoleh. Hening satu detik. Lalu langkah kaki mendekat, berirama, tegas, membuat jantung Ryn seperti akan copot saat itu juga.
“Kamu ngapain di sini?”
Oh, tidak. Dari dua orang yang bisa bertanya, kenapa harus Bosszilla yang melontarkan pertanyaan?
Tidak mungkin kan kalau Ryn jawab dia sengaja melipir ke rooftop karena galau setelah menerima undangan pernikahan dari mantan calon suaminya, yang ironisnya menikahi sahabatnya sendiri.
“Kamu ngapain?” ulang Kylar lagi karena Ryn tak kunjung bersuara.
Tatapannya menilai Ryn dari ujung rambut ke ujung kaki, bukan dengan kemarahan, tapi dengan fokus seseorang yang sedang menimbang peluang. Seolah kemunculan gadis itu membuka kemungkinan baru di tengah jalan buntu perjodohan yang barusan diperdebatkannya.
Dengan pasrah, Ryn berdiri perlahan. Bahunya merosot, kepala menunduk serendah mungkin. Andai bisa berubah jadi semut dan menghilang di balik pot, dia pasti sudah melakukannya.
Tidak mungkin dia bilang dia lari ke rooftop untuk meltdown karena dikhianati pacar dan sahabatnya.
Ayo, Ryn. Berpikir.
Dia tahu reputasi bosnya. Kylar bukan tipe yang memberi toleransi. Terlambat dua menit, pulang mundur tiga puluh menit. Salah input invoice, bonus melayang. Kalau sudah mengomel, mulutnya tajam seperti bambu runcing.
Bolos saat jam kerja seperti Ryn seperti ini? Sama saja menandatangani surat resign.
Dan sekarang ketahuan menguping?
Celaka sudah.
Ryn mengangkat wajah sedikit, cukup untuk melihat ujung bahu setelan Kylar yang rapi. Lalu, dengan keputusasaan yang hanya terjadi di hari-hari terburuk hidupnya, dia memasang wajah paling memelas.
Mata membesar. Bibir mengerucut. Hidung memerah. Dan ketika Ryn memaksa air mata keluar, ajaibnya berhasil. Sesenggukan kecil pun muncul.
Perfect. Harusnya pria ini punya sedikit hati nurani, ‘kan?
“Maaf, Pak, saya–”
“Diam,” potong Kylar lebih dulu. Pandangannya terkunci ke tubuh Ryn, hingga satu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Dan tiba-tiba, Kylar menggenggam tangan Ryn dengan kencang, membuat Ryn terkejut dan takut. Dia berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Kylar jelas lebih besar darinya.
Tunggu. Apa dia akan diseret ke ruang HRD sekarang juga?
Tidak! Dia masih butuh pekerjaan. Dia hanya staff Accounting yang gajinya pas-pasan. Cari pekerjaan baru susah. Cari bos yang normal lebih susah lagi.
Bukannya makin tenang, Ryn malah makin histeris. Kali ini bukan pura-pura. Ini hari terburuk hidupnya.
“Pak, tolong jangan–”
“Sstt ….” Kylar menempelkan telunjuknya ke bibir Ryn yang memakai lipstik nude. Tubuhnya yang tinggi bergerak mendekat.
Ryn terpaku ketika Kylar mengusap punggungnya lembut. Apa-apaan ini?
“Maksudnya apa ini?!” pekik wanita berbaju hitam itu, wajahnya memerah bukan karena blush on.
“Pak, maaf. Saya tidak dengar apa-apa, sumpah,” isak Ryn memohon, wajah memelasnya sempurna.
“Diam sebentar.” Kylar tidak menatap perempuan yang dijodohkan dengannya itu. Sebaliknya, dia meraih bahu Ryn, mengusap lengannya perlahan. “Kamu dengar pun nggak masalah. Justru lebih mudah begini. Semua bisa selesai sekarang.”
Selesai? Maksudnya pekerjaan Ryn yang selesai? Atau hidupnya yang selesai?
“Pak, bisa tolong lepas?” Ryn melirik sekitar cemas. “Ini kantor. Nanti–”
“Aku nggak peduli ini kantor atau bukan,” potong Kylar. “Aku nggak mau backstreet lagi. Aku mau semua orang tahu kita itu pasangan.”
Ryn terbelalak. Seluruh isi otaknya mendadak kosong.
Pasangan? Siapa? Dia? Dengan bos yang nyaris tidak manusiawi ini?
Ryn tahu betapa menyebalkannya mulut bosnya itu. Tapi, mendengar kalimat seperti itu, jelas membuat Ryn lebih terkejut 10 kali lipat.
“Oke, stop. Kamu makin gila,” sergah wanita berbaju hitam itu. “Jadi selama ini kamu pacaran sama karyawan kamu? Ky, kamu–”
“Iya, jadi aku nggak bisa melanjutkan perjodohan itu.” Kylar kembali memotong perkataan Jihan dengan cepat. Tatapan Kylar lalu kembali ke Ryn, mengunci. “Karena aku lebih mencintai, Ryn.”
Ryn tercekat, tapi sebelum dia sempat panik atau mengeluarkan suara, Jihan mendengus sinis.
“Omong kosong! Kylar, kamu benar-benar mau mempertaruhkan reputasi keluarga kita untuk ini?” Tatapan Jihan meremehkan Ryn dari atas ke bawah. “Perempuan ini? Karyawan rendahan seperti dia?”
Kylar sama sekali tidak terpengaruh. “Jangan berani menyebut tunanganku seperti itu.”
Ryn menoleh cepat, nyaris tersedak udara.
Jihan terperanjat. “Apa maksud kamu?!”
“Aku sudah melamarnya dan kami akan menikah minggu depan,” ujar Kylar dengan ketenangan yang membuat suasana justru makin mencekam.
“Sayang, kalau kamu masih kepikiran sama omongan Oma dan Nenek waktu itu, kita nggak harus sering-sering ketemu mereka dulu.”Kylar tiba-tiba membuka suara ketika mereka berjalan perlahan menyusuri trotoar. Ryn masih berada di punggungnya, kedua lengannya melingkar santai di leher sang suami, sementara beberapa kantong belanjaan yang tadi mereka bawa sudah diserahkan kepada staf untuk diantar langsung ke kamar.Ryn yang sejak tadi menikmati pemandangan Tokyo dari atas punggung suaminya langsung menoleh sedikit. “Kenapa gitu?”“Aku tahu kamu masih sakit hati.” Nada suara Kylar terdengar lebih hati-hati. “Aku nggak mau setiap kali ketemu mereka, kamu malah kepikiran lagi sama omongan soal aku harus nikah lagi. Mereka memang keluargaku, tapi kamu juga istriku. Kalau keberadaan mereka bikin kamu nggak nyaman, aku nggak akan maksa kamu buat dekat.”Ryn terdiam sebentar sebelum akhirnya menyandarkan dagunya kembali di bahu Kylar. “Aku memang masih sakit hati. Susah juga ngelupainnya, Mas. T
“Katanya mau cariin?” goda Ryn begitu melihat wajah Kylar yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Seharusnya Kylar tidak terlalu kaget dengan perangai istrinya.Dulu saja, alih-alih minta mangga muda tengah malam seperti ibu hamil pada umumnya, Ryn pernah ngidam memegang harimau. Dibandingkan itu, rujak cingur seharusnya masih masuk kategori mudah.Masalahnya, mereka sedang berada di Tokyo, dan Ryn bahkan sudah memesan kamar untuk sepuluh hari.“Kenapa tiba-tiba mau makan itu?” tanya Kylar, berusaha terdengar santai meskipun pikirannya sudah mulai menghitung kemungkinan dari mana dia bisa mendapatkan rujak cingur di Tokyo. Dia jelas tidak berniat menyuruh istrinya menunggu sampai sembilan hari lagi.“Waktu di Surabaya aku nggak sempat makan itu karena keburu ngurusin masalah Lala.” Ryn mengerucutkan bibir, lalu menatap suaminya dengan tatapan memohon. “Mas, ih, aku beneran pengen. Bukan aku, anak kita.”Kylar langsung mengembuskan napas pendek. “Kasihan anak aku. Baru kemarin
“Karena meeting kami memang di sana.” Kylar menatapnya sabar. “Di hotel itu bukan cuma ada kamar. Ada restoran, ballroom, ruang rapat.”Ryn langsung mengangkat alis. “Tapi ada kamar juga.”“Ya, ada.” Kylar mengangguk. “Bukan berarti aku mau check-in sama perempuan itu.”“Omongan kamu bisa dipercaya nggak?” Ryn menelan ludah sebelum melanjutkan, kali ini suaranya jauh lebih pelan. “Jujur, setelah lihat Lala dikhianatin sama suaminya, pikiranku jadi ke mana-mana. Aku lihat kamu keluar dari ruang praktik dokter kandungan sama perempuan lain, terus kalian satu mobil dan masuk hotel. Aku juga lihat kamu bohong waktu aku tanya lagi di mana. Aku harus mikir apa, Mas?”Kylar terdiam.Kali ini dia tidak buru-buru membela diri. Tatapannya justru jatuh pada wajah Ryn yang perlahan mulai kehilangan nada sinisnya. Di balik semua tuduhan dan kemarahan itu, ternyata ada ketakutan yang jauh lebih sederhana, Ryn takut dirinya tidak lagi cukup bagi Kylar.“Aku nggak tahu harus minta maaf mulai dari mana
Ryn terdiam. Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap begitu mengetahui suaminya ternyata memang sedang sakit hari itu. Dia bahkan sempat melihat Kylar keluar dari IGD dalam keadaan sendirian, tetapi karena sibuk memikirkan kejutan yang ingin diberikan, dia sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu.Namun perasaan itu segera bercampur lagi dengan bayangan perempuan yang berjalan di samping Kylar ketika mereka keluar dari ruang praktik Gala. Tatapan Ryn pun kembali berubah. “Kenapa nggak bilang aku?” tanya Ryn, kali ini terdengar lebih kecewa daripada marah.Kylar baru membuka mulut, tetapi Ryn sudah lebih dulu menyambung dengan nada getir, “Ah, aku ngerti. Karena udah ada perempuan itu, ‘kan? Jadi kamu nggak ngerasa perlu kasih tahu aku keadaan kamu?”Bukannya tersulut, Kylar justru menatap istrinya beberapa detik. Kemudian pria itu berlutut di hadapan Ryn dan meletakkan kedua tangannya di paha perempuan itu. Sikapnya membuat Ryn sedikit terdiam, apala
Ryn langsung menegang. “Hah?!”Kylar membuka satu mata, sudut bibirnya terangkat tipis. Bahkan dalam keadaan pucat pun, ekspresi isengnya tetap hidup. “Refleks kamu cepat banget.”“Pagi-pagi ngomongnya udah ke mana-mana,” desis Ryn, pipinya menghangat tanpa izin.“Aku cuma tanya.”“Itu bukan pertan
“Ky, kamu nggak mau cuti aja hari ini? Mukamu pucat banget.”Ryn berkomentar sambil menepuk-nepuk bedak ke pipinya di depan meja rias. Tatapannya masih ke cermin, tetapi sudut matanya jelas mengawasi pantulan Kylar yang baru keluar dari walk-in closet dengan setelan jas rapi.Kylar merapikan manset
Tok. Tok. Tok.Ketukan kecil terdengar dari pintu.“Ayah, maaf mengganggu.”Suara itu halus, rapi, dan terlalu sopan untuk ukuran anak kecil.Kylar langsung berdiri dan membuka pintu. Di luar, Ziva berdiri tegak dengan piyama pastel dan rambut yang sudah disisir rapi seperti hendak menghadiri rapat
Di rooftop, setelah pintu lift tertutup dan bayangan Kylar yang menggendong Ryn menghilang dari pandangan, suasana langsung berubah jadi ruang sidang darurat tanpa hakim.Naufal bergerak maju setengah langkah. Timing-nya presisi seperti biasa. Pria ini bukan hanya asisten, dia semacam damage contro












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak