LOGIN“Kita menikah selama dua tahun.” Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
View More“Mas ...” suara Ryn langsung bergetar. Wajahnya yang tadi dipenuhi kelegaan mendadak pucat. “Jangan bilang kamu amnesia.”Kael yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menoleh ke arah dokter. Padahal beberapa jam sebelumnya dokter sudah menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan Kylar baik. Tidak ada perdarahan otak. Tidak ada tanda-tanda kerusakan neurologis yang mengkhawatirkan.“Mas, kamu lupa sama aku?” Air mata kembali memenuhi mata Ryn. Dia berjalan mendekat lalu berhenti di sisi ranjang suaminya. “Mas, jangan bercanda. Aku nggak suka.”Kylar menatap wajah istrinya beberapa detik. Terlalu lama sampai dada Ryn kembali terasa sesak. Namun kemudian sudut bibir pria itu perlahan terangkat.“Mana mungkin.”Ryn membeku. Begitu juga Kael dan dokter.“Mana mungkin aku lupa sama istri aku yang mukanya paling berantakan kalau habis nangis begini,” sambung Kylar.“Mas nggak lucu! Jangan bercanda kayak gitu! Kamu udah bikin aku takut, tapi masih sempat-sempatnya bercanda?” protes Ryn sambil memu
Setelah dibujuk cukup lama oleh Kael, Ryn akhirnya bersedia meninggalkan rumah sakit menjelang sore.Bukan karena dia ingin pergi, melainkan karena ayah mertuanya hampir mengancam akan menyeretnya sendiri keluar dari sana apabila dia tetap memaksa menginap di rumah sakit.Memang ada ranjang tambahan dan sofa yang cukup nyaman di ruang rawat. Namun menurut Kael, berada di sana terus-menerus hanya akan membuat pikirannya semakin lelah.Jadi pada akhirnya dia menyerah. Setidaknya untuk beberapa jam.“Selalu aja rapi begini,” gumam Ryn begitu memasuki resort yang selama beberapa hari terakhir ditempati suaminya.Pandangan Ryn menyapu seluruh ruangan.Koper Kylar masih berada di dekat lemari. Jas yang sempat dipakai menghadiri pertemuan bisnis tergantung rapi. Bahkan meja kerja sementara yang digunakannya selama di Maldives masih tertata sempurna tanpa satu lembar kertas pun bergeser dari tempatnya.Hal itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru.Selama menikah, dia nyaris tidak pernah menemuk
“Selamat datang, Mbak.”Suara Naufal menyambut begitu Ryn keluar dari area kedatangan Bandara Internasional Velana. Pria itu langsung menghampiri dan mengambil koper yang tadi ditarik Ryn.Perjalanan panjang dari Jakarta terasa melelahkan, tetapi anehnya Ryn tidak terlalu merasakannya.Ya, pada akhirnya Kael benar-benar memberinya izin datang. Setelah pemeriksaan Gala menunjukkan bahwa kondisi Ryn dan bayinya baik-baik saja, tiket langsung dikirim pagi-pagi dengan segudang pesan yang kurang lebih isinya sama. Makan yang benar, jangan stres, jangan memaksakan diri, dan jangan membuat Kylar marah setelah pria itu sadar nanti.“Mas Naufal sehat?” tanya Ryn begitu menyadari bekas jahitan di punggung tangan pria itu saat menerima kopernya. “Padahal nggak usah jemput segala kalau masih belum sehat.”“Saya sehat, Mbak.” Naufal tersenyum kecil sambil mulai berjalan menuju area parkir. “Cuma luka-luka sedikit. Dokter malah bilang saya terlalu sehat buat orang yang baru habis kecelakaan.”Ryn ti
“Tapi apa, Pi? Mas Kylar kenapa?” desak Ryn.“Dia masih hidup.” Kael berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan hati-hati. “Kylar ditemukan beberapa jam yang lalu bersama beberapa orang dari timnya. Mereka sempat terombang-ambing cukup lama setelah kecelakaan itu terjadi.”Ryn langsung menutup mulutnya dengan tangan. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan seperti apa keadaan suaminya saat itu.“Terus? Tapi apa, Pi?”“Sekarang dia ada di rumah sakit.” Suara Kael terdengar lebih berat. “Tapi dia belum sadar.”Kalimat itu membuat kaki Ryn terasa lemas. Dia bahkan baru sadar bahwa sejak tadi dirinya menahan napas.“Dokter bilang benturan di kepala Kylar tidak menyebabkan kerusakan permanen,” lanjut Kael cepat, seolah tahu ke mana arah pikiran menantunya sekarang. “Hasil pemeriksaannya juga cukup baik. Kondisinya stabil dan tidak ada cedera yang mengancam nyawa.”“Terus kenapa belum sadar?” Suara Ryn mulai bergetar.“Dokter juga masih memantau perkembangannya.” Kael mengembuskan napas pela
Ryn berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih Kylar yang jelas kebesaran. Lengan yang digulung asal, bagian bawah yang jatuh longgar, memperlihatkan kaki jenjangnya dengan santai. Terlihat tidak berniat mengganggu, tapi justru terlalu mencolok untuk diabaikan.Ryn melangkah masuk tanpa ragu,
Apa Kylar berkata seperti ini karena masih marah dengan Ryn?Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala Ryn, menekan dari dalam, membuat dadanya semakin sesak. Dia berdiri di tempatnya, menatap pria itu, pria yang semalam masih memeluknya, menenangkan, mengatakan ‘kita’.Namun sekarang, tidak ada
“Aku udah booking satu lintasan. Kamu masuk duluan.” Kylar berujar santai begitu mereka tiba di area bowling.Ryn yang masih sibuk memperhatikan suasana sekitar langsung menoleh. “Loh? Mas mau ke mana?”Kylar tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menyapu ruangan lebih dulu, tenang, terukur, se
Ryn hanya menatap Kylar, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kalimat itu.“Hah?! Dibuang? Ke laut? Kok dibuang sih, Mas?!” protes Ryn akhirnya. Matanya membulat sempurna sekarang.Kylar tidak terlihat bersalah. Bahkan sedikit pun tidak. “Kesel,” jawabnya singkat.Ryn semakin tidak percaya.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore