LOGIN“Kita menikah selama dua tahun.” Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
View More“Selamat datang, Mbak.”Suara Naufal menyambut begitu Ryn keluar dari area kedatangan Bandara Internasional Velana. Pria itu langsung menghampiri dan mengambil koper yang tadi ditarik Ryn.Perjalanan panjang dari Jakarta terasa melelahkan, tetapi anehnya Ryn tidak terlalu merasakannya.Ya, pada akhirnya Kael benar-benar memberinya izin datang. Setelah pemeriksaan Gala menunjukkan bahwa kondisi Ryn dan bayinya baik-baik saja, tiket langsung dikirim pagi-pagi dengan segudang pesan yang kurang lebih isinya sama. Makan yang benar, jangan stres, jangan memaksakan diri, dan jangan membuat Kylar marah setelah pria itu sadar nanti.“Mas Naufal sehat?” tanya Ryn begitu menyadari bekas jahitan di punggung tangan pria itu saat menerima kopernya. “Padahal nggak usah jemput segala kalau masih belum sehat.”“Saya sehat, Mbak.” Naufal tersenyum kecil sambil mulai berjalan menuju area parkir. “Cuma luka-luka sedikit. Dokter malah bilang saya terlalu sehat buat orang yang baru habis kecelakaan.”Ryn ti
“Tapi apa, Pi? Mas Kylar kenapa?” desak Ryn.“Dia masih hidup.” Kael berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan hati-hati. “Kylar ditemukan beberapa jam yang lalu bersama beberapa orang dari timnya. Mereka sempat terombang-ambing cukup lama setelah kecelakaan itu terjadi.”Ryn langsung menutup mulutnya dengan tangan. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan seperti apa keadaan suaminya saat itu.“Terus? Tapi apa, Pi?”“Sekarang dia ada di rumah sakit.” Suara Kael terdengar lebih berat. “Tapi dia belum sadar.”Kalimat itu membuat kaki Ryn terasa lemas. Dia bahkan baru sadar bahwa sejak tadi dirinya menahan napas.“Dokter bilang benturan di kepala Kylar tidak menyebabkan kerusakan permanen,” lanjut Kael cepat, seolah tahu ke mana arah pikiran menantunya sekarang. “Hasil pemeriksaannya juga cukup baik. Kondisinya stabil dan tidak ada cedera yang mengancam nyawa.”“Terus kenapa belum sadar?” Suara Ryn mulai bergetar.“Dokter juga masih memantau perkembangannya.” Kael mengembuskan napas pela
“Bang Agis.”Lala membuka pesan grup mereka lalu memperlihatkannya kepada Ryn.[Bukannya nggak mau datang, tapi aku takut malah ikut nangis kalau lihat kalian. Jadi aku sama Mas Leon kirim makanan aja. Tolong dimakan ya. Dan jangan nangis terus. Kalian jelek kalau nangis.]Belum sempat mereka bereaksi, pesan berikutnya dari Agis langsung muncul lagi.[Ya meskipun sekarang aku juga lagi nangis sih.]“Dia nangis tapi masih sempat ngatain orang.” Air mata Ryn kembali jatuh, tetapi kali ini disertai tawa kecil yang terdengar aneh. Karena dia bisa membayangkan Agis mengetik pesan itu sambil menangis sendiri.Tidak lama kemudian pesan baru muncul lagi. Kali ini dari Leon.[Boleh nangis. Nggak usah ditahan. Tapi jangan sampai nggak makan dan nggak istirahat.]Pesan berikutnya langsung menyusul.[Dan kalau kalian sakit, nanti siapa yang bakal marahin Agis kalau dia godain janda di divisi marketing?]Lala langsung tertawa di tengah air matanya sendiri. “Mas Leon tuh ya ...”Ryn ikut tersenyum t
Di seberang sana, Kael terdiam sesaat sebelum menjawab, “Maaf, Ryn. Karena cuaca buruk, pencariannya agak terhambat. Tapi sekarang Papi sudah dalam perjalanan dari Paris ke Maldives. Begitu dapat kabar, Papi pasti langsung kasih tahu kamu.”Harapan yang sempat muncul di dada Ryn kembali jatuh. Artinya sampai sekarang Kylar masih belum ditemukan.“Kamu baik-baik saja?” lanjut Kael. “Papi dengar dari Pak Bimo kamu sempat pingsan.”Pertanyaan itu membuat Ryn menunduk. Tangannya semakin erat menggenggam ponsel.Baik-baik saja? Bagaimana mungkin dia baik-baik saja ketika suaminya hilang di tengah laut dan tidak ada seorang pun yang bisa memastikan kondisinya?Namun dia juga tahu Kael tidak benar-benar sedang menanyakan kondisi fisiknya. Ayah mertuanya hanya sedang berusaha memastikan bahwa dia masih sanggup bertahan menghadapi semua ini.Kael tampaknya menyadari keheningan tersebut. “Harusnya Papi tidak usah tanya itu ya?” ujarnya pelan. “Pokoknya kamu jaga diri baik-baik. Papi akan lakukan
Ryn berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih Kylar yang jelas kebesaran. Lengan yang digulung asal, bagian bawah yang jatuh longgar, memperlihatkan kaki jenjangnya dengan santai. Terlihat tidak berniat mengganggu, tapi justru terlalu mencolok untuk diabaikan.Ryn melangkah masuk tanpa ragu,
Apa Kylar berkata seperti ini karena masih marah dengan Ryn?Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala Ryn, menekan dari dalam, membuat dadanya semakin sesak. Dia berdiri di tempatnya, menatap pria itu, pria yang semalam masih memeluknya, menenangkan, mengatakan ‘kita’.Namun sekarang, tidak ada
“Aku udah booking satu lintasan. Kamu masuk duluan.” Kylar berujar santai begitu mereka tiba di area bowling.Ryn yang masih sibuk memperhatikan suasana sekitar langsung menoleh. “Loh? Mas mau ke mana?”Kylar tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menyapu ruangan lebih dulu, tenang, terukur, se
Ryn hanya menatap Kylar, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kalimat itu.“Hah?! Dibuang? Ke laut? Kok dibuang sih, Mas?!” protes Ryn akhirnya. Matanya membulat sempurna sekarang.Kylar tidak terlihat bersalah. Bahkan sedikit pun tidak. “Kesel,” jawabnya singkat.Ryn semakin tidak percaya.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore