"Sialan!" maki Amara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan marah. Dia sadar, dia sedang hamil, dan karena itu, dia harus mengatur amarahnya meski darahnya sangat mendidih.Adrian kemudian menyarankan Amara untuk memanggil kepala divisi pemasaran segera."Panggil bajingan itu menghadapmu, lalu minta pertanggungjawaban. Suruh dia mempertanggungjawabkan perbuatannya sebelum aku menyeretnya paksa ke kantor polisi. Perusahaanmu harus bersih dari benalu selain suamimu yang pecundang itu.""Aku akan memecatnya hari ini," desis Amara meraih gagang telepon mejanya kasar.Jari telunjuknya baru saja bersiap menekan tombol nomor ekstensi darurat. Emosinya benar-benar sudah berada di puncak batas toleransi maksimal seorang wanita hamil.Sebelum Amara sempat memanggil kepala divisi melalui telepon meja, suara teriakan terdengar keras dari luar. Keributan luar biasa mendadak pecah di area pantri umum lantai dua belas. Jeritan histeris beberapa perempuan bersahutan tiada henti menembus dindin
最後更新 : 2026-06-06 閱讀更多