INICIAR SESIÓNSore harinya, Adrian dan Amara pulang ke rumah mewah mereka membawa perasaan sangat lega. Beban berat di pundak sang pimpinan perusahaan itu seketika luntur saat pintu utama tertutup rapat.
Mengabaikan rasa lelah, wanita cantik ini langsung memutar tubuhnya menghadap sang kekasih.
Tiba di kamar utama, Amara langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Adrian. Senyum manis terukir jelas di wajah pucat ibu hamil tersebut. Amara memberikan ciuman terima kasih yang cukup panjang t
Sosok misterius melangkah masuk membawa sebuah senter kecil yang menyilaukan mata Bu Ratih.Menurunkan perlahan benda elektronik tersebut, Adrian menatap heran ibu dari kekasihnya. Nyonya besar itu tampak meringkuk ketakutan di bawah kolong meja kayu jati. Padahal, ruangan kerja ini seharusnya sudah kosong semenjak asisten rumah tangga mematikan lampu depan."Ibu sedang apa bersembunyi di bawah sana gelap-gelapan?" tanya Adrian mengarahkan sisa cahaya senter ke lantai. Pria berjas tidur itu melangkah maju memangkas jarak di antara mereka berdua.Terkejut melihat menantunya berdiri tegap di ambang pintu, Bu Ratih buru-buru merangkak keluar dari tempat persembunyiannya."Saya sedang mencari cincin berlian yang tidak sengaja jatuh bergulir ke lantai. Tiba-tiba saja lampu mejanya mati akibat bohlam putus. Alhasil saya terpaksa meraba-raba keramik dalam kondisi gelap gulita begini."Membersihkan debu di rok satin mewahnya, wanita paruh baya ini mencoba tersenyum senatural mungkin. Tentu sa
Opsi pertama di lembar awal menunjukkan penemuan surat adopsi masa kecil Amara yang sengaja ditutupi oleh Pak Arman.Fakta mengejutkan ini seketika membuat darah di wajah sang nyonya besar berdesir sangat cepat. Salinan akta kelahiran palsu itu membuktikan status anak angkat Amara secara gamblang."Jadi suamiku memalsukan semua dokumen kelahiran anak perempuanku?" gumam Bu Ratih meremas pinggiran kertas tersebut.Pria di seberangnya itu hanya mengangguk mantap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Detektif tersebut kemudian membalik lembaran berikutnya secara perlahan. Tinta hitam di atas kertas itu menyajikan temuan investigasi yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.Lembar kedua menampilkan opsi bukti bahwa kecelakaan perusahaan Pak Arman di masa lalu sebenarnya direncanakan oleh orang dalam keluarga ini. Data asuransi dan laporan kepolisian lama itu terlampir utuh di sana."Ternyata kecelakaan di pabrik utama itu murni bentuk sabotase terenc
Selesai membersihkan diri di kamar mandi, Adrian memesan makanan mewah dari restoran untuk makan malam mereka berdua di kamar. Beragam menu bergizi tinggi sengaja dipilih khusus untuk mempercepat pemulihan tenaga sang kekasih. Pesanan tersebut tiba sangat cepat melalui layanan pesan antar kelas prioritas.Aroma sedap dari potongan daging panggang dan mangkuk sup asparagus langsung mendominasi penjuru ruangan. Amara makan dengan sangat lahap karena merasa terbebas dari beban pikiran kantor.Tindakan suap-suapan manja ini langsung memicu ledakan gairah hangat di perut Amara."Makanan restoran ini rasanya jauh lebih enak kalau disuapin langsung sama tangan pacarku sendiri." Amara mengunyah daging tersebut perlahan."Perhatian kecil ini bikin aku makin enggan melepaskan diri dari pelukan hangatmu. Tolong suapin aku sup asparagusnya juga biar tenggorokanku kembali terasa lega. Aku suka banget melihat raut wajah seriusmu saat melayani kebutuhan makanku malam in
Sore harinya, Adrian dan Amara pulang ke rumah mewah mereka membawa perasaan sangat lega. Beban berat di pundak sang pimpinan perusahaan itu seketika luntur saat pintu utama tertutup rapat.Mengabaikan rasa lelah, wanita cantik ini langsung memutar tubuhnya menghadap sang kekasih.Tiba di kamar utama, Amara langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Adrian. Senyum manis terukir jelas di wajah pucat ibu hamil tersebut. Amara memberikan ciuman terima kasih yang cukup panjang tepat di bibir Adrian."Makasih banyak buat perlindungan kamu hari ini, Sayang." Amara menatap mata pria di depannya penuh puja."Kehadiranmu benar-benar menyelamatkan nyawaku dan nasib perusahaanku dari kehancuran total. Para manajer korup itu pasti akan terus membodohiku kalau kamu tidak mengambil alih kendali rapat. Kamu memang pacar paling hebat buatku dan bayi kita."Merespons godaan itu, tangan kekar sang dokter segera melingkar di pinggang ramping wanitanya.Adr
Mengambil keputusan mutlak, sang ahli bedah enggan memberikan celah negosiasi sedikit pun. Adrian menginstruksikan pemutusan kontrak katering secepatnya melalui divisi legal. Adrian juga memerintahkan audit ulang seluruh data pengeluaran divisi pemasaran sejak tahun lalu."Tolong beri saya kesempatan kedua dan jangan laporkan penipuan ini ke polisi," isak Joko.Kepala divisi pemasaran menangis memohon ampun agar tidak dilaporkan ke polisi."Saya berjanji akan mengembalikan semua uang curian itu utuh bulan depan. Tolong jangan hancurkan keluarga saya gara-gara kasus katering busuk ini, Dokter Adrian. Saya benar-benar ditekan oleh Bapak Doni untuk memilih vendor temannya tersebut."Pria korup itu nekat bersimpuh di atas lantai kotor demi memelas belas kasihan. Adrian merasa sangat jijik melihat drama murahan dari perusak aset kekasihnya tersebut.Dengan ekspresi dingin, Adrian tidak memedulikan tangisan tersebut dan menyuruh Bambang membawa kepala di
Gelas kaca bening berisi cairan murni itu segera disodorkan tepat ke depan bibir pucat Amara."Minum ini sampai habis biar perutmu terasa lebih enak," perintah Adrian merapikan rambut kusut kekasihnya. Air putih itu sukses membasahi kerongkongan Amara yang sangat kering.Seperti biasa, sentuhan lembut pria ini selalu berhasil meruntuhkan beban berat di pundak Amara. Adrian menyuruh Amara berbaring di sofa untuk beristirahat. Melalui belaian tangan hangat sang dokter, ibu hamil tersebut perlahan tertidur menjauhi kepenatan dunia nyata.Merasakan elusan hangat di area punggungnya, Amara menyandarkan tubuh lemasnya ke dada bidang pria kesayangannya. Dokter jenius itu baru saja selesai menenangkan Amara di ruangan kerjanya.Deru napas wanita hamil itu perlahan kembali teratur sesudah melewati serangan panik luar biasa siang ini.Aroma maskulin dari tubuh kekasihnya selalu sukses meruntuhkan dinding ketakutan di kepala sang pimpinan. Amara mengangguk pa







