Malam turun perlahan di tengah hutan sunyi, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Api unggun kecil berderak pelan, menjadi satu-satunya sumber cahaya di antara wajah-wajah tegang yang dipenuhi kecemasan.Di tengah lingkaran para penjaga karavan, seorang gadis terbaring lemah, napasnya tipis, kulitnya pucat, dan urat-urat hitam mulai merambat di bawah permukaan kulitnya seperti bayangan kematian yang perlahan mendekat.Na Sya.Waktu terus berjalan, namun harapan semakin menipis.“Syarat?” ulang Mo Chen dengan nada berat, alisnya berkerut dalam. Amarah dan kecurigaan bercampur menjadi satu di matanya.Pemuda berjubah hitam di hadapannya, tetap berdiri tenang, seolah suasana mencekam ini tidak menyentuhnya sedikit pun.“Aku seorang pengembara dan ingin pergi ke kota berikutnya. Kalau kalian memberikan tumpangan gratis, maka aku akan menolong gadis itu, bagaimana?” Sunyi.Permintaan itu… terlalu sederhana.Justru karena terlalu sederhana, semua orang menjadi semakin curiga.
Last Updated : 2026-02-15 Read more