เข้าสู่ระบบDemi menyelamatkan Ibunya, Zhao Ling mengorbankan masa mudanya untuk menjadi seorang Alkemis. Karena dirinya tidak memiliki Nadi spiritual, membuatnya direndahkan, dihina, dan dianggap tak lebih dari serangga oleh keluarganya sendiri. Namun takdir tetap kejam. Ibundanya meninggal, meninggalkan Zhao Ling dengan dendam yang membara, dan tekad untuk menghancurkan mereka semua. Tanpa Nadi spiritual, balas dendam itu mustahil. Sampai Zhao Ling menyadari ada sesuatu yang terpenjara di dalam tubuhnya. Sebuah Sosok Kegelapan Terlarang, sumber kehancuran kuno yang pernah hampir memusnahkan dunia. Makhluk itu menawarkan kekuatan. Sebagai gantinya, nyawa Zhao Ling dipertaruhkan. Kini Zhao Ling dihadapkan pada satu pilihan: menyegel kejahatan itu demi kedamaian dunia, atau melepaskannya, dan menjadi bencana berikutnya. Saksikan dan nantikan adegan-adegan penuh intrik yang menegangkan di setiap babnya!
ดูเพิ่มเติมMatahari perlahan tenggelam ke arah barat, seperti hembusan napas terakhir dari hari yang kelelahan. Langit berwarna jingga kusam menggantung rendah di atas perbukitan, sementara bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak yang sempit. Angin membawa aroma tanah basah dan daun kering, menyentuh kulit dengan dingin yang samar, pertanda malam tak lama lagi akan mengambil alih dunia.
Seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan itu. Pakaian lusuh melekat di tubuhnya yang kurus, namun jelas terlatih oleh kerja keras yang tak kenal lelah. Di punggungnya tergantung tas keranjang anyaman, penuh sesak oleh tanaman obat: akar pahit, daun berurat halus, dan bunga liar yang hanya tumbuh di lereng tertentu. Setiap langkahnya mantap, meski pundaknya sedikit turun menahan beban yang bagi dunia tak berarti apa-apa, namun bagi hidupnya terasa begitu berat. Pemuda itu adalah Zhao Ling. Sebagai putra sulung Klan Zhao, ia seharusnya berjalan dengan kepala tegak. Namun kenyataannya, sejak fajar ia mendaki gunung seorang diri, bukan untuk berlatih kultivasi, melainkan mengumpulkan tanaman obat demi mempertahankan nyawa ibundanya yang sakit-sakitan. Kediaman Klan Zhao berdiri megah di Kota Qingshi, wilayah pinggir Benua Tianxuan. Namun di sudut belakangnya, tersembunyi sebuah bangunan kecil dan kumuh. Tempat Zhao Ling dan ibunya tinggal, terasing dari kemewahan keluarga besar itu. Zhao Ling mempercepat langkah. Ia ingin segera meramu obat sebelum malam sepenuhnya turun. Namun langkahnya mendadak terhenti di depan gudang belakang kediaman utama. Jantungnya berdetak keras. Dari balik pintu kayu yang setengah tertutup, terdengar suara lembut yang tak asing di telinganya, mendayu rendah, seperti bisikan yang dipermanis. “Kenapa kamu masih malu-malu? Bukankah kamu juga menginginkannya?” Suara lain menyahut, lebih berat, basah oleh tawa tertahan. “Jika kau benar-benar ingin aku pergi, kau sudah melangkah menjauh sejak tadi.” Zhao Ling menahan napas. “Kak Chen… Kamu berdiri terlalu dekat,” ucap suara perempuan itu pelan, namun tubuhnya tak bergerak menjauh. “Haha… Lalu apa hebatnya Zhao Ling?” suara Zhao Chen terdengar merendahkan. “Dia hanya sampah tanpa nadi spiritual. Lebih baik kau bersamaku. Aku bisa memberimu masa depan.” Hening. Hanya suara napas yang saling bertaut, cukup jelas untuk menghancurkan sisa keyakinan Zhao Ling. “Sebenarnya…” suara Yue Ruo terdengar ragu sesaat, lalu mantap. “Sejak awal aku memang menyukaimu, Kak Chen. Zhao Ling hanyalah alat. Tanpanya, aku tak akan bisa mendekatimu.” Dunia Zhao Ling runtuh. Tangannya mengepal hingga urat-uratnya menonjol, dadanya sesak seolah udara menolak masuk. BRAKK! Pintu kayu terhempas dari engselnya. Zhao Ling berdiri di ambang pintu, napasnya berat, mata merah menyala menahan amarah. Di hadapannya, Zhao Chen dan Yue Ruo terpaku. Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut kebetulan. “Yue Ruo…” suara Zhao Ling bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena marah yang dipaksa tenang. “Dasar kamu lacur hina! Berani-beraninya mempermainkanku!” Zhao Chen segera melangkah ke depan, menutupi Yue Ruo. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Kakak seharusnya sadar diri. Tanpa nadi spiritual, kau bahkan tak layak disebut manusia di klan ini. Jangan bermimpi bisa memiliki wanita cantik sepertinya.” “Ini bukan urusanmu!” Zhao Ling maju selangkah. “Minggir.” “Hoo… Memangnya kamu bisa apa? Sudah sewajarnya yang kuat mendapatkan segalanya,” balas Zhao Chen merendahkan sang kakak, menarik Yue Ruo ke dalam pelukannya yang terlihat memasang senyum licik diparasnya yang indah. “BRENGSEK!” Amarah Zhao Ling meledak. Ia menerjang tanpa ragu, namun sebelum tinjunya menyentuh sasaran, sebuah kibasan tangan ringan menghantam dadanya. BRAKK! Tubuh Zhao Ling terpental, menghantam pagar batu hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya. “Ah, maaf,” Zhao Chen berkata santai. “Sepertinya aku tak sengaja memakai satu persen kekuatanku.” Zhao Ling terbatuk hebat. Namun di balik rasa sakit itu… ada sesuatu yang aneh. Darah yang menetes ke tanah terasa panas. Dadanya berdenyut pelan, seperti jantung lain yang terbangun oleh kebencian. Namun rasa itu lenyap secepat datangnya. “Zhao Ling, jangan berkecil hati, meskipun kamu putra sulung keluarga Zhao. Tapi dengan kondisimu saat ini. Jangankan menjadi kepala keluarga, untuk bertahan hidup saja sudah sulit. Jadi, jangan salahkan aku karena mencari pria yang lebih-” “DIAM! Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apapun! Jangan harap kalian bisa hidup tenang setelah melakukan hal ini kepadaku!” “Zhao Ling! Kau-” Belum sempat Yue Ruo menyelesaikan perkataannya, Zhao Ling menyela dengan suara lantang. Menatap mereka dengan tatapan kebencian. “Kak Ling!” Suara cemas memecah suasana. Seorang gadis berlari tergesa-gesa mendekat, napasnya terengah. “Ibu… Ibu pingsan lagi!” Wajah Zhao Ling pucat. Tanpa menoleh lagi, ia mengais tanaman obat yang berserakan, lalu berlari pergi, meninggalkan tawa merendahkan di belakangnya. “Kamu lihat? Dia seperti pengemis yang sedang mengais sampah untuk bertahan hidup. Sangat menyedihkan. Membuat malu klan Zhao saja. Cuihh!” Seperti tak puas melihat penderitaan Zhao Ling, Yue Ruo merencanakan sesuatu di dalam hatinya, lantas berbisik kepada Zhao Chen sambil tersenyum licik. *** Kediaman kecil itu sunyi, terlalu sunyi. Atap kayu tua berderit pelan diterpa angin, seolah ikut menahan napas. Aroma ramuan obat yang pahit memenuhi ruangan sempit itu, bercampur dengan bau lembap kayu lapuk. Zhao Ling berlari masuk tanpa sempat menutup pintu. “Ibu!” Di atas ranjang kayu sederhana, seorang wanita terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, hampir transparan, seakan darah dan vitalitasnya telah lama terkuras. Tubuhnya kurus hingga tulang-tulangnya terlihat jelas di balik kain sederhana yang dikenakannya. Rambut yang seharusnya hitam kini memutih di banyak bagian, tanda umur dan penderitaan yang tak seharusnya ia tanggung. Zhao Ling berlutut di samping ranjang, tangannya gemetar saat menggenggam pergelangan tangan Ibunya. Denyut nadinya… lemah. Terputus-putus. Seperti nyala api yang tinggal menunggu hembusan terakhir. “Ibu… Aku sudah pulang,” bisiknya, suaranya bergetar. Kelopak mata wanita itu bergetar pelan, terbuka sedikit. Tatapannya kosong, namun ketika melihat Zhao Ling, secercah kehangatan samar muncul. “Ling’er…” bibirnya bergerak nyaris tanpa suara. “Maafkan Ibu…” Kata-kata itu menghantam dada Zhao Ling lebih keras daripada pukulan mana pun. “Jangan bicara seperti itu,” ucapnya cepat, menahan air mata. “Aku akan menyembuhkan Ibu seperti biasa. Aku janji!” Ia beralih memeriksa tubuh Ibunya dengan cermat, keningnya berkerut semakin dalam. “Penyakitnya kambuh terlalu cepat…” gumamnya. “Vitalitas Ibu hampir habis.” Qin Lan berdiri di samping pintu, wajahnya pucat, kedua tangannya saling menggenggam kuat. “Kak Ling… Bagaimana kondisi Nyonya?” Zhao Ling menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menahan runtuhnya dunia. “Kalau seperti ini…” suaranya serak, “Ibu tidak akan bertahan sampai tengah malam.” Qin Lan tersentak. “T-tidak mungkin…” “Ada satu cara.” Zhao Ling berdiri perlahan. “Pil Hening Nadi Giok. Jika aku bisa mendapatkannya, masih ada harapan.” Wajah Qin Lan semakin pucat. “Tapi kak… kita sudah tidak punya uang. Bahkan untuk membeli satu lembar daun Teratai Giok pun—” Zhao Ling terdiam. Ia menoleh ke arah Ibunya sekali lagi. Wanita itu kini memejamkan mata, napasnya semakin dangkal, seolah setiap tarikan adalah pertarungan melawan kematian. “Aku akan pergi ke Aula Pertemuan,” ucap Zhao Ling mengambil keputusan. “Aku akan memohon pada Tetua Agung.” Qin Lan ingin mengatakan sesuatu, namun kata-katanya tertelan ketakutan. Zhao Ling berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan kediaman kecil itu dengan hati yang seakan diremas tangan tak kasatmata. *** Aula Pertemuan Klan Zhao berdiri megah, kontras mencolok dengan kediaman kecil di belakang kompleks. Pilar-pilar batu besar menjulang, lantainya dingin dan bersih, seolah penderitaan manusia tidak pernah menginjak tempat itu. Zhao Ling berlutut di depan pintu tertutup rapat. “Ayah! Tetua Agung!” serunya lantang. “Tolong izinkan aku masuk!” Tak ada jawaban. Ia mengepalkan tangan, lalu bersujud dalam-dalam. “Tetua Agung! Penyakit Ibuku kambuh! Aku mohon, pinjamkan sedikit uang untuk membeli tanaman obat. Aku akan menggantinya! Aku bersumpah!” Hening beberapa detik. Lalu suara serak dan berat terdengar dari balik pintu, dingin seperti angin musim dingin. “Zhao Ling. Kau berani mengganggu pertemuan para tetua hanya untuk urusan sepele?” Sepele. Kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau. “Ini bukan urusan sepele!” Zhao Ling menahan suara agar tak pecah. “Nyawa Ibuku dalam bahaya!” “Huh…” suara itu mendengus. “Kau dan ibumu sudah lama menjadi beban keluarga. Jika bukan karena pil tingkat rendah yang kau buat, kalian sudah diusir sejak lama.” Tubuh Zhao Ling gemetar. “Karena itu-” lanjut suara Tetua Agung tanpa emosi. “Kami tidak punya kewajiban membantumu. Urusanmu adalah urusanmu sendiri.” Dunia Zhao Ling terasa runtuh. “Tidak… Tetua, aku mohon. Tolong beri tahu Ayah. Satu kali saja-” “BERISIK!” Sebelum Zhao Ling sempat menyelesaikan kalimatnya. WUSHHH! Hempasan angin kuat menghantam tubuhnya dari balik pintu tertutup. BRAKKK! Tubuh Zhao Ling terpental, menghantam pilar batu dengan keras. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, darah muncrat dari mulutnya dan membasahi lantai dingin aula. Ia terbatuk hebat, lututnya gemetar saat berusaha bangkit. “Uhuk… Uhuk…” Darah menetes ke lantai, merah kontras dengan batu putih. “Kenapa…” suaranya nyaris tak terdengar. “Kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini…?” Tak ada jawaban. Hanya keheningan dingin Aula Pertemuan yang menyambut keputusasaannya. Jauh di dalam dadanya, sesuatu yang tertidur lama… mulai berdenyut perlahan. ***Aliran benang merah terus merambat, samakin masuk melalui pembuluh darah membentuk simpul yang rumit.Perasaan dingin sedikit menusuk perlahan memenuhi laut kesadaran, dan kemudian,Na Sya membuka kedua mata, dengan cepat bangun dari tempat tidurnya, memperlihatkan Zhao Ling tengah duduk bersila tak jauh dari tempatnya berada.“Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku?” tanya Na Sya dengan suara tajam, mengingat apa yang dilakukan Zhao Ling sebelum Ia kehilangan kesadaran.“Maaf tapi aku terpaksa melakukannya,” balas Zhao Ling tenang seraya membuka kedua mata pelan.“Kamu! Brengsek, jangan-jangan kamu sudah menodaiku ya?” Dengan reflek Na Sya menyilangkan kedua tangan di depan dada, seraya menatap Zhao Ling dengan tatapan marah menunggu jawaban yang menggantung di dalam dugaan liarnya.Mendengar hal itu, Zhao Ling yang polos menatapnya heran, seraya berkata,“Menodai? Apa maksudnya itu?” “Jangan berlagak bodoh! Seumur-umur aku belum pernah melakukannya. Beraninya kamu mengambil keperawa
Meskipun Zhao Ling berada di gerbong paling belakang, namun pendengarannya yang tajam mampu mendengar pembicaraan mereka.Ia tidak menyangka, kabar tentangnya sudah sampai di Kota Cangyun, membuat Zhao Ling harus memikirkan segala cara untuk menghindari pemeriksaan itu.“Brengsek! Kalau sampai ketahuan maka akan sulit untuk kabur. Aku harus memikirkan jalan keluarnya,” gumamnya mencoba berfikir keras, mengalihkan pandangan ke segala arah mencari solusi.Sisi lain di bagian depan karavan.Mendengar panggilan berat itu, membuat Na Sya, Luo Yan dan Mo Chen berbalik arah, lantas menautkan kedua tangan ke depan memberikan hormat kepadanya.“Tenyata panglima Jin Bo Ah, sudah lama tidak bertemu,” ucap Na Sya seraya berbalik arah.Seorang pria paruh baya berusia 40 tahunan berdiri tegak di hadapan Na Sya. Sorot mata setajam elang dengan rambut putih kombinasi antara kegagahan dan kewibawaan.Keduanya bertemu, saling bertukar tatapan singkat dengan senyum tipis tergaris di paras masing-masing.
Cahaya mentari pagi perlahan menyusup di antara dedaunan hutan, memantulkan kilau lembut pada embun yang belum sempat menguap. Suara roda kereta yang berguncang di atas jalan berbatu terdengar berirama pelan, bercampur dengan kicau burung yang menyambut hari baru.Di dalam gerbong paling belakang, seorang pemuda berjubah hitam membuka mata dengan berat.Kesadarannya kembali setelah semalam tenggelam dalam rasa sakit yang hampir merenggut nyawanya. Tubuhnya masih lemah, tetapi Ia masih hidup.“Arghh…! A-Aku selamat?” gumam Zhao Ling terbata pelan sampai tak terdengar, menahan pusing kian bersarang di dalam kepalanya.Menatap kedua tangan, Zhao Ling mencoba merasakan energi yang mengalir di setiap pembuluh nadinya, dan benar saja, Ia bisa merasakan peningkatan setelah berbagi racun mematikan dengan Na Sya.“Huuhh… Sial sekali hidupku. Tak dianggap sebagai keluarga, dicampakkan oleh gadis murahan, bahkan untuk menjadi sesorang pendekar kuat aku harus mengonsumsi semacam racun mematikan.
Malam turun perlahan di tengah hutan sunyi, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Api unggun kecil berderak pelan, menjadi satu-satunya sumber cahaya di antara wajah-wajah tegang yang dipenuhi kecemasan.Di tengah lingkaran para penjaga karavan, seorang gadis terbaring lemah, napasnya tipis, kulitnya pucat, dan urat-urat hitam mulai merambat di bawah permukaan kulitnya seperti bayangan kematian yang perlahan mendekat.Na Sya.Waktu terus berjalan, namun harapan semakin menipis.“Syarat?” ulang Mo Chen dengan nada berat, alisnya berkerut dalam. Amarah dan kecurigaan bercampur menjadi satu di matanya.Pemuda berjubah hitam di hadapannya, tetap berdiri tenang, seolah suasana mencekam ini tidak menyentuhnya sedikit pun.“Aku seorang pengembara dan ingin pergi ke kota berikutnya. Kalau kalian memberikan tumpangan gratis, maka aku akan menolong gadis itu, bagaimana?” Sunyi.Permintaan itu… terlalu sederhana.Justru karena terlalu sederhana, semua orang menjadi semakin curiga.
Rasa sakit itu datang seperti mimpi buruk yang tak berujung.Setiap pukulan terasa menghancurkan tulang. Setiap tarikan napas seperti pisau yang menggores paru-paru. Lebih mengerikan lagi nadi spiritual yang dulu mengalir hangat kini terasa seperti direnggut paksa, satu per satu nadinya terputus s
“Zhao Ling!”Suara berat itu menggema di dalam lautan kesadarannya, bergulung seperti guntur yang terperangkap di balik langit hitam tanpa batas. Gelap. Sunyi. Dingin. Zhao Ling merasa dirinya seperti terbenam di dasar jurang, tak mampu bergerak, hanya bisa merasakan kehadiran kelam yang mengintai
Hujan belum berhenti.Langit Kota Qingshi masih gelap, seolah malam enggan melepas tempatnya. Air mengalir di sela batu dan selokan, membawa bau besi dan lumpur. Di kediaman kecil di sudut klan, Zhao Ling berdiri kaku di depan ranjang kayu.Tubuh Ibunya sudah Ia tutup dengan kain putih. Ia menatap
Sedari awal Zhao Ling memang tidak berharap banyak kepada keluarganya, namun apabila ada secercah harapan apapun akan dia lakukan meski harus berlutut menghinakan diri.Kekecewaan memenuhi hati dan pikirannya. Ia bangkit seraya menatap Aula Pertemuan dengan penuh kebencian.Namun Zhao Ling tak berd






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.