LOGIN“Zhao Ling!”
Suara berat itu menggema di dalam lautan kesadarannya, bergulung seperti guntur yang terperangkap di balik langit hitam tanpa batas. Gelap. Sunyi. Dingin. Zhao Ling merasa dirinya seperti terbenam di dasar jurang, tak mampu bergerak, hanya bisa merasakan kehadiran kelam yang mengintai dari balik kabut pekat. Bukan amarah. Bukan pula niat membunuh. Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, keberadaan purba yang membuat naluri manusia ingin berlutut dan memohon. Tubuh Zhao Ling bergetar hebat. Seketika, sepasang matanya terbuka. Langit malam bertabur bintang menyambut pandangannya. Angin dingin menyapu wajahnya, menusuk hingga ke tulang. Kepalanya berdenyut hebat, ingatan tentang pertarungan sebelumnya muncul terputus-putus seperti mimpi buruk yang belum selesai. “Kenapa aku… Ada di sini?” gumamnya lirih. “Bukankah sebelumnya aku sedang bertarung melawan para tua bangka itu?” gumam Zhao Ling tipis sedikit terheran. *** “Tetua Agung! Kami sudah tidak kuat lagi!” Pekikan salah satu tetua menggema, suaranya dipenuhi kepanikan. Keringat bercucuran, wajahnya pucat pasi saat mempertahankan formasi tingkat tinggi yang nyaris menguras seluruh energi hidup mereka. “Bunuh berandal itu sekarang!” Tatapan Tetua Agung mengeras. Tak ada lagi keraguan di wajah tua itu. “Zhao Ling…” suaranya dingin, penuh vonis. “Terimalah hukumanmu!” Segel tangan terangkat ke langit. “HUKUM PENGHANCUR SUKMA!” Langit seakan retak. Sebuah Tapak Tangan raksasa berwarna emas muncul dari kehampaan, dipenuhi niat membunuh yang menyesakkan dada. Tekanan spiritualnya membuat udara bergetar, tanah merintih, dan langit meraung ketakutan. Dalam satu hentakan tanpa belas kasihan- BRAAAKKK! Tapak tangan itu menghantam turun. Gravitasi di sekitar Zhao Ling melonjak berkali-kali lipat. Tanah di bawah kakinya retak, tubuhnya dipaksa berlutut. Tulang-tulangnya berderit keras, darah mengalir dari sudut bibirnya. “UHUK!” Darah hitam menyembur. Namun Zhao Ling menolak tunduk. “AKU… TIDAK… AKAN… BERLUTUT!” Aura kegelapan meledak dari dalam tubuhnya. Nadinya berdenyut panas, racun dan kekuatan terlarang bercampur menjadi satu. Ia mengepalkan tangan, lalu menghantamkan pukulan ke langit di bawah tekanan maut itu. JELEDAAARRRR! Ledakan dahsyat mengguncang bumi. Kediaman keluarga Zhao hancur dalam sekejap. Rumah-rumah runtuh, formasi retak, jeritan panik menggema ke segala penjuru. Langit dan bumi bergetar seakan dunia hendak runtuh. Dari kejauhan, orang-orang hanya bisa terpaku ketakutan. “Apa… Apa yang sebenarnya terjadi?” Tak ada yang menjawab. Yang tersisa hanyalah puing-puing dan ketakutan mendalam. Formasi Pembunuh berputar. Cahaya simbol-simbol kuno menyala di udara, membentuk jaring raksasa yang menutup langit di atas Zhao Ling. Tekanan spiritual turun seperti gunung runtuh, menghantam tubuhnya dari segala arah. Zhao Ling terhuyung. “UHUK—!” Darah hitam kembali menyembur dari mulutnya, kali ini lebih banyak. Tubuhnya gemetar hebat, tulang-tulangnya berderit seakan hendak hancur. Meridian di dalam tubuhnya terbakar, lalu membeku, lalu terbakar kembali, rasa sakitnya membuat penglihatan Zhao Ling berkunang-kunang. Namun Ia tetap berdiri. “Berlutut!” bentak salah satu Tetua, suaranya menggema bersama formasi. “Akui dosamu!” Zhao Ling mengangkat kepala perlahan. Matanya gelap, kosong, dan di baliknya tersimpan kebencian yang tak lagi disembunyikan. “Dosa?” suaranya parau. “Dosaku hanya satu… Terlahir sebagai anak yang kalian anggap hina.” Ia melangkah maju. Satu langkah. Tanah di bawah kakinya retak, membuat para tetua terkejut. “Tekan dia! Jangan beri celah!” teriak Tetua Agung. Gelombang cahaya formasi menghantam Zhao Ling dari depan. Tubuhnya terpental, menghantam tembok aula hingga runtuh. Batu dan kayu berjatuhan, menimbun tubuhnya. “Sudah berakhir,” gumam salah satu tetua dengan napas berat. Namun detik berikutnya- BOOM! Puing-puing meledak ke segala arah. Zhao Ling berdiri kembali. Pakaiannya robek, dadanya berdarah, namun aura hitam di sekelilingnya justru semakin pekat. Racun yang beredar di nadinya bercampur dengan kekuatan kegelapan, menciptakan aura yang membuat para tetua merasakan ketakutan murni. “Ini bukan kekuatan manusia…” bisik seorang tetua dengan wajah pucat. Zhao Ling menyerang. Ia bergerak tanpa teknik, tanpa pola, hanya mengandalkan naluri dan amarah. Tinju pertamanya menghantam perisai spiritual seorang tetua. KRAAASH! Perisai itu retak. Tetua tersebut terlempar mundur, memuntahkan darah, tubuhnya menghantam tanah dan tak bangkit lagi. “Jangan biarkan dia mendekat!” teriak yang lain. Pedang spiritual melesat, tombak energi menusuk dari berbagai arah. Zhao Ling menghindar setengah sadar, namun beberapa serangan menembus tubuhnya. Darah mengalir deras, jatuh ke tanah dan langsung menghitam. Tubuhnya limbung. Kakinya hampir menyerah. Di dalam kesadarannya, sesuatu berdenyut kuat, seperti detak jantung kedua. “Hancurkan mereka!” Suara itu tak jelas, namun cukup untuk membuat Zhao Ling tertawa lirih. “Kalau aku harus mati…” bisiknya, “Aku akan menyeret kalian bersamaku.” Aura hitam meledak. Seorang tetua berteriak saat lengannya membusuk seketika, racun merambat dari luka kecil yang nyaris tak terlihat. Ia jatuh meraung, tubuhnya mengering seperti mayat tua dalam hitungan napas. “Racun… Ini racun tingkat terlarang!” Formasi goyah. Saat itulah Tetua Agung melangkah maju. Auranya jauh lebih berat dari yang lain. “Cukup!” suaranya menggelegar. “Zhao Ling, kekuatan ini akan membunuhmu lebih dulu!” Zhao Ling terengah-engah, lututnya hampir menyentuh tanah. Penglihatannya kabur, telinganya berdengung. Ia tahu, tubuhnya sudah melewati batas. Namun Ia tetap menatap Tetua Agung dengan senyum berdarah. “Bukankah itu yang kalian inginkan sejak awal?” *** Angin malam di puncak gunung berhembus dingin. Zhao Ling berdiri bertelanjang dada, tubuhnya dipenuhi luka yang belum sepenuhnya pulih. Namun di dalam nadinya- Kekuatan itu masih ada. Kekuatan yang selama ini ia dambakan. Nadi spiritual. Ironisnya, Zhao Ling justru terkekeh pelan. Tawa itu pahit, penuh hinaan pada nasibnya sendiri. “Kalau saja aku memiliki ini sejak awal…” bisiknya. “Ibu tidak akan mati diperlakukan seperti sampah.” Tangannya mengepal sampai bergetar. “Tapi semuanya sudah terlambat.” Ia menoleh sedikit, tatapannya tajam. “Tidak perlu bersembunyi. Aku tahu sejak awal kau ada di sana, Ayah!” Hening. Lalu terdengar hela napas berat. Seorang pria paruh baya melangkah keluar dari balik pepohonan. Wajahnya tegas, sorot matanya dingin, auranya tenang namun menekan, Zhao Kuan. “Lama tidak bertemu, Zhao Ling.” Tak ada kehangatan dalam suaranya. Zhao Ling mendengus kecil. “Untuk apa kau menyelamatkanku? Aku sudah membunuh banyak orang di keluarga Zhao. Apa kau tidak marah?” Zhao Kuan terdiam sejenak, lalu duduk di sampingnya. “Aku tahu kamu punya alasanmu sendiri,” ucapnya datar. “Tidak hanya itu, aku juga tahu… Aku telah gagal sebagai seorang ayah.” Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan. “Kalau bukan karena Kekuatan Misterius yang ada di dalam tubuhmu bocor, aku tidak akan keluar dari pelatihan tertutup,” lanjut Zhao Kuan. “Apa maksudmu?” suara Zhao Ling bergetar. Tatapan Zhao Kuan mengeras. “Alasan kamu tak pernah memiliki Nadi Spiritual bukan karena kamu tak berbakat.” Jeda. “Aku yang menyegelnya dengan tanganku sendiri.” Mendengar apa yang di katakan Zhao Kuan, dunia Zhao Ling seakan runtuh. “Aku menyegel nadimu bersama Kekuatan Terlarang itu.” Hening. Hinaan, pukulan, perlakuan kejam, semuanya berputar di kepalanya. “Kalau kamu ingin marah,” lanjut Zhao Kuan dingin, “Marahlah padaku!” Zhao Kuan bangkit. “Mulai hari ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Zhao. Pergilah. Jangan pernah kembali.” Ia berhenti sejenak. “Dan satu hal lagi… Jangan pernah gunakan kekuatan itu lagi. Kalau tidak, kamu akan mati dengan cara paling mengenaskan.” Dalam sekejap, kehadirannya menghilang. Zhao Ling tertawa. Tawa yang pecah, getir, bercampur air mata. “Tidak puas melihatku menderita?” teriaknya ke langit. “Takdir! Alam Surga! Aku tidak akan tunduk!” Tatapannya dipenuhi kebencian. “Aku akan menghancurkan kalian semua!” *** Pagi menjelang. Zhao Chen berjalan sempoyongan keluar dari kedai minuman, mabuk masih menyelimuti pikirannya. Namun langkahnya terhenti saat seorang berjubah hitam berdiri menghadangnya. “Berani mencegatku?” Zhao Chen tertawa meremehkan. “Kau bosan hidup?” Tak ada jawaban. Sosok itu hanya mengacungkan jari. Zhao Chen menyerang. BUGH! Dalam satu gerakan cepat, pukulan balik menghantam dadanya. “Boleh juga pukulanmu-” “UHUKK!” Belum sempat Zhao Chen bangkit, dadanya terasa sangat sakit sampai membuat Ia muntah darah, berlutut di hadapan sosok berjubah itu. Ketika Ia mendongakkan pandangan, tampak wajah Zhao Ling menatap dirinya dengan tatapan hina, membuat Zhao Chen kian terperanjat. “Bu- Bukannya kamu sudah mati? Bagaimana mungkin bisa hidup lagi?” “Kamu saja belum mati, bagaimana bisa aku mati duluan,” ucap Zhao Ling melangkah perlahan. Merasakan aura yang berbeda dari Zhao Ling, membuat Zhao Chen sedikit gentar. Namun harga dirinya menolak, lantas bangkit seraya tersenyum tipis. “Memangnya kenapa kalau kamu masih hidup? Pada akhirnya kamu hanyalah sampah!” “Benarkah? Kalau begitu akan aku buat kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah!” Aura gelap menyelimuti tubuhnya. Tatapan Zhao Chen dipenuhi teror. Dan di balik kabut kegelapan itu, sesuatu tersenyum. Zhao Ling telah melangkah ke jalan tanpa kembali. Namun di dalam kegelapan nadinya, segel Kaisar Naga terus retak, dan kebangkitannya tinggal menunggu waktu. ***“Zhao Ling!”Suara berat itu menggema di dalam lautan kesadarannya, bergulung seperti guntur yang terperangkap di balik langit hitam tanpa batas. Gelap. Sunyi. Dingin. Zhao Ling merasa dirinya seperti terbenam di dasar jurang, tak mampu bergerak, hanya bisa merasakan kehadiran kelam yang mengintai dari balik kabut pekat.Bukan amarah.Bukan pula niat membunuh.Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, keberadaan purba yang membuat naluri manusia ingin berlutut dan memohon.Tubuh Zhao Ling bergetar hebat.Seketika, sepasang matanya terbuka.Langit malam bertabur bintang menyambut pandangannya. Angin dingin menyapu wajahnya, menusuk hingga ke tulang. Kepalanya berdenyut hebat, ingatan tentang pertarungan sebelumnya muncul terputus-putus seperti mimpi buruk yang belum selesai.“Kenapa aku… Ada di sini?” gumamnya lirih. “Bukankah sebelumnya aku sedang bertarung melawan para tua bangka itu?” gumam Zhao Ling tipis sedikit terheran.***“Tetua Agung! Kami sudah tidak kuat lagi!”Pekikan
Hujan belum berhenti.Langit Kota Qingshi masih gelap, seolah malam enggan melepas tempatnya. Air mengalir di sela batu dan selokan, membawa bau besi dan lumpur. Di kediaman kecil di sudut klan, Zhao Ling berdiri kaku di depan ranjang kayu.Tubuh Ibunya sudah Ia tutup dengan kain putih. Ia menatap kain itu lama sekali.Tak ada air mata.Bukan karena Ia tak ingin menangis, melainkan karena dadanya terasa kosong, seperti sesuatu telah tercabut paksa dan meninggalkan lubang menganga.Hujan menetes dari atap yang bocor, jatuh tepat di lantai tak jauh dari tempatnya berdiri.Satu tetes.Dua tetes.Detaknya selaras dengan denyut aneh di dadanya. Bukan jantung. Tapi lebih dalam dari itu.Zhao Ling menutup mata. Ingatan tentang tawa Zhao Chen, tentang pil hitam yang diberikan kepadanya, tentang suara Tetua Agung yang dingin dan semua penghinaan bercampur menjadi satu, lalu meledak.Ia membuka mata kembali.Hitam.Pupil matanya menggelap, nyaris menelan putihnya. Urat-urat hitam merambat samar
Sedari awal Zhao Ling memang tidak berharap banyak kepada keluarganya, namun apabila ada secercah harapan apapun akan dia lakukan meski harus berlutut menghinakan diri.Kekecewaan memenuhi hati dan pikirannya. Ia bangkit seraya menatap Aula Pertemuan dengan penuh kebencian.Namun Zhao Ling tak berdaya, Ia tidak memiliki kekuatan untuk menentang mereka. Lantas pergi dari kediaman Zhao untuk mencari bantuan dari pihak lain.Satu kota itu Ia telusuri, dari satu toko obat ke toko obat yang lain. Zhao Ling mengemis, berlutut, bahkan sampai bersujud di depan semua orang agar bisa mendapatkan tanaman Teratai Giok. Baginya keselamatan Ibundanya lebih penting dari harga diri yang terluka.Meski Zhao Ling sudah menawarkan dirinya untuk menjadi budak sekalipun, tidak ada yang sanggup menerimanya.Meskipun Zhao Ling hanya sampah di keluarga Zhao, namun dia masihlah keturunan dari keluarga terpandang, membuat semoga orang tak berani macam-macam dengannya.Hujan turun tanpa belas kasihan.Langit ma
Matahari perlahan tenggelam ke arah barat, seperti hembusan napas terakhir dari hari yang kelelahan. Langit berwarna jingga kusam menggantung rendah di atas perbukitan, sementara bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak yang sempit. Angin membawa aroma tanah basah dan daun kering, menyentuh kulit dengan dingin yang samar, pertanda malam tak lama lagi akan mengambil alih dunia.Seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan itu.Pakaian lusuh melekat di tubuhnya yang kurus, namun jelas terlatih oleh kerja keras yang tak kenal lelah. Di punggungnya tergantung tas keranjang anyaman, penuh sesak oleh tanaman obat: akar pahit, daun berurat halus, dan bunga liar yang hanya tumbuh di lereng tertentu. Setiap langkahnya mantap, meski pundaknya sedikit turun menahan beban yang bagi dunia tak berarti apa-apa, namun bagi hidupnya terasa begitu berat.Pemuda itu adalah Zhao Ling.Sebagai putra sulung Klan Zhao, ia seharusnya berjalan dengan kepala tegak. Namun kenyataannya, sejak fajar ia







