Home / Pendekar / Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku / Bab 1. Pengkhianatan Yang Mengubah Segalanya

Share

Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku
Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku
Author: Kaisar Void

Bab 1. Pengkhianatan Yang Mengubah Segalanya

Author: Kaisar Void
last update Last Updated: 2026-02-02 17:53:15

Matahari perlahan tenggelam ke arah barat, seperti hembusan napas terakhir dari hari yang kelelahan. Langit berwarna jingga kusam menggantung rendah di atas perbukitan, sementara bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak yang sempit. Angin membawa aroma tanah basah dan daun kering, menyentuh kulit dengan dingin yang samar, pertanda malam tak lama lagi akan mengambil alih dunia.

Seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan itu.

Pakaian lusuh melekat di tubuhnya yang kurus, namun jelas terlatih oleh kerja keras yang tak kenal lelah. Di punggungnya tergantung tas keranjang anyaman, penuh sesak oleh tanaman obat: akar pahit, daun berurat halus, dan bunga liar yang hanya tumbuh di lereng tertentu. Setiap langkahnya mantap, meski pundaknya sedikit turun menahan beban yang bagi dunia tak berarti apa-apa, namun bagi hidupnya terasa begitu berat.

Pemuda itu adalah Zhao Ling.

Sebagai putra sulung Klan Zhao, ia seharusnya berjalan dengan kepala tegak. Namun kenyataannya, sejak fajar ia mendaki gunung seorang diri, bukan untuk berlatih kultivasi, melainkan mengumpulkan tanaman obat demi mempertahankan nyawa ibundanya yang sakit-sakitan.

Kediaman Klan Zhao berdiri megah di Kota Qingshi, wilayah pinggir Benua Tianxuan. Namun di sudut belakangnya, tersembunyi sebuah bangunan kecil dan kumuh. Tempat Zhao Ling dan ibunya tinggal, terasing dari kemewahan keluarga besar itu.

Zhao Ling mempercepat langkah. Ia ingin segera meramu obat sebelum malam sepenuhnya turun.

Namun langkahnya mendadak terhenti di depan gudang belakang kediaman utama.

Jantungnya berdetak keras.

Dari balik pintu kayu yang setengah tertutup, terdengar suara lembut yang tak asing di telinganya, mendayu rendah, seperti bisikan yang dipermanis.

“Kenapa kamu masih malu-malu? Bukankah kamu juga menginginkannya?”

Suara lain menyahut, lebih berat, basah oleh tawa tertahan. “Jika kau benar-benar ingin aku pergi, kau sudah melangkah menjauh sejak tadi.”

Zhao Ling menahan napas.

“Kak Chen… Kamu berdiri terlalu dekat,” ucap suara perempuan itu pelan, namun tubuhnya tak bergerak menjauh.

“Haha… Lalu apa hebatnya Zhao Ling?” suara Zhao Chen terdengar merendahkan. “Dia hanya sampah tanpa nadi spiritual. Lebih baik kau bersamaku. Aku bisa memberimu masa depan.”

Hening.

Hanya suara napas yang saling bertaut, cukup jelas untuk menghancurkan sisa keyakinan Zhao Ling.

“Sebenarnya…” suara Yue Ruo terdengar ragu sesaat, lalu mantap. “Sejak awal aku memang menyukaimu, Kak Chen. Zhao Ling hanyalah alat. Tanpanya, aku tak akan bisa mendekatimu.”

Dunia Zhao Ling runtuh.

Tangannya mengepal hingga urat-uratnya menonjol, dadanya sesak seolah udara menolak masuk.

BRAKK!

Pintu kayu terhempas dari engselnya.

Zhao Ling berdiri di ambang pintu, napasnya berat, mata merah menyala menahan amarah. Di hadapannya, Zhao Chen dan Yue Ruo terpaku. Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

“Yue Ruo…” suara Zhao Ling bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena marah yang dipaksa tenang. “Dasar kamu lacur hina! Berani-beraninya mempermainkanku!”

Zhao Chen segera melangkah ke depan, menutupi Yue Ruo. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Kakak seharusnya sadar diri. Tanpa nadi spiritual, kau bahkan tak layak disebut manusia di klan ini. Jangan bermimpi bisa memiliki wanita cantik sepertinya.”

“Ini bukan urusanmu!” Zhao Ling maju selangkah. “Minggir.”

“Hoo… Memangnya kamu bisa apa? Sudah sewajarnya yang kuat mendapatkan segalanya,” balas Zhao Chen merendahkan sang kakak, menarik Yue Ruo ke dalam pelukannya yang terlihat memasang senyum licik diparasnya yang indah.

“BRENGSEK!”

Amarah Zhao Ling meledak.

Ia menerjang tanpa ragu, namun sebelum tinjunya menyentuh sasaran, sebuah kibasan tangan ringan menghantam dadanya.

BRAKK!

Tubuh Zhao Ling terpental, menghantam pagar batu hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

“Ah, maaf,” Zhao Chen berkata santai. “Sepertinya aku tak sengaja memakai satu persen kekuatanku.”

Zhao Ling terbatuk hebat. Namun di balik rasa sakit itu… ada sesuatu yang aneh.

Darah yang menetes ke tanah terasa panas. Dadanya berdenyut pelan, seperti jantung lain yang terbangun oleh kebencian.

Namun rasa itu lenyap secepat datangnya.

“Zhao Ling, jangan berkecil hati, meskipun kamu putra sulung keluarga Zhao. Tapi dengan kondisimu saat ini. Jangankan menjadi kepala keluarga, untuk bertahan hidup saja sudah sulit. Jadi, jangan salahkan aku karena mencari pria yang lebih-”

“DIAM! Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apapun! Jangan harap kalian bisa hidup tenang setelah melakukan hal ini kepadaku!”

“Zhao Ling! Kau-”

Belum sempat Yue Ruo menyelesaikan perkataannya, Zhao Ling menyela dengan suara lantang. Menatap mereka dengan tatapan kebencian.

“Kak Ling!”

Suara cemas memecah suasana.

Seorang gadis berlari tergesa-gesa mendekat, napasnya terengah. “Ibu… Ibu pingsan lagi!”

Wajah Zhao Ling pucat.

Tanpa menoleh lagi, ia mengais tanaman obat yang berserakan, lalu berlari pergi, meninggalkan tawa merendahkan di belakangnya.

“Kamu lihat? Dia seperti pengemis yang sedang mengais sampah untuk bertahan hidup. Sangat menyedihkan. Membuat malu klan Zhao saja. Cuihh!”

Seperti tak puas melihat penderitaan Zhao Ling, Yue Ruo merencanakan sesuatu di dalam hatinya, lantas berbisik kepada Zhao Chen sambil tersenyum licik.

***

Kediaman kecil itu sunyi, terlalu sunyi.

Atap kayu tua berderit pelan diterpa angin, seolah ikut menahan napas. Aroma ramuan obat yang pahit memenuhi ruangan sempit itu, bercampur dengan bau lembap kayu lapuk.

Zhao Ling berlari masuk tanpa sempat menutup pintu.

“Ibu!”

Di atas ranjang kayu sederhana, seorang wanita terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, hampir transparan, seakan darah dan vitalitasnya telah lama terkuras. Tubuhnya kurus hingga tulang-tulangnya terlihat jelas di balik kain sederhana yang dikenakannya. Rambut yang seharusnya hitam kini memutih di banyak bagian, tanda umur dan penderitaan yang tak seharusnya ia tanggung.

Zhao Ling berlutut di samping ranjang, tangannya gemetar saat menggenggam pergelangan tangan Ibunya.

Denyut nadinya… lemah. Terputus-putus.

Seperti nyala api yang tinggal menunggu hembusan terakhir.

“Ibu… Aku sudah pulang,” bisiknya, suaranya bergetar.

Kelopak mata wanita itu bergetar pelan, terbuka sedikit. Tatapannya kosong, namun ketika melihat Zhao Ling, secercah kehangatan samar muncul.

“Ling’er…” bibirnya bergerak nyaris tanpa suara. “Maafkan Ibu…”

Kata-kata itu menghantam dada Zhao Ling lebih keras daripada pukulan mana pun.

“Jangan bicara seperti itu,” ucapnya cepat, menahan air mata. “Aku akan menyembuhkan Ibu seperti biasa. Aku janji!”

Ia beralih memeriksa tubuh Ibunya dengan cermat, keningnya berkerut semakin dalam.

“Penyakitnya kambuh terlalu cepat…” gumamnya. “Vitalitas Ibu hampir habis.”

Qin Lan berdiri di samping pintu, wajahnya pucat, kedua tangannya saling menggenggam kuat. “Kak Ling… Bagaimana kondisi Nyonya?”

Zhao Ling menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menahan runtuhnya dunia.

“Kalau seperti ini…” suaranya serak, “Ibu tidak akan bertahan sampai tengah malam.”

Qin Lan tersentak. “T-tidak mungkin…”

“Ada satu cara.” Zhao Ling berdiri perlahan.

“Pil Hening Nadi Giok. Jika aku bisa mendapatkannya, masih ada harapan.”

Wajah Qin Lan semakin pucat. “Tapi kak… kita sudah tidak punya uang. Bahkan untuk membeli satu lembar daun Teratai Giok pun—”

Zhao Ling terdiam.

Ia menoleh ke arah Ibunya sekali lagi. Wanita itu kini memejamkan mata, napasnya semakin dangkal, seolah setiap tarikan adalah pertarungan melawan kematian.

“Aku akan pergi ke Aula Pertemuan,” ucap Zhao Ling mengambil keputusan. “Aku akan memohon pada Tetua Agung.”

Qin Lan ingin mengatakan sesuatu, namun kata-katanya tertelan ketakutan.

Zhao Ling berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan kediaman kecil itu dengan hati yang seakan diremas tangan tak kasatmata.

***

Aula Pertemuan Klan Zhao berdiri megah, kontras mencolok dengan kediaman kecil di belakang kompleks.

Pilar-pilar batu besar menjulang, lantainya dingin dan bersih, seolah penderitaan manusia tidak pernah menginjak tempat itu.

Zhao Ling berlutut di depan pintu tertutup rapat.

“Ayah! Tetua Agung!” serunya lantang. “Tolong izinkan aku masuk!”

Tak ada jawaban.

Ia mengepalkan tangan, lalu bersujud dalam-dalam.

“Tetua Agung! Penyakit Ibuku kambuh! Aku mohon, pinjamkan sedikit uang untuk membeli tanaman obat. Aku akan menggantinya! Aku bersumpah!”

Hening beberapa detik.

Lalu suara serak dan berat terdengar dari balik pintu, dingin seperti angin musim dingin.

“Zhao Ling. Kau berani mengganggu pertemuan para tetua hanya untuk urusan sepele?”

Sepele.

Kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau.

“Ini bukan urusan sepele!” Zhao Ling menahan suara agar tak pecah. “Nyawa Ibuku dalam bahaya!”

“Huh…” suara itu mendengus. “Kau dan ibumu sudah lama menjadi beban keluarga. Jika bukan karena pil tingkat rendah yang kau buat, kalian sudah diusir sejak lama.”

Tubuh Zhao Ling gemetar.

“Karena itu-” lanjut suara Tetua Agung tanpa emosi. “Kami tidak punya kewajiban membantumu. Urusanmu adalah urusanmu sendiri.”

Dunia Zhao Ling terasa runtuh.

“Tidak… Tetua, aku mohon. Tolong beri tahu Ayah. Satu kali saja-”

“BERISIK!”

Sebelum Zhao Ling sempat menyelesaikan kalimatnya.

WUSHHH!

Hempasan angin kuat menghantam tubuhnya dari balik pintu tertutup.

BRAKKK!

Tubuh Zhao Ling terpental, menghantam pilar batu dengan keras. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, darah muncrat dari mulutnya dan membasahi lantai dingin aula.

Ia terbatuk hebat, lututnya gemetar saat berusaha bangkit.

“Uhuk… Uhuk…”

Darah menetes ke lantai, merah kontras dengan batu putih.

“Kenapa…” suaranya nyaris tak terdengar.

“Kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini…?”

Tak ada jawaban.

Hanya keheningan dingin Aula Pertemuan yang menyambut keputusasaannya.

Jauh di dalam dadanya, sesuatu yang tertidur lama… mulai berdenyut perlahan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 4. Kehadiran Yang Tidak di Harapkan

    “Zhao Ling!”Suara berat itu menggema di dalam lautan kesadarannya, bergulung seperti guntur yang terperangkap di balik langit hitam tanpa batas. Gelap. Sunyi. Dingin. Zhao Ling merasa dirinya seperti terbenam di dasar jurang, tak mampu bergerak, hanya bisa merasakan kehadiran kelam yang mengintai dari balik kabut pekat.Bukan amarah.Bukan pula niat membunuh.Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, keberadaan purba yang membuat naluri manusia ingin berlutut dan memohon.Tubuh Zhao Ling bergetar hebat.Seketika, sepasang matanya terbuka.Langit malam bertabur bintang menyambut pandangannya. Angin dingin menyapu wajahnya, menusuk hingga ke tulang. Kepalanya berdenyut hebat, ingatan tentang pertarungan sebelumnya muncul terputus-putus seperti mimpi buruk yang belum selesai.“Kenapa aku… Ada di sini?” gumamnya lirih. “Bukankah sebelumnya aku sedang bertarung melawan para tua bangka itu?” gumam Zhao Ling tipis sedikit terheran.***“Tetua Agung! Kami sudah tidak kuat lagi!”Pekikan

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 3. Darah di Tengah Hujan

    Hujan belum berhenti.Langit Kota Qingshi masih gelap, seolah malam enggan melepas tempatnya. Air mengalir di sela batu dan selokan, membawa bau besi dan lumpur. Di kediaman kecil di sudut klan, Zhao Ling berdiri kaku di depan ranjang kayu.Tubuh Ibunya sudah Ia tutup dengan kain putih. Ia menatap kain itu lama sekali.Tak ada air mata.Bukan karena Ia tak ingin menangis, melainkan karena dadanya terasa kosong, seperti sesuatu telah tercabut paksa dan meninggalkan lubang menganga.Hujan menetes dari atap yang bocor, jatuh tepat di lantai tak jauh dari tempatnya berdiri.Satu tetes.Dua tetes.Detaknya selaras dengan denyut aneh di dadanya. Bukan jantung. Tapi lebih dalam dari itu.Zhao Ling menutup mata. Ingatan tentang tawa Zhao Chen, tentang pil hitam yang diberikan kepadanya, tentang suara Tetua Agung yang dingin dan semua penghinaan bercampur menjadi satu, lalu meledak.Ia membuka mata kembali.Hitam.Pupil matanya menggelap, nyaris menelan putihnya. Urat-urat hitam merambat samar

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 2. Keputusasaan

    Sedari awal Zhao Ling memang tidak berharap banyak kepada keluarganya, namun apabila ada secercah harapan apapun akan dia lakukan meski harus berlutut menghinakan diri.Kekecewaan memenuhi hati dan pikirannya. Ia bangkit seraya menatap Aula Pertemuan dengan penuh kebencian.Namun Zhao Ling tak berdaya, Ia tidak memiliki kekuatan untuk menentang mereka. Lantas pergi dari kediaman Zhao untuk mencari bantuan dari pihak lain.Satu kota itu Ia telusuri, dari satu toko obat ke toko obat yang lain. Zhao Ling mengemis, berlutut, bahkan sampai bersujud di depan semua orang agar bisa mendapatkan tanaman Teratai Giok. Baginya keselamatan Ibundanya lebih penting dari harga diri yang terluka.Meski Zhao Ling sudah menawarkan dirinya untuk menjadi budak sekalipun, tidak ada yang sanggup menerimanya.Meskipun Zhao Ling hanya sampah di keluarga Zhao, namun dia masihlah keturunan dari keluarga terpandang, membuat semoga orang tak berani macam-macam dengannya.Hujan turun tanpa belas kasihan.Langit ma

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 1. Pengkhianatan Yang Mengubah Segalanya

    Matahari perlahan tenggelam ke arah barat, seperti hembusan napas terakhir dari hari yang kelelahan. Langit berwarna jingga kusam menggantung rendah di atas perbukitan, sementara bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak yang sempit. Angin membawa aroma tanah basah dan daun kering, menyentuh kulit dengan dingin yang samar, pertanda malam tak lama lagi akan mengambil alih dunia.Seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan itu.Pakaian lusuh melekat di tubuhnya yang kurus, namun jelas terlatih oleh kerja keras yang tak kenal lelah. Di punggungnya tergantung tas keranjang anyaman, penuh sesak oleh tanaman obat: akar pahit, daun berurat halus, dan bunga liar yang hanya tumbuh di lereng tertentu. Setiap langkahnya mantap, meski pundaknya sedikit turun menahan beban yang bagi dunia tak berarti apa-apa, namun bagi hidupnya terasa begitu berat.Pemuda itu adalah Zhao Ling.Sebagai putra sulung Klan Zhao, ia seharusnya berjalan dengan kepala tegak. Namun kenyataannya, sejak fajar ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status