Share

Bab 3. Darah di Tengah Hujan

Penulis: Kaisar Void
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 17:55:29

Hujan belum berhenti.

Langit Kota Qingshi masih gelap, seolah malam enggan melepas tempatnya. Air mengalir di sela batu dan selokan, membawa bau besi dan lumpur. Di kediaman kecil di sudut klan, Zhao Ling berdiri kaku di depan ranjang kayu.

Tubuh Ibunya sudah Ia tutup dengan kain putih. Ia menatap kain itu lama sekali.

Tak ada air mata.

Bukan karena Ia tak ingin menangis, melainkan karena dadanya terasa kosong, seperti sesuatu telah tercabut paksa dan meninggalkan lubang menganga.

Hujan menetes dari atap yang bocor, jatuh tepat di lantai tak jauh dari tempatnya berdiri.

Satu tetes.

Dua tetes.

Detaknya selaras dengan denyut aneh di dadanya. Bukan jantung. Tapi lebih dalam dari itu.

Zhao Ling menutup mata. Ingatan tentang tawa Zhao Chen, tentang pil hitam yang diberikan kepadanya, tentang suara Tetua Agung yang dingin dan semua penghinaan bercampur menjadi satu, lalu meledak.

Ia membuka mata kembali.

Hitam.

Pupil matanya menggelap, nyaris menelan putihnya. Urat-urat hitam merambat samar di lehernya sebelum menghilang lagi.

“Apa ini?” napasnya berat.

Tubuhnya panas, lalu dingin, lalu panas kembali. Meridian di dalam tubuhnya berteriak, seolah dipaksa menyalurkan sesuatu yang seharusnya tak pernah ada.

Zhao Ling terhuyung. Ia menggenggam meja kayu agar tidak roboh, dan meja itu retak.

KRAK!

Zhao Ling membeku. Ia menatap tangannya sendiri. Belum pernah dalam hidupnya ia memiliki kekuatan seperti ini.

Namun rasa sakitnya jauh lebih besar, meski begitu, kesadaran Zhao Ling masih bisa Ia pertahanan, terasa sangat berat seperti ada yang ingin merampas darinya.

“UHUKK!”

Ia terbatuk hebat, tampak darah hitam menyembur ke lantai, berasap tipis sebelum menghilang.

Zhao Ling terengah.

“Jadi ini…” bisiknya. “Harga yang harus aku bayar untuk kekuatan ini?”

Tak ada suara yang menjawab.

Namun di kedalaman kesadarannya, ada sesuatu yang terjaga, mengawasi dalam diam.

***

Gerbang samping Klan Zhao.

Beberapa penjaga sedang berteduh dari hujan, tertawa kecil sambil meminum arak.

“Tetua benar-benar kejam,” kata salah satu dari mereka. “Mengusir Zhao Ling begitu saja.”

“Hah? Bukankah Ibunya mati malam ini?”

“Ya. Lebih baik begitu. Beban keluarga berkurang.”

DUARR!

Kata-kata itu belum selesai diucapkan, tampak gerbang kayu hancur hanya dengan satu hantaman.

Hujan tersibak.

Seorang pemuda berdiri di ambang gerbang.

Rambutnya basah menutupi wajah, tubuhnya kurus, pakaiannya berlumur darah dan lumpur. Namun aura di sekelilingnya membuat udara terasa berat, menekan dada.

“Zhao Ling?” salah satu penjaga membelalak.

Zhao Ling mengangkat kepala. Tatapannya kosong namun tersirat hasrat untuk membalas dendam.

“Bagaimana kalian bisa tau Ibuku akan mati malam ini? Apa kalian semua terlibat di dalam pembunuhan Ibuku?” suaranya serak hampir berbisik.

Senyap, para penjaga tampak saling pandang sesaat.

“Kamu bicara apa? Hah! Aku tidak bisa dengar,” salah satu penjaga tertawa gugup. “Sebaiknya kamu urusi saja Ibumu yang sebentar lagi akan mati itu-””

Belum sempat Ia menyelesaikan kalimatnya. Zhao Ling melangkah maju.

Tanpa jurus. Tanpa teknik. Hanya satu dorongan tangan.

KRAKK!

Tulang rusuk penjaga itu patah. Tubuhnya terlempar, menghantam tembok, lalu terjatuh tak bergerak.

Yang lain membeku ketakutan. Zhao Ling terhuyung lagi.

“Uhukk…”

Darah hitam menetes dari dagunya. Namun Ia tetap berjalan. Setiap langkahnya meninggalkan bekas hitam samar di tanah basah.

“Berhenti… Zhao Ling, kamu salah paham!” teriak penjaga lain.

Zhao Ling menoleh.

“Ketika aku berlutut sebelumnya-” suaranya serak. “Kalian menertawakanku. Kalian pikir kalian siapa!”

Ia mengangkat tangan, membuat udara seketika bergetar.

BRAKK!

Dua penjaga terhempas bersamaan, menghantam pilar batu hingga tak bergerak.

Zhao Ling terjatuh berlutut. Pandangan matanya kabur.

Suara dentuman jantung asing itu kembali terdengar, semakin keras. Laut kesadaran seakan sudah dipenuhi kabut hitam yang mencekam, memperlihatkan sepasang mata merah.

Namun tak ada kata. Tak ada perintah. Hanya rasa lapar yang dingin.

Zhao Ling menggenggam dada, menggertakkan gigi grahamnya.

“Aku masih belum selesai membalaskan dendam! Belum waktunya kamu merebut tubuhku!” bisiknya tegas menolak menyerahkan raga.

Hujan mengguyur tanpa henti, dengan sebilah pedang di tangannya. Zhao Ling membantai semua orang yang Ia temui di kediaman klan Zhao tanpa terkecuali, membuat kediaman Zhao yang semula tenang dan damai seketika berubah menjadi neraka.

“Sring! Sring!”

“Zrakkk!”

“Tidak! Tolong jangan bunuh ak-”

JRAKKKK!

Suara teriakan keputusasaan dan ketakutan kian menggema dari para penjaga dan pelayan yang selalu menghina dirinya.

Mereka berteriak meminta tolong, tapi semua itu sia-sia, malam pembantaian itu teredam oleh hujan deras, memperlihatkan darah bersimbah di setiap sudut kediaman klan Zhao.

***

Keributan itu akhirnya menarik perhatian para tetua.

Merasakan niat membunuh pekat, mereka yang tengah berkultivasi di ruangan masing-masing sontak terbelalak, lantas beranjak dari tempatnya berada, mencari sumber ketakutan yang menusuk sampai ke tulang.

Saat mereka melihat pemandangan mengerikan di dalam Aula Pertemuan, mayat-mayat para penjaga tergeletak di lantai.

Wajah mereka berubah merasakan aura kegelapan pekat menyembur keluar dari tubuh Zhao Lin, membuat lentera betgetar.

“Zhao Ling!” Bentak Tetua Agung. “Apa yang sudah kamu lakukan?”

Zhao Ling menoleh perlahan.

“Akhirnya kalian keluar juga para Tua bangka tak berguna. Kalau saja kalian muncul dari tadi, mungkin tidak akan jadi seperti ini,” suaranya tenang namun terdapat kecaman yang kuat, seperti sudah menunggu sedari awal.

“Tetua Agung. Sepertinya Zhao Ling sudah gila! Kita harus membunuhnya sekarang juga!” tuntut Tetua lain dengan nada tinggi.

Tetua Agung mencoba untuk bersikap tenang seraya mengangkat tangan sedikit ke atas, membuat ketiga tetua yang datang bersamanya terdiam.

“Kenapa kamu membunuh semua orang? Apa kamu marah karena aku mengusirmu dari Aula Pertemuan tadi sore?

Mendengar omong kosong Tetua Agung itu, membuat Zhao Ling tertawa terbahak-bahak, lantas mengacungkan mata pedang berlumur darah ke arahnya.

“Zhao Tan! Jangan berpura-pura bodoh di depanku! Kalian kan yang menyuruh para pelayan memberikan sup racun kepada Ibuku? Sekarang dia suda tiada, dan aku ingin menuntut balas!”

“Sup racun? Apa yang sebenarnya kamu bicarakan? Apa kamu sedang mengatakan lelucon kepadaku? Jangan mentang-mentang kamu putra sulung ketua klan, jadi bisa bertindak seenaknya!” ucap Tetua Agung memasang raut wajah serius.

“Hehh, sudah ku duga kalian tidak mau mengaku. Kalau begitu kalian pergi saja ke Neraka!”

“Lancang!”

Tak tahan dengan pertanyaan yang Zhao Ling lontarkan, membuat salah satu Tetua melesat ke arahnya, mengangkat Jurus Tapak sedikit ke atas bersiap untuk membunuh Zhao Ling.

“Cari Mati!”

Zhao Ling tersenyum tipis, dengan sigap memusatkan tenaga dalam pada tangannya, kemudian,

BLARRRRRR

Keduanya beradu Jurus Talapak Tangan Kosong, menciptakan ledakan aura kuat yang menghancurkan dinding dan atap tempat mereka bertarung.

BRAKKKK

“Uhukkk!”

Tetua yang memiliki Tingkat Kultivasi Inti Emas Zhao Ling pentalkan dengan satu Jurus, sampai darah muncrat keluar dari mulutnya.

Semua orang tercengang, Zhao Ling yang dari kecil tidak memiliki nadi spiritual, secara misterius bisa memiliki kekuatan yang begitu mengerikan.

Tidak hanya Tetua yang beradu Jurus Tapak Tangan Kosong yang muntah darah. Zhao Ling yang sudah melampaui batas pun tak berselang lama jatuh berlutut bersamaan darah menyembur keluar, dengan rasa sakit luar biasa menggerogoti seluruh tubuhnya.

Merdian di seluruh tubuh terasa terbakar, tulang-tulangnya berderak. Namun Ia tertawa kecil.

“Entah cara apa yang kamu pakai sampai bisa mendapatkan kekuatan tercela itu. Tapi kamu sudah membunuh banyak orang tidak berdosa tanpa dasar. Sebagai Tetua Agung, sudah seharusnya aku memberikan hukuman mati kepadamu!”

BWASHHH

Tetua Agung melangkah mendekat, Setiap langkahnya mengandung tekanan gravitasi yang kuat, memaksa Zhao Ling untuk berlutut sampai menghancurkan lantai tempat Ia berada, dengan telapak tangan seperti diselimuti aura keemasan.

“Keghh… Kamu pikir bisa membunuhku?” Zhao Ling mengepalkan tangan kuat, lantas melepaskan ledakan aura kegelapan dari dalam tubuhnya.

“Haaattt!”

BLARRRRR

Aura dingin yang menusuk sampai ke tulang menyembur keluar, menciptakan siluet Naga kegelapan di angksa, meraung kuat sampai menggetarkan langit dan bumi.

Merasakan aura mengerikan itu, Tetua Agung yang terdorong mundur setelah terkena ledakan aura Zhao Ling pun dengan gusar memerintahkan para Tetua lain untuk membentuk formasi melingkar. Tampak seperti Formasi Pembunuh Pelebur Sukma.

“Haha… Karena kalian sangat ingin membunuhku. Aku akan membawa kalian mati bersamaku!” Zhao Ling sudah tidak peduli lagi dengan apapun. Dengan kemampuannya sekarang, asalkan bisa menghancurkan kediaman Zhao, itu sudah lebih dari cukup.

Namun, sosok lain di dalam tubuh Zhao Ling mengecam, berusaha merebut raga yang ingin Ia hancurkan bersama dengan semua orang.

Di dalam laut kesadaran Zhao Ling, sesuatu akhirnya bergerak. Bukan bujukan, bukan perintah, hanya suara dingin yang bergema pelan.

“Jika kamu memaksakan kekuatan ini… Tubuhmu akan runtuh dan tidak akan bisa bereinkarnasi kembali!”

Tanpa kata, Zhao Ling hanya berdengus kecil, menganggap kekuatan besar yang merasuk di dalam tubuhnya saat itu, hanya sebuah alat tak berarti.

“Aku tidak peduli!”

***

Sisi lain, di dalam goa tersembunyi di balik pegunungan.

Seorang pria membuka kedua mata. Auranya menekan langit sesaat, lalu mereda.

“Aura ini… Mungkinkah-”

Tatapannya sinis menembus langit yang diselimuti kegelapan pekat, disertai sambaran petir hitam yang menggelegar memekakkan telinga.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 4. Kehadiran Yang Tidak di Harapkan

    “Zhao Ling!”Suara berat itu menggema di dalam lautan kesadarannya, bergulung seperti guntur yang terperangkap di balik langit hitam tanpa batas. Gelap. Sunyi. Dingin. Zhao Ling merasa dirinya seperti terbenam di dasar jurang, tak mampu bergerak, hanya bisa merasakan kehadiran kelam yang mengintai dari balik kabut pekat.Bukan amarah.Bukan pula niat membunuh.Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, keberadaan purba yang membuat naluri manusia ingin berlutut dan memohon.Tubuh Zhao Ling bergetar hebat.Seketika, sepasang matanya terbuka.Langit malam bertabur bintang menyambut pandangannya. Angin dingin menyapu wajahnya, menusuk hingga ke tulang. Kepalanya berdenyut hebat, ingatan tentang pertarungan sebelumnya muncul terputus-putus seperti mimpi buruk yang belum selesai.“Kenapa aku… Ada di sini?” gumamnya lirih. “Bukankah sebelumnya aku sedang bertarung melawan para tua bangka itu?” gumam Zhao Ling tipis sedikit terheran.***“Tetua Agung! Kami sudah tidak kuat lagi!”Pekikan

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 3. Darah di Tengah Hujan

    Hujan belum berhenti.Langit Kota Qingshi masih gelap, seolah malam enggan melepas tempatnya. Air mengalir di sela batu dan selokan, membawa bau besi dan lumpur. Di kediaman kecil di sudut klan, Zhao Ling berdiri kaku di depan ranjang kayu.Tubuh Ibunya sudah Ia tutup dengan kain putih. Ia menatap kain itu lama sekali.Tak ada air mata.Bukan karena Ia tak ingin menangis, melainkan karena dadanya terasa kosong, seperti sesuatu telah tercabut paksa dan meninggalkan lubang menganga.Hujan menetes dari atap yang bocor, jatuh tepat di lantai tak jauh dari tempatnya berdiri.Satu tetes.Dua tetes.Detaknya selaras dengan denyut aneh di dadanya. Bukan jantung. Tapi lebih dalam dari itu.Zhao Ling menutup mata. Ingatan tentang tawa Zhao Chen, tentang pil hitam yang diberikan kepadanya, tentang suara Tetua Agung yang dingin dan semua penghinaan bercampur menjadi satu, lalu meledak.Ia membuka mata kembali.Hitam.Pupil matanya menggelap, nyaris menelan putihnya. Urat-urat hitam merambat samar

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 2. Keputusasaan

    Sedari awal Zhao Ling memang tidak berharap banyak kepada keluarganya, namun apabila ada secercah harapan apapun akan dia lakukan meski harus berlutut menghinakan diri.Kekecewaan memenuhi hati dan pikirannya. Ia bangkit seraya menatap Aula Pertemuan dengan penuh kebencian.Namun Zhao Ling tak berdaya, Ia tidak memiliki kekuatan untuk menentang mereka. Lantas pergi dari kediaman Zhao untuk mencari bantuan dari pihak lain.Satu kota itu Ia telusuri, dari satu toko obat ke toko obat yang lain. Zhao Ling mengemis, berlutut, bahkan sampai bersujud di depan semua orang agar bisa mendapatkan tanaman Teratai Giok. Baginya keselamatan Ibundanya lebih penting dari harga diri yang terluka.Meski Zhao Ling sudah menawarkan dirinya untuk menjadi budak sekalipun, tidak ada yang sanggup menerimanya.Meskipun Zhao Ling hanya sampah di keluarga Zhao, namun dia masihlah keturunan dari keluarga terpandang, membuat semoga orang tak berani macam-macam dengannya.Hujan turun tanpa belas kasihan.Langit ma

  • Kaisar Naga Kegelapan Terpenjara di dalam Tubuhku   Bab 1. Pengkhianatan Yang Mengubah Segalanya

    Matahari perlahan tenggelam ke arah barat, seperti hembusan napas terakhir dari hari yang kelelahan. Langit berwarna jingga kusam menggantung rendah di atas perbukitan, sementara bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak yang sempit. Angin membawa aroma tanah basah dan daun kering, menyentuh kulit dengan dingin yang samar, pertanda malam tak lama lagi akan mengambil alih dunia.Seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan itu.Pakaian lusuh melekat di tubuhnya yang kurus, namun jelas terlatih oleh kerja keras yang tak kenal lelah. Di punggungnya tergantung tas keranjang anyaman, penuh sesak oleh tanaman obat: akar pahit, daun berurat halus, dan bunga liar yang hanya tumbuh di lereng tertentu. Setiap langkahnya mantap, meski pundaknya sedikit turun menahan beban yang bagi dunia tak berarti apa-apa, namun bagi hidupnya terasa begitu berat.Pemuda itu adalah Zhao Ling.Sebagai putra sulung Klan Zhao, ia seharusnya berjalan dengan kepala tegak. Namun kenyataannya, sejak fajar ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status