MasukSedari awal Zhao Ling memang tidak berharap banyak kepada keluarganya, namun apabila ada secercah harapan apapun akan dia lakukan meski harus berlutut menghinakan diri.
Kekecewaan memenuhi hati dan pikirannya. Ia bangkit seraya menatap Aula Pertemuan dengan penuh kebencian. Namun Zhao Ling tak berdaya, Ia tidak memiliki kekuatan untuk menentang mereka. Lantas pergi dari kediaman Zhao untuk mencari bantuan dari pihak lain. Satu kota itu Ia telusuri, dari satu toko obat ke toko obat yang lain. Zhao Ling mengemis, berlutut, bahkan sampai bersujud di depan semua orang agar bisa mendapatkan tanaman Teratai Giok. Baginya keselamatan Ibundanya lebih penting dari harga diri yang terluka. Meski Zhao Ling sudah menawarkan dirinya untuk menjadi budak sekalipun, tidak ada yang sanggup menerimanya. Meskipun Zhao Ling hanya sampah di keluarga Zhao, namun dia masihlah keturunan dari keluarga terpandang, membuat semoga orang tak berani macam-macam dengannya. Hujan turun tanpa belas kasihan. Langit malam menggantung rendah di atas Kota Qingshi, menumpahkan air dingin seolah ingin mencuci bersih segala hinaan yang baru saja diterima Zhao Ling, namun gagal. Jalan batu di pinggir Kota tampak licin dan gelap, memantulkan cahaya obor yang bergoyang seperti nyala harapan yang hampir padam. Zhao Ling berjalan tertatih. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena luka di tubuhnya, tetapi karena kehampaan yang menggerogoti dadanya. Rasa sakit akibat hempasan Tetua Agung masih berdenyut di tulang-tulangnya, namun itu tak sebanding dengan ketakutan yang terus menggeram di benaknya. Ibu… Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya menusuk telapak hingga berdarah. Di tikungan jalan utama, sebuah bayangan berdiri di bawah payung hitam. “Berhenti di situ.” Suara itu dingin, familiar, dan penuh ejekan. Zhao Ling mengalihkan pandangan seraya menatap sinis. Zhao Chen berdiri dengan jubah bersih dan rapi, wajahnya santai seolah hujan hanyalah pemandangan indah. Di belakangnya, dua pelayan membawa lentera, memastikan wajah Zhao Ling terlihat jelas, pucat, kotor, dan menyedihkan. “Ke mana kau terburu-buru dalam keadaan seperti ini, Kakak?” Zhao Chen tersenyum tipis. “Oh, aku hampir lupa. Ibunda tercintamu sedang sekarat bukan?” Amarah Zhao Ling membuncah, namun ia menelannya paksa. “Apa maumu?” Zhao Chen menghela napas ringan, lalu mengeluarkan sebuah kantong kain kecil. Dari celahnya, tercium aroma obat yang samar. “Uang,” katanya santai. “Dan ini pil yang kau cari. Pil Hening Nadi Giok.” Mata Zhao Ling bergetar. “Berikan padaku!” “Hoo?” Zhao Chen memiringkan kepala. “Kenapa kamu begitu terburu-buru. Kamu bahkan tidak bertanya harganya?” Zhao Ling menggertakkan gigi. “Apa maumu?” Senyum Zhao Chen melebar. Ia menurunkan payungnya sedikit, menatap Zhao Ling dengan tatapan merendahkan. “Kalau begitu, berlutut dan memohonlah!” katanya perlahan Hujan menampar wajah Zhao Ling. Kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan mana pun. Ia teringat wajah ibunya, napasnya terengah, tangan kurusnya menggenggam lengan baju Zhao Ling sambil berbisik agar ia hidup baik-baik. Harga diri… Apa artinya dibanding nyawa? Perlahan, lutut Zhao Ling menyentuh tanah berlumpur, bersujud di bawah kaki Zhao Chen sambil meminta belas kasihan. Tawa pecah. “Bagus, dengan begini sudah jelas siapa yang berkuasa di tempat ini,” tegas Zhao Chen tersenyum tipis. Setelah bersujud dan memohon kepada adik tirinya itu. Zhao Ling merangkak ingin meraih sekantung uang yang ada di dekatnya. Namun- “Zrakkk!” Pergelangan tangannya diinjak kuat, membuat Zhao Ling melirik tajam ke arah Zhao Chen. “Apa maksudnya ini?” “Siapa yang mengizinkanmu mengambil uang dan pil itu. Masih ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan!” ucap Zhao Chen puas. “Sekarang, minumlah pil ini!” Ia melemparkan pil hitam kecil ke tanah tepat di depan Zhao Ling. Zhao Ling memungutnya tanpa ragu. Begitu pil itu menyentuh lidahnya, Ia tahu. Ini bukan obat. Rasa pahit membakar menjalar ke tenggorokan, lalu meledak di perutnya seperti api. “UHUKK-!” Darah menyembur dari mulutnya, bercampur air hujan. Tulang-tulangnya terasa remuk dari dalam, napasnya terputus-putus seolah paru-parunya disobek tangan tak kasatmata. “Arckkkk!” Zhao Ling merintih kesakitan, teriakan kesakitan menggema di bawah terpaan hujan deras yang meredam semuanya. “Aku harus bertahan! Aku harus bertahan! Ibu masih menungguku di rumah!” batin Zhao Ling di dalam hati penuh tekad sempai menggeretakkan gigi grahamnya. Zhao Chen menatapnya dengan mata dingin. “Oh? Kau baru sadar?” katanya ringan. “Pil itu memang bukan untuk orang sepertimu.” Tawa mereka menghilang bersama hujan. Zhao Ling terjatuh ke tanah. Gelap. Namun di balik kegelapan itu. Ada sesuatu yang terbangun. Ketika kesadaran Zhao Ling hilang sepenuhnya, kabut hitam misterius tampak mengalir di dalam pembuluh darah, menyelimuti jantung Zhao Ling yang melemah. “Akhirnya kamu mati juga Zhao Ling. Aku sudah muak melihatmu!” “BUGHH!” Tendangan kuat menghantam perutnya, membuat tubuh Zhao Ling sedikit terseret ke belakang. “Selamat tuan muda, mulai hari ini kamu akan menjadi pewaris klan Zhao,” ucap para pelayan mengucapkan selamat. “Hahaha… Kamu benar. Karena aku sedang senang, ayo kita rayakan. Malam ini, aku akan traktir minum sampai kalian mabuk!” sorak Zhao Chen begitu gembira, namun ketika Ia akan beranjak dari tempatnya berada. Langkah kakinya sontak terhenti seperti tertahan sesuatu, membuat Ia melirik tipis ke belakang. “Hehh, tenyata kamu masih hidup? Aku pikir kamu sudah mati!” “Se-serahkan pil-” Mulut yang berlumur darah itu seperti tak bisa berucap, dengan sisa tenaganya, Zhao Ling meminta apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya. “Menyedihkan, hanya untuk beberapa koin dan pil murahan sampai bertindak sejauh ini. Ambil ini dan matilah di tempat yang jauh!” Zhao Chen melempar kantung koin ke tanah, lantas pergi meninggalkan Zhao Ling yang sekarat. “Uhukk… Uhukk…” Menyeret tubuhnya yang setengah lumpuh, Zhao Ling mengambil pil serta keping demi keping koin perak yang berserakan. Hanya dengan tekad Ia bangkit melawan pil racun yang bahkan bisa membunuh seekor gajah dewasa seketika. Pandangannya kabur, langkahnya terhuyung, terus tersungkur ke tanah. Ia tak lagi peduli dengan dirinya, yang ada di pikiran Zhao Ling hanya satu. Menyelamatkan Ibunya! Zhao Ling kembali ke kediaman Zhao dengan terseok-seok. Meski banyak penjaga dan pelayan yang melihatnya, namun tidak ada yang peduli, semua orang mengabaikannya seperti seekor serangga. Ketika Ia sampai di depan kediamannya yang kecil dan reot itu. Samar-samar terdengar suara tangis dari dalam. Tangis pilu dari Qin Lin yang tak berdaya, memanggil-manggil Ibu Zhao Ling yang selama ini membesarkan dirinya. Tubuh Zhao Ling bak tersambar petir, kantung berisi koin dan pil Hening Nadi Giok yang Ia bawa sontak jatuh ke lantai. “Ibu… Aku pulang…” Tak ada jawaban. Langkahnya gontai menuju ranjang kayu. Tubuh ibunya terbaring kaku. Wajahnya damai, terlalu damai, membuat dunia Zhao Ling runtuh tanpa suara. Kedua mata terbelalak kian memerah, membuat Qin Lin yang menyadari kedatangan Zhao Lin dengan cepat menghampirinya. “Kak Ling… Nyonya-” suara Qin Lin tersendat tak bisa melanjutkan. Air matanya tumpah seketika, semua kesedihan, keputusasaan, amarah, bercampur menjadi satu, membuat Zhao Ling memeluk tubuh Ibunya yang hangatnya hampir lenyap . “Ibu… Aku sudah mendapatkan obatnya…” suaranya pecah. “Aku tidak terlambat, kan…?” Air mata jatuh, pil Hening Nadi Giok yang sudah Ia dapatkan dengan susah payah tidak berguna. “Kenapa? Seharusnya masih ada waktu? Kenapa Ibu pergi tanpa berpamitan denganku,” ucap Zhao Ling lemah. “Kak Ling, apa kamu bisa memeriksa sup ini?” pinta Qin Lin menyodorkan semangkuk sup yang sudah tak hangat lagi. Ketika Zhao Ling menghirup aromanya, Ia langsung tau kalau ada racun di dalamnya. Membuat pemuda itu menatap Qin Lin tajam. “Apa maksudnya ini?” “Maafkan aku kak Ling. Aku tidak berdaya, para pelayan memaksa agar Nyonya meminum sup ini. Mereka bilang itu sup obat agar Nyonya bisa mengurangi rasa sakitnya.” Mendengar penjelasan Qin Lin itu, membuat Zhao Ling kian tersentak. Amarah serta dendam yang selama ini Ia tahan sontak tumpah, memperlihatkan aura kegelapan menyelimuti seluruh tubuhnya. “BRENGSEK! Beraninya kalian menyentuh Ibuku! Akan aku bunuh kalian semua!” dikuasai amarah yang memuncak, kepribadian Zhao Ling benar-benar berubah. Ia yang tidak memiliki nadi spiritual melepaskan aura mengerikan yang misterius, membuat Qin Lin seketika pingsan tak kuasa menahannya. Tangannya gemetar. Tawa Zhao Chen terngiang kembali. Sesuatu di dalam dirinya pecah. Aura hitam merembes keluar, bukan meledak, melainkan berdenyut perlahan, seperti napas makhluk purba yang lama tertidur. Udara di ruangan itu membeku. Lalu suara misterius terdengar. Dalam. Tua. Penuh ejekan dan kesabaran ribuan tahun. “Apa kamu menyesal?” Tubuh Zhao Ling menggigil. “Aku sudah lama menunggumu.” Bayangan hitam berputar di dalam kesadarannya, membentuk siluet naga raksasa bermata merah. “Jika kau menginginkan kekuatan…” Suara itu mendekat. “Serahkan segalanya!” Zhao Ling mengangkat kepala, air mata bercampur darah. “Jika ini harga untuk membunuh mereka semua…” Ia mengepalkan tangan kuat. “Aku terima.” Mendengar keputusan Zhao Ling, membuat senyum kegelapan milik sosok mengerikan itu merekah seperti sebuah kebebasan sudah ada di depan matanya. ***“Zhao Ling!”Suara berat itu menggema di dalam lautan kesadarannya, bergulung seperti guntur yang terperangkap di balik langit hitam tanpa batas. Gelap. Sunyi. Dingin. Zhao Ling merasa dirinya seperti terbenam di dasar jurang, tak mampu bergerak, hanya bisa merasakan kehadiran kelam yang mengintai dari balik kabut pekat.Bukan amarah.Bukan pula niat membunuh.Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, keberadaan purba yang membuat naluri manusia ingin berlutut dan memohon.Tubuh Zhao Ling bergetar hebat.Seketika, sepasang matanya terbuka.Langit malam bertabur bintang menyambut pandangannya. Angin dingin menyapu wajahnya, menusuk hingga ke tulang. Kepalanya berdenyut hebat, ingatan tentang pertarungan sebelumnya muncul terputus-putus seperti mimpi buruk yang belum selesai.“Kenapa aku… Ada di sini?” gumamnya lirih. “Bukankah sebelumnya aku sedang bertarung melawan para tua bangka itu?” gumam Zhao Ling tipis sedikit terheran.***“Tetua Agung! Kami sudah tidak kuat lagi!”Pekikan
Hujan belum berhenti.Langit Kota Qingshi masih gelap, seolah malam enggan melepas tempatnya. Air mengalir di sela batu dan selokan, membawa bau besi dan lumpur. Di kediaman kecil di sudut klan, Zhao Ling berdiri kaku di depan ranjang kayu.Tubuh Ibunya sudah Ia tutup dengan kain putih. Ia menatap kain itu lama sekali.Tak ada air mata.Bukan karena Ia tak ingin menangis, melainkan karena dadanya terasa kosong, seperti sesuatu telah tercabut paksa dan meninggalkan lubang menganga.Hujan menetes dari atap yang bocor, jatuh tepat di lantai tak jauh dari tempatnya berdiri.Satu tetes.Dua tetes.Detaknya selaras dengan denyut aneh di dadanya. Bukan jantung. Tapi lebih dalam dari itu.Zhao Ling menutup mata. Ingatan tentang tawa Zhao Chen, tentang pil hitam yang diberikan kepadanya, tentang suara Tetua Agung yang dingin dan semua penghinaan bercampur menjadi satu, lalu meledak.Ia membuka mata kembali.Hitam.Pupil matanya menggelap, nyaris menelan putihnya. Urat-urat hitam merambat samar
Sedari awal Zhao Ling memang tidak berharap banyak kepada keluarganya, namun apabila ada secercah harapan apapun akan dia lakukan meski harus berlutut menghinakan diri.Kekecewaan memenuhi hati dan pikirannya. Ia bangkit seraya menatap Aula Pertemuan dengan penuh kebencian.Namun Zhao Ling tak berdaya, Ia tidak memiliki kekuatan untuk menentang mereka. Lantas pergi dari kediaman Zhao untuk mencari bantuan dari pihak lain.Satu kota itu Ia telusuri, dari satu toko obat ke toko obat yang lain. Zhao Ling mengemis, berlutut, bahkan sampai bersujud di depan semua orang agar bisa mendapatkan tanaman Teratai Giok. Baginya keselamatan Ibundanya lebih penting dari harga diri yang terluka.Meski Zhao Ling sudah menawarkan dirinya untuk menjadi budak sekalipun, tidak ada yang sanggup menerimanya.Meskipun Zhao Ling hanya sampah di keluarga Zhao, namun dia masihlah keturunan dari keluarga terpandang, membuat semoga orang tak berani macam-macam dengannya.Hujan turun tanpa belas kasihan.Langit ma
Matahari perlahan tenggelam ke arah barat, seperti hembusan napas terakhir dari hari yang kelelahan. Langit berwarna jingga kusam menggantung rendah di atas perbukitan, sementara bayangan pepohonan memanjang di jalan setapak yang sempit. Angin membawa aroma tanah basah dan daun kering, menyentuh kulit dengan dingin yang samar, pertanda malam tak lama lagi akan mengambil alih dunia.Seorang pemuda berjalan sendirian menyusuri jalan itu.Pakaian lusuh melekat di tubuhnya yang kurus, namun jelas terlatih oleh kerja keras yang tak kenal lelah. Di punggungnya tergantung tas keranjang anyaman, penuh sesak oleh tanaman obat: akar pahit, daun berurat halus, dan bunga liar yang hanya tumbuh di lereng tertentu. Setiap langkahnya mantap, meski pundaknya sedikit turun menahan beban yang bagi dunia tak berarti apa-apa, namun bagi hidupnya terasa begitu berat.Pemuda itu adalah Zhao Ling.Sebagai putra sulung Klan Zhao, ia seharusnya berjalan dengan kepala tegak. Namun kenyataannya, sejak fajar ia







