Lantai 22 sore itu masih diselimuti ketegangan khas menjelang ulang tahun perusahaan yang ke-50. Pintu mahoni ruangan Arion terbuka dengan dentuman pelan namun tegas. Sang Direktur Operasional melangkah keluar, sudah mengenakan jasnya kembali, wajahnya kaku seperti biasa. Mas Redy, yang sepertinya selalu siap siaga dengan pergerakan bosnya, langsung berdiri tegak. Ia menyambar tas kerja, dua buah tablet, dan setumpuk map progres interior Hotel Richie. "Siap, Pak! Mobil sudah standby di lobi. Mari, kita ke lokasi sekarang," ucap Mas Redy dengan semangat yang dipaksakan, meski lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. Arion menghentikan langkahnya tepat di depan meja Mas Redy. Ia mengangkat satu tangan, memberi isyarat 'berhenti' yang mutlak. "Redy, kamu tidak usah ikut. Pulanglah, atau kerjakan sisa administrasi di sini. Biar Canna yang menemani saya ke lokasi." Mas Redy mematung. Mulutnya sedikit terbuka, seola
Last Updated : 2026-03-22 Read more