Bau antiseptik yang tajam perlahan memudar seiring langkah tertatihku keluar dari ruang praktik dokter spesialis ortopedi. Di sampingku, Pak Arion berjalan dengan saku celana yang digenggam erat, matanya sesekali melirik pergelangan kakiku yang kini tak lagi terbalut perban tebal. "Dokter bilang retaknya sudah membaik, tapi jangan coba-coba lari maraton dulu," ucap Pak Arion datar saat kami berjalan menuju lobi rumah sakit. Aku hanya mengangguk kecil. "Iya, Pak. Terima kasih sudah mengantar." Di depan lobi, mobil sedan hitam sudah terparkir rapi. Pak Salim, supir pribadi yang setia, segera turun dan membukakan pintu belakang dengan senyum ramah. "Gimana kakinya, Mbak Canna? Sudah mendingan?" tanya Pak Salim hangat. Kurasa ini pertama kalinya dia mengajakku berbicara. "Sudah, Pak Salim. Tinggal pemulihan sedikit lagi," jawabku berusaha ceria, meski hatiku masih terasa berat karena keputusanku untuk menjaga jar
Last Updated : 2026-02-28 Read more