“Akhirnya elo pulang di jam normal lagi.”Suara Laura menyambut ketika pintu apartemen menutup di belakangku. Dengan langkah gontai, aku menuju ruang tengah, di mana gadis itu duduk bersama sebungkus besar keripik kentang di pelukannya.Aku bergabung bersama Laura duduk di sofa, merebut keripik kentang yang sedang dia nikmati dan meraup rakus ke dalam mulutku. “Capek banget gue.”“Dimeja ada pizza. Makan, gih,” perintah Laura, dia mengambil remote TV dan mengganti salurannya. “Lagian bos lo itu enggak punya otak apa? Elo baru dua minggu di Jakarta, tapi di suruh lembur sampe pulang tengah malem.”Aku seketika memegang pergelangan tangan Laura, mencengkeramnya kuat untuk menghentikan gerutuan sahabatku itu.Laura spontan menoleh ke arahku dengan wajah bingung. “Apaan, sih Cass? Sakit tau”Aku mengigit bibir bawahku dengan gugup. Mataku mengedar cepat ke semua langit-langit penjuru ruangan, mencoba mencari titik teror berupa lensa mikro kamera pengintai yang bisa saja di tanam Arthur di
Terakhir Diperbarui : 2026-07-24 Baca selengkapnya