LOGINCassie, harus memutar arah hidupnya sebagai mahasiswa S2 di Universitas Amsterdam setelah insiden yang membuat ayahnya menghilangnya. Ditengah kesedihannya, seorang pria tampan nan misterius tiba-tiba muncul, mengaku sebagai rekan kerja sang ayah. Pria itu bernama Arthur Hunter, Chairman dari yayasan museum Jakarta. Namun, Cassie sudah tau, yang Arthur kerjakan lebih kelam dari sekedar mengoleksi benda bersejarah. Dia ternyata bagian dari organisasi mafia perdagangan benda bersejarah ilegal. Dengan kemampuan manipulatifnya, Arthur berhasil meyakinkan Cassie untuk ikut bersamanya ke Jakata dan bekerja untuknya di Museum Jakarta. Cassie yang sangat berharap bisa menemukan sang ayah, akhirnya terpaksa bekerjasama dengan pria berbahaya itu karena Arthur menjanjikan perlindungan dan informasi mengenai ayahnya. Ketika Cassie mulai menaruh hati, kenyataan pahit satu persatu terkuak. Arthur dengan segala kemegahannya ternyata menyimpan banyak rahasia. Akan kah Cassie bisa bertahan hidup di dalam cengekaram pria seberbahaya Arthur?
View More“Papa ada pekerjaan di Rijksmuseum. Kalau kamu enggak sibuk, bisa kita bertemu?”
Tulisan yang terasa canggung ini sudah puluhan kali aku baca di layar ponsel. Tidak ada kelanjutannya sampai berhari-hari. Bahkan balasanku yang singkat saja belum menunjukan tanda-tanda telah dibaca.
Ini musim gugur keduaku di Amsterdam. Masih sama seperti musim gugur tahun kemarin, langit kelabu, angin dingin bertiup pelan dan daun-daun kering berserakan di taman. Bedanya kali ini, tiba-tiba Papa berjanji akan menemuiku di Negeri Kincir Angin ini setelah hampir dua tahun kami tidak berjumpa. Walau tujuan utamanya adalah karena pekerjaan, tetapi rasa gembira ini tetap menyelinap di dada.
“Cassie, ik zocht je in het lab.” (Cassie, aku mencarimu di lab)
Aku mendongak. Fientje, temanku sesama mahasiswa S2 Arkeometri Universitas Amsterdam, berjalan mendekat. Gadis pirang itu kemudian duduk di seberang meja dengan membawa dua bungkus sosis khas belanda yang terlalu asin di lidahku.
“Got any coffee?” Aku balik bertanya. Dua tahun di Amsterdam hanya membuatku paham apa yang mereka ucapkan tanpa kemahiran bicara.
Dia mengela napas dan mendorong piring plastik ke depanku. “Setidaknya isi perutmu dulu. Seharian kau melamun sambil memandangi layar ponsel.”
Aku tidak menjawab, temanku pasti tahu alasan kenapa dua hari ini aku menjadi terobesesi pada ponsel.
“Masih belum ada kabar dari Papamu?” tanyanya kemudian. Ikut beralih menggunakan bahasa Inggris.
Aku menggeleng pelan dan menarik bungkusan sosis yang dia bawa. “Kalau sudah berurusan dengan benda bersejarah, Papa memang lupa segalanya.”
Fientje terkekeh lalu menunjuk hidungku, “sama persis seperti putrinya.”
Obrolan hangat mengalir antara aku dan gadis Belanda ini, mengisi waktu senggang disela penelitianku tentang tembikar kuno yang akhir-akhir ini menjadi obsesiku.
Selesai mengisi perut, aku dan Fientje kembali menuju gedung pascasarjana tempat Laboratorium kami berada. Gedung tua yang sarat akan sejarah ini selalu membuatku takjub. Katanya, gedung dengan gaya neogotik ini dulunya adalah rumah sakit, tetapi berubah fungsi pada abad ke-19. Namun, kemegahannya masih selalu membuat aku merinding.
Namun, kali ini ada pemandangan yang tidak biasa di ujung koridor dekat pintu lab. Seorang pria berdiri membelakangi kami dengan satu tangan dimasukan ke dalam saku celana. Pria itu memakai setelan jas navy dengan potongan sempurna. Bahkan dari belakang pun, pria dengan bahu tegap ini sudah terlihat gagah dan berwibawa.
“Siapa itu?” bisik Fientje, tampak penasaran dengan pria asing yang tiba-tiba muncul di depan pintu Lab.
Aku menggeleng. Sama-sama tidak tahu siapa pria yang penampilannya seperti konglomerat di sampul majalah Forbes ini.
Suara langkah kami yang menggema di koridor membuat pria itu berbalik. Pria dengan tinggi di atas rata-rata ini sempat membuatku menahan napas. Garis wajah perpaduan Asia-Eropa memang tidak pernah gagal membuat kagum. Rahang tegas, berpadu dengan hidung lurus dan mata yang gelap dan tajam, menjadikannya seperti dongeng indah yang membuai.
“Cassidy Wirasana?” suaranya terdengar berat, membuat mataku mengerjap.
Dia melafalkan nama lengkapku dengan fasih. Jelas sekali, dia orang Indonesia.
“Alright, turns out he’s your guy. I’ll leave you two alone,” bisik Fientje sambil menyenggol pelan lenganku. Dia sempat melempar senyum sebelum meninggalkan kami dan menghilang di balik pintu Lab.
“Iya, anda siapa?” tanyaku, spontan menggunakan bahasa Indonesia.
Pria di hadapanku ini tidak langsung menjawab. Dia menarik satu tangannya dari saku celana, beralih merogoh saku dalam jasnya, lalu mengeluarkan sesuatu.
“Saya Arthur, dari Museum Jakarta.” Dia menyodorkan sebuah kartu nama dengan logo resmi yang familiar.
Aku sempat tertegun beberapa detik, mencerna apa yang sedang pria ini lakukan, tapi jeda itu nampaknya membuat dia tidak sabar. Tanpa menunggu persetujuanku, dia meraih satu tanganku, meletakan kartu nama tadi di telapak tanganku. Seolah menegaskan bahwa dia bukan orang yang bisa dibantah.
Sejak melihat postur tubuh dan sorot matanya saja, aku sudah bisa menebak bahwa dia adalah pria yang terbiasa memegang kendali. Jabatannya di Museum Jakarta pasti bukan main-main.
Aku melirik kartu nama hitam dengan cetakan emas berkilau mewah itu:
Arthur Hunter
Chairman of the Board of Trustees“Ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan.” Suara beratnya mengembalikan perhatianku dari kartu nama tadi. “Apa kamu ada waktu?”
Aku menghela napas, mengumpulkan keberanian sebelum mendongak menatap wajahnya. Posturnya yang tinggi memaksaku untuk sedikit menengadah.
“Kita bisa bicara di sana.” Aku menunjuk sudut koridor di depan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke sungai di luar gedung. Pria bernama Arthur ini mengikuti langkahku tanpa protes.
Begitu sampai di depan jendela, aku berbalik menghadapnya. Sinar lembut matahari musim gugur menerpa wajah pria di depanku ini. semakin mempertegas garis wajahnya yang tajam. Sempurna, sekaligus mengintimidasi.
“Mau tanya tentang apa?” tanyaku berusaha tetap tenang.
“Ayahmu,” jawabnya singkat.
Seketika semua perasaan kagum pada paras tampannya menguap, berganti menjadi kewaspadaan. “Ada urusan apa kamu sama Papaku?”
“Kami rekan kerja.”
Aku menatapnya dari ujung rambut hingga sepatunya yang mengkilap. “Saya enggak ingat Papa pernah punya rekan kerja yang mirip model jam tangan mewah.”
Arthur tidak menanggapi sindiranku. Dia hanya menarik sudut bibirnya tipis.
“Saya tidak suka basa-basi, saya hanya ingin memastikan, apa kamu dan Henry sempat bertemu akhir-akhir ini?”
Dia jelas terlalu muda untuk memanggil Papa langsung dengan namanya tanpa embel-embel sopan santun seperti ‘bapak’ atau lainnya. Walau wajah kadang menipu, tapi aku yakin usianya masih awal tiga puluhan.
“Enggak,” jawabku sambil menggeleng.
“Apa kamu tahu apa yang ayahmu lakukan di Rijksmuseum?” tanyanya lagi. Kali ini terasa ada penekanan.
Aku kembali menggeleng. “Saya enggak tahu.”
Arthur diam sejenak. Dia menatapku dengan lekat. Mata gelap itu terasa sangat mengintimidasi, seolah sedang memperingatkanku agar jangan pernah berpikir untuk membohonginya.
“Dengar, Cassidy,” ucapnya kemudian tanpa memutus kontak mata, “Ada hal serius yang sedang menimpa ayahmu.”
Aku tidak langsung merespon. Informasi itu butuh jeda beberapa saat untuk bisa aku cerna, sampai kemudian berbagai prasangka tiba-tiba memenuhi kepala.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku, menatapnya penuh curiga.
“Sudah saya katakan, kami rekan kerja. Dan kali ini, dia telah mengacau.”
“Aku enggak pernah mau ikut campur sama urusan pekerjaannya. Kami bahkan jarang berkomunikasi,” tegasku berusaha meyakinkannya. Aku tidak mau terseret pada masalah mereka.
“Saya hanya butuh informasi apapun tentang Henry. Sekecil apapun mungkin bisa menjauhkanmu dari bahaya.”
Semakin lama, kalimat yang keluar dari mulut pria di depanku membuat jantungku berdegup kencang. Dia terlihat bersungguh-sungguh dan itu mulai membuatku merasa cemas.
“Sa-- saya enggak ngerti,” ucapku dengan terbata.
Arthur menatap sekeliling, sesekali mengusap ujung alis dengan telunjuknya.
“Kamu sudah punya kontak saya. Simpan itu dan hubungi saya jika ada informasi atau barang yang berkaitan dengan Henry yang ingin kamu berikan,” ucapnya tenang. Sangat kontras denganku yang mulai dilanda kekhawatiran.
“Barang?”
“Ya, sesuatu yang tidak semestinya berada di tangan ayahmu,” Arthur melangkah maju memangkas jarak di antara kami, Dia sedikit menunduk, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada rendah, “barang berharga yang membuat dia rela kehilangan nyawa.”
Aku seketika menggigil mendengar suara beratnya yang penuh ancaman.
Apa yang terjadi sebenarnya? siapa lelaki di depanku ini? Dan mengapa semua yang dia ucapkan terasa seperti marabahaya yang siap merenggut hidupku?
Berjam-jam aku habiskan di depan laptop untuk melakukan riset. Puluhan jurnal yang terebar di internet aku baca perlahan. Sebagian besar teori sudah kukuasai, tetapi beberapa jurnal baru terbitan luar negeri tetap memberiku petunjuk serta pemahaman baru.Aku hampir melupakan makan siang kalau bukan Diah yang mengingatkan. Gadis itu berdiri mematung di ambang pintu tanpa berani melangkah sejengkal pun melewati batas ruang kerja Arthur.“Bisa bawakan ke sini makan siang saya?” pintaku tanpa menoleh ke arahnya. Jurnal yang sedang ku baca di layar monitor terlalu menarik untuk aku tinggalkan.Walau pun tidak langsung menjawab, sudut mataku menangkap anggukan kecil dari Diah yang masih berdiri canggung di ambang pintu. Lalu beberapa menit kemudian makan siang pun di antar Diah, lengkap dengan potongan buah dan air putih dingin.Waktu bergulir cepat. Duan akhirnya muncul menemuiku di ruang kerja Arthur sambil membawa dua cangkir teh dan satu kotak bronis panggang yang dia sodorkan di depank
Matahari sudah lama terbit, dan aku masih belum mampu menguatkan tekad untuk beranjak dari tempat tidur. Sarapan yang diantar Diah beberapa jam lalu masih bertengger di atas nakas, sama sekali belum kusentuh.Aku meraba nakas, mengambil ponsel yang semalam kembali dipinjamkan Arthur padaku. Mengetuk layar beberapa kali mencari nama Laura pada daftar kontak.“Cassie! Astaga, susah banget komunikasi sama lo. Nomor ini enggak aktif seminggu lebih. Elo baik-baik aja, kan?” pekik dari ujung sambungan. Suara Laura yang nyaring membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.“Gue baik-baik aja,” jawabku sambil tersenyum kecil. Tidak bisa menahan rasa gembira bisa mendengar suara sahabatku lagi.“Kemarin gue sempet main ke museum. Berharap bisa ketemu lo di sana. Tapi gue baru inget kalo elo udah enggak dibolehin kerja lagi sama Tuan Grey lo itu,”“Tuan Grey? Gila kali lo.” umpatku, tidak setuju pada julukan yang diberikan Laura untuk Arthur. Tuan Grey setidaknya mencintai Anastasya, sedangkan Arthu
Di pagi hari, kondisiku sudah jauh lebih baik. Nyeri datang bulan berkurang dan sakit kepala sudah tidak terlalu menyiksa. Hanya saja, makanan yang dibawa Diah ke kamar belum ada yang bisa masuk lebih dari dua suap.“Mbak, kalau mau minum pereda nyeri lagi, minimal buburnya dimakan separuhnya,” bujuk Diah ketika melihat mangkuk bubur pagi ini masih penuh.Aku meliriknya sebelum kembali memejamkan mata menahan rasa mual yang mendadak naik. “Saya masih ngantuk. Nanti siang saya pasti makan banyak.”Tidak lama, suara langkah kaki membuatku kembali membuka mata. Arthur muncul dari ambang pintu, disusul oleh seseorang dengan pakaian rapi yang membawa tas medis hitam berukuran sedang.“Ini Dokter Sylvanus. Kemarin dia sudah memeriksamu waktu kamu belum sadar,” papar Arthur ketika dia sudah berdiri ujung ranjang, memperkenalkan pria oriental yang tersenyum ramah padaku.Aku menyapanya dengan anggukan kecil dan membalas senyum ramahnya dengan tarikan garis bibir yang kaku.“Bagaimana perasaanm
Aku sudah membaca belasan jurnal dan puluhan kali eksperimen. Tenaga dan kesadaranku terkuras habis. Semakin hari, rasa berat di kepala semakin menguat. Ada kalanya aku muntah sehabis makan akibat terlalu lama menghirup uap kimia yang terkumpul di ruangan tertutup ini.Entah di hari ke berapa Diah mulai membawakanku obat-obatan dan vitamin. Menu makananku semakin diperhatikan tetapi hal itu justru membuatku semakin kehilangan nafsu makan.Aku yakin sudah lebih dari seminggu aku menginap di studio dan siklus datang bulan memperparah kondisi fisikku hari ini. Kram hebat di perut serta kepala berdenyut kencang membuat persendianku menyerah menopang tubuh. Badanku bergetar menahan lemas, dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras di pelipis.“Diah, kamu ke toko terdekat ya. Tolong beliin aku pembalut sama obat pereda nyeri,” pintaku dengan suara pelan, menahan rasa melilit di perut.Diah segera mengangguk patuh walau sebelumnya sempat menatapku dengan cemas. Tanpa banyak bertanya, d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore