Setelah diusir, Alfons mengurung diri di vila. Dia memulangkan semua orang. Dia duduk di sofa, menatap udara kosong."Sabrina, airnya sudah mendidih, kenapa kamu nggak tuang air?""Sabrina, lantainya kotor, kenapa kamu nggak pel?""Sabrina, aku lapar. Aku ingin makan daging goreng ...."Di rumah mewah yang begitu besar, hanya ada gema yang kosong. Alfons kelaparan sampai perutnya kram, tetapi dia tidak bisa menelan sedikit pun makanan.Dia mencoba memesan makanan dari hotel bintang lima itu. Hidangan yang sama, beef Wellington dengan trafel hitam.Namun, baru masuk ke mulut, bau amis darah itu membuatnya mual. Dia memuntahkannya."Nggak enak ... sama sekali nggak enak ...." Dia terisak-isak di meja makan. "Aku mau makan mi buatan Sabrina .... Aku mau makan mi kuah bening yang cuma ada sedikit daun sayur ...."Namun, tak akan ada lagi yang memasakkan untuknya. Saat malam tiba, ketakutan menelannya.Dia membungkus diri dengan jaket bulu angsa tebal, meringkuk di sudut dinding. Matanya te
Mehr lesen