Share

Bab 7

Author: Youra
Keluar dari rumah duka, Alfons kembali ke rumah kontrakan. Begitu pintu dibuka, bau apek bercampur udara dingin menerpa wajahnya.

Satu-satunya sumber pencahayaan berasal dari lampu jalan yang menembus masuk ke rumah, memberikan penerangan yang samar kepada ruang yang gelap gulita itu.

Alfons menyalakan lampu. Bohlam redup itu berkedip dua kali dengan bunyi berdesis sebelum akhirnya menyala.

Yang terlihat di depan mata adalah kekacauan di seluruh ruangan. Di lantai masih berserakan pecahan mangku
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 10

    Setahun penuh setelah kematianku, harta Alfons habis tak bersisa. Karena kondisi mentalnya tak stabil, perusahaan direbut bersama-sama oleh dewan direksi. Dia benar-benar menjadi orang tak berguna.Pada malam Tahun Baru, di luar kembali turun salju lebat. Suara kembang api dan petasan bersahut-sahutan.Alfons bangkit dari tempat tidur. Di matanya terpancar kegembiraan yang aneh. "Tahun Baru ... harus makan pangsit ... harus makan daging goreng .... Sabrina belum pulang .... Aku harus jemput dia ...."Dia mendorong motor listrik rusak yang dulu kukendarai semasa hidup, lalu keluar dari rumah. Motor itu sudah lama kehabisan baterai. Dia mengayuhnya dengan kaki, sedikit demi sedikit bergerak maju."Sabrina ... suamimu datang menjemputmu …. Aku sudah membelikanmu baju baru ... membelikanmu gelang emas ...."Dari dalam pelukannya, dia mengeluarkan bungkusan kain merah. Itu gelang emas yang dia tebus kembali dari pegadaian dengan sisa uangnya selama setahun ini.Tanpa sadar, dia mengayuh sam

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 9

    Setelah diusir, Alfons mengurung diri di vila. Dia memulangkan semua orang. Dia duduk di sofa, menatap udara kosong."Sabrina, airnya sudah mendidih, kenapa kamu nggak tuang air?""Sabrina, lantainya kotor, kenapa kamu nggak pel?""Sabrina, aku lapar. Aku ingin makan daging goreng ...."Di rumah mewah yang begitu besar, hanya ada gema yang kosong. Alfons kelaparan sampai perutnya kram, tetapi dia tidak bisa menelan sedikit pun makanan.Dia mencoba memesan makanan dari hotel bintang lima itu. Hidangan yang sama, beef Wellington dengan trafel hitam.Namun, baru masuk ke mulut, bau amis darah itu membuatnya mual. Dia memuntahkannya."Nggak enak ... sama sekali nggak enak ...." Dia terisak-isak di meja makan. "Aku mau makan mi buatan Sabrina .... Aku mau makan mi kuah bening yang cuma ada sedikit daun sayur ...."Namun, tak akan ada lagi yang memasakkan untuknya. Saat malam tiba, ketakutan menelannya.Dia membungkus diri dengan jaket bulu angsa tebal, meringkuk di sudut dinding. Matanya te

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 8

    Keesokan harinya, kabar kematianku menyebar ke seluruh lingkaran pergaulan mereka.Tentu saja bukan karena Alfons yang mengumumkan berita duka, melainkan karena sebuah video.Seseorang merekam adegan Alfons mengorek sampah dan menelan pil di rumah kontrakan, lalu mengunggahnya ke grup "Grup Kesehatan Tuan Muda".[ Heboh! Tuan Muda Alfons lagi kerasukan atau benar-benar gila? ]Grup itu langsung ramai.[ Jovan: Buset! Itu benaran makan sampah? Sepertinya kematian gadis desa itu membawa pukulan besar buat dia ya? ][ Ed: Sudahlah. Menurutku cuma pura-pura. Alfons ini sial banget. Pas Tahun Baru istrinya mati, sekarang bikin drama begini. Jangan-jangan kerasukan? ][Liam: Keluarkan saja dia dari grup. Lihat saja sudah bikin merinding. Orang yang bawa sial pada istri begini, yang dekat-dekat sama dia pasti kena apes. ]Grup itu mengeluarkannya. Rekan bisnis memutus kerja sama dan menarik investasi. Namun, Alfons tidak peduli.Tubuhnya kurus sampai berubah bentuk, seperti pengemis. Dia ingi

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 7

    Keluar dari rumah duka, Alfons kembali ke rumah kontrakan. Begitu pintu dibuka, bau apek bercampur udara dingin menerpa wajahnya.Satu-satunya sumber pencahayaan berasal dari lampu jalan yang menembus masuk ke rumah, memberikan penerangan yang samar kepada ruang yang gelap gulita itu.Alfons menyalakan lampu. Bohlam redup itu berkedip dua kali dengan bunyi berdesis sebelum akhirnya menyala.Yang terlihat di depan mata adalah kekacauan di seluruh ruangan. Di lantai masih berserakan pecahan mangkuk yang dia banting dua hari lalu saat marah. Di atas meja ada setengah mangkuk kuah mi instan yang tak habis dimakan dan sudah membentuk lapisan minyak putih tebal.Di sudut dinding menumpuk beberapa karung anyaman. Isinya botol air mineral kosong dan kardus bekas. Dia yang memaksaku untuk memungutnya.Alfons masuk ke kamar tidur yang sempit. Tumpukan selimut di atas ranjang tampak berantakan, sarung bantal sudah menguning karena terlalu sering dicuci.Dia menjatuhkan diri duduk di ranjang. Papa

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 6

    Ruang jenazah di rumah duka sangat dingin, berbau disinfektan dan busuk.Alfons terhuyung mengikuti polisi tua itu dari belakang. Aku melayang masuk mengikuti mereka.Lemari pendingin tersusun rapi. Dokter forensik yang mengenakan masker tebal itu adalah seorang gadis muda. Dia melirik Alfons yang seluruh tubuhnya berbau alkohol dengan tatapan dingin, lalu menunjuk ke salah satu ranjang jenazah di tengah.Di sana tertutup selembar kain putih. Siluet di bawah kain putih itu kurus dan menyedihkan.Kedua kaki Alfons terasa seperti disiram timah, tak mampu maju untuk langkah terakhir itu. Dia mencengkeram pagar samping ranjang hingga buku-buku jarinya memutih."Buka. Aku mau lihat sampai kapan dia bisa pura-pura." Dokter forensik memegang sudut kain putih dan mengangkatnya.Udara seakan-akan membeku. Tubuh itu tersingkap di bawah cahaya lampu. Kulitnya kekuningan dan pucat, penuh luka lecet. Di dahinya ada lubang berdarah.Kedua tangan itu ungu kemerahan dan bengkak, dipenuhi radang beku d

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 5

    Tiba-tiba, pintu dipukul keras hingga bergemuruh. Jovan bangkit untuk membuka pintu."Siapa sih! Nggak punya mata apa? Nggak lihat Pak Alfons lagi kesal? Kalau itu kurir makanan yang nggak tahu diri, aku pasti ...."Umpatan itu terhenti mendadak.Terdengar langkah kaki yang berat dan kacau. Beberapa polisi mendorong Jovan ke samping lalu masuk dengan langkah besar.Ruang privat itu langsung sunyi. Semua orang mematung. Alfons masih mengangkat gelas, menatap polisi tua yang memimpin rombongan."Heh, sandiwara Sabrina ini benar-benar niat, ya." Dia menghantamkan gelas ke meja kopi, pecahan kaca berhamburan ke mana-mana."Demi memaksaku balik ke rumah sewaan, sampai menyewa polisi segala? Kalian tahu siapa aku? Tahu siapa pemilik rumah ini?"Polisi tua mengeluarkan sebuah kantong plastik dan menepukkannya ke meja kopi. Di dalam kantong itu ada sebuah ponsel dengan layar pecah dan sebuah kartu identitas berlumur darah. Lubang pengisian daya ponsel itu disumpal tisu.Foto di kartu identitas

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 3

    Bel pintu berbunyi.Sebelum kepala pelayan sempat membukanya, pintu sudah didorong terbuka. Aroma parfum bercampur udara dingin masuk ke dalam."Wah, Alfons, ini markas rahasiamu yang legendaris itu ya?"Sekelompok orang masuk.Di tengah kerumunan itu adalah Amanda. Teman kuliah Alfons, wanita yang

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 2

    Makanan pesan antar datang dengan sangat cepat. Kepala pelayan mendorong troli masuk, lalu menata hidangan di atas meja.Alfons duduk di sisi meja, memotong sepotong beef Wellington dan memasukkannya ke mulut. Baru dikunyah dua kali, dia mengerutkan kening lalu memuntahkannya ke piring."Bah, apaan

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 1

    Alfons berjalan ke lemari minuman dan mengambil pemotong cerutu. Kemarin, dia masih meringkuk di kamar sewaan yang bocor angin dan mengeluh sakit tangan padaku. Dia bilang, mengangkat batu bata membuat otot dan tulangnya cedera. Mangkuk saja tidak bisa dipegang dengan stabil, bahkan untuk mencuci mu

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 4

    Dentang jam tengah malam berbunyi. Tahun baru telah tiba. Suara petasan memekakkan telinga, televisi menayangkan hitung mundur.Layar ponsel di atas meja menyala. Cahayanya menyilaukan dan terus berdering tanpa henti.Puluhan panggilan tak terjawab. Panggilan itu dari nomor asing.Alfons melirik sek

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status