Short
Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya

Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya

Oleh:  YouraTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
1.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ini adalah malam tahun baru ketiga sejak suamiku bangkrut. Rumah kami begitu miskin sampai tidak tersisa beras sedikit pun. Dia bilang, dia ingin makan daging. Dengan suhu minus 20 derajat dan badai salju lebat, aku menahan dingin sambil mengendarai motor listrik tua untuk mengambil pesanan kerja lepas. Jalanan terlalu licin. Aku dan motorku terperosok ke selokan. Beberapa tulang rusukku patah dan di tengah salju yang menutupi langit, tubuhku perlahan kehilangan suhu. Menjelang ajal, tanganku masih mencengkeram erat kotak lauk daging goreng yang kubeli khusus untuk tambahan makanannya. Setelah jiwaku meninggalkan tubuh, aku melayang kembali ke rumah kontrakan kami yang selalu berangin, tetapi tak ada seorang pun di sana. Aku keluar dan melihat suamiku berdiri rapi dengan setelan jas di sebuah vila mewah yang hanya terpisah satu jalan. Di tangannya sedang menggoyangkan segelas anggur merah dengan santai. Sekelompok pengawal bersikap sangat hormat kepadanya. Aku melayang mendekat dan mendengar dia bergumam, "Aku benar-benar nggak kepengin lagi jalani hidup sengsara begini. Kalau wanita bodoh itu tahu aku pewaris orang terkaya, mungkin dia akan senang setengah mati." "Tapi, ke mana dia pergi? Kenapa belum pulang untuk masak? Benar-benar makin malas saja." Namun dia tidak tahu, aku tidak bisa pulang lagi.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Alfons berjalan ke lemari minuman dan mengambil pemotong cerutu. Kemarin, dia masih meringkuk di kamar sewaan yang bocor angin dan mengeluh sakit tangan padaku. Dia bilang, mengangkat batu bata membuat otot dan tulangnya cedera. Mangkuk saja tidak bisa dipegang dengan stabil, bahkan untuk mencuci muka pun harus aku yang memeras handuk.

Ponsel di atas meja bergetar.

Alfons menggeser layar. Pesan dari grup "Pusat Kebugaran Tuan Muda".

[ Jovan: Sudah cukup mainnya? Ini masih suasana tahun baru, kamu ini terlalu totalitas. Masa benar-benar tinggal di perkampungan kumuh itu selama tiga tahun? ]

[ Ed: Iya, masa sih orang bodoh itu masih belum sadar? Aktingmu juga keterlaluan. ]

Alfons menggigit cerutu, jarinya mengetuk layar.

[ Alfons: Ini namanya melatih istri. Perempuan nggak boleh terlalu dimanjakan. ]

[ Alfons: Kalau dia pernah menemanimu susah, nanti dia baru akan setia mati-matian. Tiga tahun ini cuma tes kepatuhan. Dari yang kulihat sekarang, hasilnya cukup bagus. ]

Grup itu langsung dipenuhi pujian.

[ Jovan: Hebat memang kamu ini! Dulu kami bahkan menyuruhmu jangan sampai kebablasan. Sekarang kelihatannya kakak ipar benar-benar sudah kamu kendalikan sepenuhnya. ]

Alfons tersenyum puas, ujung jarinya menggeser layar dan membuka album foto.

Di dalamnya ada fotoku.

Itu di hari ulang tahunku bulan lalu. Untuk sekali itu dia bermurah hati mengajakku makan mi polos seharga 20 ribu semangkuk. Di foto itu, aku memegang mangkuk mi yang hanya berisi beberapa helai sayur hijau sambil tersenyum penuh kebahagiaan.

Itu adalah pertama kalinya dalam tiga tahun aku makan di luar. Aku kira dia masih memedulikanku. Tanpa kusadari, dia memotret foto itu hanya untuk mengirimkannya ke grup tersebut sebagai bahan hiburan mereka.

Keterangan yang dia tulis di foto itu adalah:

[ Lihat, cuma semangkuk mi sudah bisa membuatnya bersyukur setengah mati. Rasa puas yang murahan begini nggak akan kamu temukan pada para gadis kaya seperti kalian. ]

Di bawah foto itu, ada balasan dari Amanda.

[ Kasihan sekali, kayak anjing liar yang kelaparan tiga hari. ]

Alfons bukan hanya tidak menghapusnya, dia bahkan membalas dengan emotikon jempol. Hal yang begitu berharga bagiku, dia jadikan bahan ejekan yang murahan.

Perutnya tiba-tiba berbunyi. Alfons mengusap perutnya, alisnya berkerut. "Ke mana perginya si bodoh itu?"

Dia melirik jam dinding, pukul delapan malam.

"Beli daging saja harus mulai dari beternak dulu ya? Entah kabur ke mana lagi buat malas-malasan."

Dia menekan nomor yang dipasang paling atas.

Sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada yang mengangkat. Ponselku sedang tergeletak di dasar selokan lima kilometer jauhnya. Layarnya penuh retakan, ternoda darah yang terbatuk dari mulutku dan sedari tadi sudah tidak aktif lagi.

Di sampingnya ada tubuhku yang kaku dan sekotak daging tumis yang isinya tercecer di tanah.

Alfons menekan tombol pesan suara.

"Sabrina, ke mana aja sih kamu? Cuaca sialan begini kamu mau ke mana? Sengaja kabur buat malas-malasan, ya?"

"Tiga menit. Kalau kamu nggak segera balik buat masak, seumur hidup jangan harap bisa masuk ke rumah ini!"

"Nggak tahu diri!"

Aku melayang di depannya, mulutku menganga ingin berteriak, "Alfons, aku nggak malas. Jalanan licin, tanjakannya terlalu curam, aku dan motorku jatuh ke bawah! Tulang rusukku patah hingga menusuk paru-paru, sakit sekali, aku benar-benar nggak bisa bangun ...."

Sekeliling sunyi senyap. Dia tidak mendengar. Kalaupun mendengar, mungkin dia mengira aku cuma berpura-pura menderita. Di matanya, aku ini tahan banting. Mana mungkin bisa mati hanya karena terjatuh sekali?

Alfons memaki beberapa kali, lalu melempar ponselnya ke sofa. "Benar-benar kebiasaan buruk yang dimanjakan." Dia memesan setumpuk makanan lewat tablet.

Harga makan malamnya 7,6 juta. Itu hanya makan malam yang dia pesan sesuka hati. Demi uang sekecil itu, aku mengendarai motor listrik dengan rem yang sudah tidak berfungsi di tengah badai salju minus 20 derajat untuk menyelesaikan 200 pesanan.

Kakiku hampir putus, tanganku membeku, dan nyawaku melayang. Uang yang kudapat, bahkan tidak cukup untuk semangkuk sup yang dia minum. Aku hanya bisa menatapnya begitu saja. Dia duduk santai di sofa dengan kaki disilangkan, menunggu makanan antar khusus dari hotel bintang lima.

Sementara itu, aku berada di dalam selokan, menunggu sisa kehangatan terakhir dari tubuhku menghilang.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Delly Austin
Delly Austin
kaya nya ini novel dari China kah? tapi namanya di lokal kan.
2026-03-25 01:53:23
0
0
M--G
M--G
pura2 miskin nyiksa istri mau buat apa..ujung2nya tragis sendiri
2026-03-22 00:57:24
0
0
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status