Share

Bab 2

Penulis: Youra
Makanan pesan antar datang dengan sangat cepat. Kepala pelayan mendorong troli masuk, lalu menata hidangan di atas meja.

Alfons duduk di sisi meja, memotong sepotong beef Wellington dan memasukkannya ke mulut. Baru dikunyah dua kali, dia mengerutkan kening lalu memuntahkannya ke piring.

"Bah, apaan ini, dagingnya keras begini, berani-beraninya disebut truffle hitam?" Dia menyeka mulutnya. "Masih lebih enak nasi sama semur daging masakan perempuan bodoh itu."

Aku melayang di sampingnya. Dia bukan benar-benar ingin makan semur daging. Dia cuma sudah terbiasa hidup serba dilayani. Terbiasa aku merebus daging sampai empuk, membuang lemaknya, lalu menyodorkannya ke tangan dan menyuapinya.

Rasa nyaman seperti itu tidak bisa diberikan koki sehebat mana pun.

Di dalam ruangan sangat hangat. Alfons hanya mengenakan kemeja, ujung lengan digulung, memperlihatkan lengan bawahnya. Tanpa sadar aku melihat tanganku sendiri.

Tangan arwah ini masih seperti saat hidup, merah bengkak dan penuh retakan. Jari-jari dipenuhi radang yang bernanah dan membusuk karena kedinginan. Ini adalah bukti dari tiga tahun mencuci sayur dan pakaian dengan air dingin.

Musim dingin tahun lalu, pemanas rusak. Pemilik rumah bilang biaya perbaikan butuh satu juta.

Alfons meringkuk di ranjang dengan selimut.

"Sabrina, kita nggak punya uang, nggak bisa dihamburkan sembarangan. Orang zaman dulu sampai melubangi dinding demi cahaya, apa artinya kalau cuma dingin? Kalau hati tenang, tubuh juga terasa sejuk. Tahan saja, nanti juga lewat."

Aku percaya.

Demi menghemat uang, aku menahannya sepanjang musim dingin. Radang itu terasa gatal sampai aku tidak bisa tidur semalaman. Aku terus menggaruknya sampai kulitnya robek, darah dan cairan nanah menempel di selimut.

Ternyata setelah aku tertidur malam itu, dia diam-diam keluar mengendarai Maybach dan pulang ke vila untuk menikmati pemanas lantai.

Cuma aku, si bodoh ini, yang bertahan mati-matian, mengira sedang menemaninya melewati kesusahan bersama.

Alfons menarik kerah kemejanya, lalu melambaikan tangan. "Kenapa panas sekali di sini? Buka jendelanya, pengap sekali."

Kepala pelayan membuka jendela besar. Angin dingin menerobos masuk, membawa butiran salju. Alfons memicingkan mata untuk menikmati udara itu.

Sedangkan aku ... terbaring di dalam angin dan salju. Tanpa pemanas lantai, tanpa kemeja. Hanya jaket bulu tua dengan kapas yang sudah keluar-keluar.

Salju jatuh di wajahnya dan di tubuh jenazahku, menimbunku perlahan.

Setelah kenyang dan puas, Alfons kembali bersandar di sofa. Dia melirik botol obat putih di atas meja kopi. Itu adalah beberapa botol vitamin impor.

Sebulan lalu, dia memegangi dada sambil mengeluh sakit, katanya bangkrut mendadak membuat emosinya terpukul sampai jantungnya terasa sakit. Dokter meresepkan obat impor, 40 juta untuk satu siklus pengobatan.

Di rumah tidak ada uang.

Aku menangis sambil membongkar setiap sudut, lalu mengeluarkan buntalan kain merah itu. Gelang emas peninggalan ibu, mas kawinku dan satu-satunya kenangan terakhir. Aku menggadaikan gelang itu untuk menukar obat, menyodorkannya ke depan dia sambil memohon agar dia minum tepat waktu.

Saat itu, tatapan matanya begitu penuh kasih. "Sabrina, kamu baik sekali sama aku. Tunggu sampai aku bangkit lagi, pasti aku belikan kamu serumah penuh gelang emas."

Saat ini, dia menggeser-geser beberapa botol vitamin itu dengan jarinya.

Alfons mendengus, lalu berkata pada kepala pelayan, "Perempuan itu benar-benar bodoh. Cuma pakai gelang emas rongsokan ditukar dengan suplemen murahan yang harganya ratusan ribu per botol, masih dianggap harta karun."

"Waktu itu aku hampir nggak bisa menahan tawa, tapi masih harus pura-pura terharu sampai mau menangis. Capek setengah mati."

Kepala pelayan ikut tertawa, "Tuan Muda memang jago berakting. Wanita itu kampungan, gampang ditipu."

"Iya, bodohnya sudah nggak tertolong."

Alfons mengambil sebotol obat, lalu melemparkannya ke belakang. Botol itu jatuh ke tong sampah di sudut ruangan.

Bruk!

Pengorbanan yang kuanggap paling berharga, di matanya hanyalah lelucon. Obat yang ditukar dengan menjual barang peninggalan, bahkan tidak layak membuatnya melirik satu kali pun.

Alfons menyalakan televisi dan menyambungkan konsol game. Suara tembakan memenuhi ruang tamu. Dia memaki-maki dengan keras, menyalahkan rekan setimnya yang terlalu payah.

Aku teringat setengah bulan lalu ketika aku demam, aku ingin tidur sebentar karena seluruh tubuhku terasa nyeri. Dia menonton video di sampingku dengan volume suara yang paling keras.

Aku memohon agar dia mengecilkan suaranya. Dia melempar ponselnya sambil memakiku, "Sabrina, kamu drama apa sih? Cuma flu sedikit saja. Tekananku lagi besar, memangnya kenapa kalau nonton video buat santai sebentar?"

"Kamu meremehkan aku karena nggak menghasilkan uang? Kamu nggak mau lanjut hidup bareng lagi, ya?"

Aku ketakutan sampai tidak berani batuk. Aku hanya bersembunyi di balik selimut sampai wajahku memerah. Sekarang, dia menguasai ruang tamu ratusan meter persegi itu untuk berisik sepuasnya. Tidak ada lagi yang mengganggunya.

Alfons meletakkan stik game sambil memutar lehernya.

"Leherku agak pegal. Kenapa perempuan itu belum pulang juga? Biasanya jam segini dia sudah mijat bahuku."

Kepala pelayan mendekat. "Tuan Muda, bagaimana kalau saya panggilkan terapis?"

"Boleh. Cari yang tangannya lembut."

Alfons mendecak, "Tangan Sabrina itu terlalu kasar. Terakhir kali dia memijatku, kulitku sampai terasa perih. Kalau bukan karena harus berakting, dari dulu sudah kutendang dia."

"Iya, iya. Perempuan kasar seperti itu mana pantas melayani Tuan Muda." Kepala pelayan pergi menelepon.

Aku berdiri di sudut ruangan. Tanganku kasar karena aku mencuci jasnya dengan tangan, mencuci piring di musim dingin demi uang rokoknya.

Semua itu malah menjadi dosaku.

Tiga tahun saling bertahan, hanya aku yang menderita. Dia menyaksikan penderitaanku dengan tatapan yang dingin, bahkan menganggap caraku menderita itu tidak sedap dipandang.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 10

    Setahun penuh setelah kematianku, harta Alfons habis tak bersisa. Karena kondisi mentalnya tak stabil, perusahaan direbut bersama-sama oleh dewan direksi. Dia benar-benar menjadi orang tak berguna.Pada malam Tahun Baru, di luar kembali turun salju lebat. Suara kembang api dan petasan bersahut-sahutan.Alfons bangkit dari tempat tidur. Di matanya terpancar kegembiraan yang aneh. "Tahun Baru ... harus makan pangsit ... harus makan daging goreng .... Sabrina belum pulang .... Aku harus jemput dia ...."Dia mendorong motor listrik rusak yang dulu kukendarai semasa hidup, lalu keluar dari rumah. Motor itu sudah lama kehabisan baterai. Dia mengayuhnya dengan kaki, sedikit demi sedikit bergerak maju."Sabrina ... suamimu datang menjemputmu …. Aku sudah membelikanmu baju baru ... membelikanmu gelang emas ...."Dari dalam pelukannya, dia mengeluarkan bungkusan kain merah. Itu gelang emas yang dia tebus kembali dari pegadaian dengan sisa uangnya selama setahun ini.Tanpa sadar, dia mengayuh sam

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 9

    Setelah diusir, Alfons mengurung diri di vila. Dia memulangkan semua orang. Dia duduk di sofa, menatap udara kosong."Sabrina, airnya sudah mendidih, kenapa kamu nggak tuang air?""Sabrina, lantainya kotor, kenapa kamu nggak pel?""Sabrina, aku lapar. Aku ingin makan daging goreng ...."Di rumah mewah yang begitu besar, hanya ada gema yang kosong. Alfons kelaparan sampai perutnya kram, tetapi dia tidak bisa menelan sedikit pun makanan.Dia mencoba memesan makanan dari hotel bintang lima itu. Hidangan yang sama, beef Wellington dengan trafel hitam.Namun, baru masuk ke mulut, bau amis darah itu membuatnya mual. Dia memuntahkannya."Nggak enak ... sama sekali nggak enak ...." Dia terisak-isak di meja makan. "Aku mau makan mi buatan Sabrina .... Aku mau makan mi kuah bening yang cuma ada sedikit daun sayur ...."Namun, tak akan ada lagi yang memasakkan untuknya. Saat malam tiba, ketakutan menelannya.Dia membungkus diri dengan jaket bulu angsa tebal, meringkuk di sudut dinding. Matanya te

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 8

    Keesokan harinya, kabar kematianku menyebar ke seluruh lingkaran pergaulan mereka.Tentu saja bukan karena Alfons yang mengumumkan berita duka, melainkan karena sebuah video.Seseorang merekam adegan Alfons mengorek sampah dan menelan pil di rumah kontrakan, lalu mengunggahnya ke grup "Grup Kesehatan Tuan Muda".[ Heboh! Tuan Muda Alfons lagi kerasukan atau benar-benar gila? ]Grup itu langsung ramai.[ Jovan: Buset! Itu benaran makan sampah? Sepertinya kematian gadis desa itu membawa pukulan besar buat dia ya? ][ Ed: Sudahlah. Menurutku cuma pura-pura. Alfons ini sial banget. Pas Tahun Baru istrinya mati, sekarang bikin drama begini. Jangan-jangan kerasukan? ][Liam: Keluarkan saja dia dari grup. Lihat saja sudah bikin merinding. Orang yang bawa sial pada istri begini, yang dekat-dekat sama dia pasti kena apes. ]Grup itu mengeluarkannya. Rekan bisnis memutus kerja sama dan menarik investasi. Namun, Alfons tidak peduli.Tubuhnya kurus sampai berubah bentuk, seperti pengemis. Dia ingi

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 7

    Keluar dari rumah duka, Alfons kembali ke rumah kontrakan. Begitu pintu dibuka, bau apek bercampur udara dingin menerpa wajahnya.Satu-satunya sumber pencahayaan berasal dari lampu jalan yang menembus masuk ke rumah, memberikan penerangan yang samar kepada ruang yang gelap gulita itu.Alfons menyalakan lampu. Bohlam redup itu berkedip dua kali dengan bunyi berdesis sebelum akhirnya menyala.Yang terlihat di depan mata adalah kekacauan di seluruh ruangan. Di lantai masih berserakan pecahan mangkuk yang dia banting dua hari lalu saat marah. Di atas meja ada setengah mangkuk kuah mi instan yang tak habis dimakan dan sudah membentuk lapisan minyak putih tebal.Di sudut dinding menumpuk beberapa karung anyaman. Isinya botol air mineral kosong dan kardus bekas. Dia yang memaksaku untuk memungutnya.Alfons masuk ke kamar tidur yang sempit. Tumpukan selimut di atas ranjang tampak berantakan, sarung bantal sudah menguning karena terlalu sering dicuci.Dia menjatuhkan diri duduk di ranjang. Papa

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 6

    Ruang jenazah di rumah duka sangat dingin, berbau disinfektan dan busuk.Alfons terhuyung mengikuti polisi tua itu dari belakang. Aku melayang masuk mengikuti mereka.Lemari pendingin tersusun rapi. Dokter forensik yang mengenakan masker tebal itu adalah seorang gadis muda. Dia melirik Alfons yang seluruh tubuhnya berbau alkohol dengan tatapan dingin, lalu menunjuk ke salah satu ranjang jenazah di tengah.Di sana tertutup selembar kain putih. Siluet di bawah kain putih itu kurus dan menyedihkan.Kedua kaki Alfons terasa seperti disiram timah, tak mampu maju untuk langkah terakhir itu. Dia mencengkeram pagar samping ranjang hingga buku-buku jarinya memutih."Buka. Aku mau lihat sampai kapan dia bisa pura-pura." Dokter forensik memegang sudut kain putih dan mengangkatnya.Udara seakan-akan membeku. Tubuh itu tersingkap di bawah cahaya lampu. Kulitnya kekuningan dan pucat, penuh luka lecet. Di dahinya ada lubang berdarah.Kedua tangan itu ungu kemerahan dan bengkak, dipenuhi radang beku d

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 5

    Tiba-tiba, pintu dipukul keras hingga bergemuruh. Jovan bangkit untuk membuka pintu."Siapa sih! Nggak punya mata apa? Nggak lihat Pak Alfons lagi kesal? Kalau itu kurir makanan yang nggak tahu diri, aku pasti ...."Umpatan itu terhenti mendadak.Terdengar langkah kaki yang berat dan kacau. Beberapa polisi mendorong Jovan ke samping lalu masuk dengan langkah besar.Ruang privat itu langsung sunyi. Semua orang mematung. Alfons masih mengangkat gelas, menatap polisi tua yang memimpin rombongan."Heh, sandiwara Sabrina ini benar-benar niat, ya." Dia menghantamkan gelas ke meja kopi, pecahan kaca berhamburan ke mana-mana."Demi memaksaku balik ke rumah sewaan, sampai menyewa polisi segala? Kalian tahu siapa aku? Tahu siapa pemilik rumah ini?"Polisi tua mengeluarkan sebuah kantong plastik dan menepukkannya ke meja kopi. Di dalam kantong itu ada sebuah ponsel dengan layar pecah dan sebuah kartu identitas berlumur darah. Lubang pengisian daya ponsel itu disumpal tisu.Foto di kartu identitas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status