Share

Bab 4

Penulis: Youra
Dentang jam tengah malam berbunyi. Tahun baru telah tiba. Suara petasan memekakkan telinga, televisi menayangkan hitung mundur.

Layar ponsel di atas meja menyala. Cahayanya menyilaukan dan terus berdering tanpa henti.

Puluhan panggilan tak terjawab. Panggilan itu dari nomor asing.

Alfons melirik sekilas.

"Lihat? Apa kataku?" Dia menunjuk ponsel itu. "Mulai panik, 'kan? Pasti pinjam ponsel orang lain buat nelpon sambil nangis-nangis. Pola begini aku sudah hafal."

Dulu setiap kali ponselku mati, aku selalu meminjam telepon orang lain untuk memberi kabar.

Waktu itu dia berkata, "Lain kali pulang lebih cepat, jangan bikin aku khawatir."

Sekarang, dia menganggap itu cara aku mengemis belas kasihan.

Jovan bersorak, "Angkat, dong! Alfons, angkat! Biar kami dengar sendiri gimana dia nangis kejar. Aku sudah bersiap untuk rekam!"

Amanda ikut mendesakm "Iya, cepat angkat. Aku penasaran sama suara anjing setia yang legendaris itu."

Alfons mengangkat ponsel. Dia menekan tombol terima dan menyalakan pengeras suara. "Halo ...."

"Sabrina, sandiwara pura-pura sengsaranya sudah kelewatan, ya? Ini sudah jam berapa? Jangan-jangan kamu mau bilang nyasar lagi? Atau motornya rusak?"

Ruangan mendadak hening.

Di seberang telepon tidak ada suaraku. Hanya suara angin, dengung listrik, dan suara sirene.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara pria, "Apakah ini Pak Alfons? Pemilik ponsel ini, atas nama Sabrina ...."

Senyum Alfons kaku sesaat. Dia memberi isyarat ke orang-orang di sekelilingnya, seolah berkata, "nonton saja".

"Dengan aku sendiri. Memangnya dia mau main apa lagi? Kali ini nyewa orang pura-pura jadi polisi atau dokter? Niat juga, sampai pakai suara sirene segala."

Di seberang sana terdiam sejenak, "Ini dari Unit Lalu Lintas Polres Kota Selatan. Kami menemukan sebuah jasad wanita di dalam saluran air di kilometer 17 jalan nasional."

"Pada tubuh korban ditemukan ponsel ini. Dari pemeriksaan awal, ciri-ciri korban sesuai dengan istri Anda. Mohon Anda segera datang untuk proses identifikasi jenazah."

Suasana seakan membeku. Begitu kata "jasad wanita" dilontarkan, sekeliling langsung hening.

Pupil Alfons menyusut, wajahnya pucat pasi. Namun dengan cepat, ekspresinya berubah menjadi marah. Dia mendadak berdiri dan meraih ponsel sambil berteriak, "Sabrina, demi menipuku supaya menjemputmu, kamu sampai tega mengarang cerita mengutuk dirimu sendiri mati?"

"Hebat benar kamu! Demi memaksaku muncul, kamu menyewa orang pura-pura jadi polisi buat menakut-nakutiku? Kamu pikir aku ini gampang ditakuti?!"

Dia mencibir dingin. "Korban meninggal? Jasad wanita?"

"Oke! Kalau sudah mati, mati saja sekalian jauh-jauh! Jangan mati di depan rumahku, sial!"

Polisi itu tertegun. "Pak, ini bukan sandiwara. Mohon Anda ...."

"Pergi sana!" Alfons menutup telepon dengan kasar.

Di depan semua orang, dia memblokir nomor itu, lalu menyelipkan ponsel ke celah sofa. Dia berbalik dan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat gelas anggur sambil memaksakan senyuman.

"Ayo! Kenapa kalian bengong? Lanjut minum!"

Dia mengangkat gelas tinggi-tinggi sambil berteriak, "Jangan biarkan perempuan gila itu merusak suasana! Perempuan yang menghalalkan segala cara demi uang, lebih baik mati saja! Kalau dia mati, hidupku malah tenang! Bersulang!"

Tring!

Puluhan gelas saling beradu.

Mereka bersorak untuk merayakan tahun baru dan merayakan terbebas dari masalah.

Aku menatap Alfons. Saat pertama kali mendengar kabar kematianku, dia tidak memastikan kebenarannya ataupun bersedih. Dia menganggap pemberitahuan kematian itu sebagai kebohongan, memutuskan kehormatanku yang terakhir di dunia ini.

Alfons, seperti yang kamu inginkan. Aku tidak akan pernah kembali mengganggumu lagi.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 10

    Setahun penuh setelah kematianku, harta Alfons habis tak bersisa. Karena kondisi mentalnya tak stabil, perusahaan direbut bersama-sama oleh dewan direksi. Dia benar-benar menjadi orang tak berguna.Pada malam Tahun Baru, di luar kembali turun salju lebat. Suara kembang api dan petasan bersahut-sahutan.Alfons bangkit dari tempat tidur. Di matanya terpancar kegembiraan yang aneh. "Tahun Baru ... harus makan pangsit ... harus makan daging goreng .... Sabrina belum pulang .... Aku harus jemput dia ...."Dia mendorong motor listrik rusak yang dulu kukendarai semasa hidup, lalu keluar dari rumah. Motor itu sudah lama kehabisan baterai. Dia mengayuhnya dengan kaki, sedikit demi sedikit bergerak maju."Sabrina ... suamimu datang menjemputmu …. Aku sudah membelikanmu baju baru ... membelikanmu gelang emas ...."Dari dalam pelukannya, dia mengeluarkan bungkusan kain merah. Itu gelang emas yang dia tebus kembali dari pegadaian dengan sisa uangnya selama setahun ini.Tanpa sadar, dia mengayuh sam

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 9

    Setelah diusir, Alfons mengurung diri di vila. Dia memulangkan semua orang. Dia duduk di sofa, menatap udara kosong."Sabrina, airnya sudah mendidih, kenapa kamu nggak tuang air?""Sabrina, lantainya kotor, kenapa kamu nggak pel?""Sabrina, aku lapar. Aku ingin makan daging goreng ...."Di rumah mewah yang begitu besar, hanya ada gema yang kosong. Alfons kelaparan sampai perutnya kram, tetapi dia tidak bisa menelan sedikit pun makanan.Dia mencoba memesan makanan dari hotel bintang lima itu. Hidangan yang sama, beef Wellington dengan trafel hitam.Namun, baru masuk ke mulut, bau amis darah itu membuatnya mual. Dia memuntahkannya."Nggak enak ... sama sekali nggak enak ...." Dia terisak-isak di meja makan. "Aku mau makan mi buatan Sabrina .... Aku mau makan mi kuah bening yang cuma ada sedikit daun sayur ...."Namun, tak akan ada lagi yang memasakkan untuknya. Saat malam tiba, ketakutan menelannya.Dia membungkus diri dengan jaket bulu angsa tebal, meringkuk di sudut dinding. Matanya te

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 8

    Keesokan harinya, kabar kematianku menyebar ke seluruh lingkaran pergaulan mereka.Tentu saja bukan karena Alfons yang mengumumkan berita duka, melainkan karena sebuah video.Seseorang merekam adegan Alfons mengorek sampah dan menelan pil di rumah kontrakan, lalu mengunggahnya ke grup "Grup Kesehatan Tuan Muda".[ Heboh! Tuan Muda Alfons lagi kerasukan atau benar-benar gila? ]Grup itu langsung ramai.[ Jovan: Buset! Itu benaran makan sampah? Sepertinya kematian gadis desa itu membawa pukulan besar buat dia ya? ][ Ed: Sudahlah. Menurutku cuma pura-pura. Alfons ini sial banget. Pas Tahun Baru istrinya mati, sekarang bikin drama begini. Jangan-jangan kerasukan? ][Liam: Keluarkan saja dia dari grup. Lihat saja sudah bikin merinding. Orang yang bawa sial pada istri begini, yang dekat-dekat sama dia pasti kena apes. ]Grup itu mengeluarkannya. Rekan bisnis memutus kerja sama dan menarik investasi. Namun, Alfons tidak peduli.Tubuhnya kurus sampai berubah bentuk, seperti pengemis. Dia ingi

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 7

    Keluar dari rumah duka, Alfons kembali ke rumah kontrakan. Begitu pintu dibuka, bau apek bercampur udara dingin menerpa wajahnya.Satu-satunya sumber pencahayaan berasal dari lampu jalan yang menembus masuk ke rumah, memberikan penerangan yang samar kepada ruang yang gelap gulita itu.Alfons menyalakan lampu. Bohlam redup itu berkedip dua kali dengan bunyi berdesis sebelum akhirnya menyala.Yang terlihat di depan mata adalah kekacauan di seluruh ruangan. Di lantai masih berserakan pecahan mangkuk yang dia banting dua hari lalu saat marah. Di atas meja ada setengah mangkuk kuah mi instan yang tak habis dimakan dan sudah membentuk lapisan minyak putih tebal.Di sudut dinding menumpuk beberapa karung anyaman. Isinya botol air mineral kosong dan kardus bekas. Dia yang memaksaku untuk memungutnya.Alfons masuk ke kamar tidur yang sempit. Tumpukan selimut di atas ranjang tampak berantakan, sarung bantal sudah menguning karena terlalu sering dicuci.Dia menjatuhkan diri duduk di ranjang. Papa

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 6

    Ruang jenazah di rumah duka sangat dingin, berbau disinfektan dan busuk.Alfons terhuyung mengikuti polisi tua itu dari belakang. Aku melayang masuk mengikuti mereka.Lemari pendingin tersusun rapi. Dokter forensik yang mengenakan masker tebal itu adalah seorang gadis muda. Dia melirik Alfons yang seluruh tubuhnya berbau alkohol dengan tatapan dingin, lalu menunjuk ke salah satu ranjang jenazah di tengah.Di sana tertutup selembar kain putih. Siluet di bawah kain putih itu kurus dan menyedihkan.Kedua kaki Alfons terasa seperti disiram timah, tak mampu maju untuk langkah terakhir itu. Dia mencengkeram pagar samping ranjang hingga buku-buku jarinya memutih."Buka. Aku mau lihat sampai kapan dia bisa pura-pura." Dokter forensik memegang sudut kain putih dan mengangkatnya.Udara seakan-akan membeku. Tubuh itu tersingkap di bawah cahaya lampu. Kulitnya kekuningan dan pucat, penuh luka lecet. Di dahinya ada lubang berdarah.Kedua tangan itu ungu kemerahan dan bengkak, dipenuhi radang beku d

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 5

    Tiba-tiba, pintu dipukul keras hingga bergemuruh. Jovan bangkit untuk membuka pintu."Siapa sih! Nggak punya mata apa? Nggak lihat Pak Alfons lagi kesal? Kalau itu kurir makanan yang nggak tahu diri, aku pasti ...."Umpatan itu terhenti mendadak.Terdengar langkah kaki yang berat dan kacau. Beberapa polisi mendorong Jovan ke samping lalu masuk dengan langkah besar.Ruang privat itu langsung sunyi. Semua orang mematung. Alfons masih mengangkat gelas, menatap polisi tua yang memimpin rombongan."Heh, sandiwara Sabrina ini benar-benar niat, ya." Dia menghantamkan gelas ke meja kopi, pecahan kaca berhamburan ke mana-mana."Demi memaksaku balik ke rumah sewaan, sampai menyewa polisi segala? Kalian tahu siapa aku? Tahu siapa pemilik rumah ini?"Polisi tua mengeluarkan sebuah kantong plastik dan menepukkannya ke meja kopi. Di dalam kantong itu ada sebuah ponsel dengan layar pecah dan sebuah kartu identitas berlumur darah. Lubang pengisian daya ponsel itu disumpal tisu.Foto di kartu identitas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status