Share

Bab 3

Penulis: Youra
Bel pintu berbunyi.

Sebelum kepala pelayan sempat membukanya, pintu sudah didorong terbuka. Aroma parfum bercampur udara dingin masuk ke dalam.

"Wah, Alfons, ini markas rahasiamu yang legendaris itu ya?"

Sekelompok orang masuk.

Di tengah kerumunan itu adalah Amanda. Teman kuliah Alfons, wanita yang dulu pernah dia kejar. Amanda menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan, sudut bibirnya terangkat sinis.

"Kenapa cuma kamu sendiri? Mana gadis legenda yang katanya setia mati-matian sama kamu itu?" tanyanya sambil menyerahkan sarung tangannya kepada pengawal. "Aku dengar demi membiayai kamu, dia sampai pergi memungut barang bekas?"

Alfons berdiri dan tersenyum. "Sudahlah, jangan dibahas. Kusuruh dia beli daging, tapi udah kayak mati di luar saja, sampai sekarang belum pulang."

Dia merangkul pinggang Amanda. "Kalau ingat dia, seleraku langsung hilang. Nggak kayak ngelihat kamu, Amanda."

Amanda mendorongnya pelan. "Ah, jangan begitu bicara tentang kakak ipar. Dia melakukan itu juga demi keluarga ini."

"Tapi serius, Alfons, kamu terlalu kejam. Aku dengar dari Jovan, tangannya sudah hampir hancur karena beku, tapi kamu masih suruh dia memijatmu? Kamu nggak merasa jijik?"

Alfons mengangkat bahu. "Itu sebabnya sekarang kusuruh dia menjauh. Kalau bukan supaya dia benar-benar percaya aku bangkrut, mana mungkin aku tahan selama ini? Kamu nggak tahu, melihat dia tawar-menawar dengan pedagang cuma demi beberapa rupiah, benar-benar memalukan."

Semua orang tertawa.

"Kesabaran Tuan Alfons memang luar biasa!"

"Kakak ipar itu benar-benar irit!"

Aku melayang di atas mereka, melihat wajah-wajah yang tertawa itu.

Perhitunganku yang hemat, perjuanganku untuk beralasan dengan logis, di mata mereka hanyalah seperti wanita cerewet di pasar. Menghemat 10 ribu itu supaya bisa membelikannya beberapa butir telur tambahan.

Jovan mengangkat gelas dan mendekat.

"Tapi ngomong-ngomong, Alfons, sudah tiga tahun begini, kamu benar-benar tahan terus? Menghadapi wajah kusam seperti itu, kamu masih selera?"

Alfons menyesap minumannya. "Mana mungkin?"

Dia tersenyum sinis. "Aku bahkan nggak pernah menyentuhnya. Melihat wajahnya dan bau asap dapur di tubuhnya saja, aku sudah kehilangan gairah."

"Tiga tahun ini aku tidur di kamar terpisah. Aku bilang sama dia, aku terlalu stres sampai nggak bisa ereksi. Dia benar-benar percaya. Dengan polosnya dia malah membelikanku daun kucai dan tiram buat 'menambah stamina', sampai aku mimisan karena kebanyakan nutrisi."

Aku teringat malam-malam itu. Aku iba padanya karena bangkrut sampai merasa rendah diri dan lemah syahwat, aku pun tidak berani menyinggung hal itu. Dia beralasan tidur di ruang kerja, aku hanya bisa menangis diam-diam, menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak menarik.

Ternyata bukan dia yang tidak mampu, melainkan dia jijik padaku.

Jijik pada wanita yang menua dan menjadi jelek karena dirinya.

Amanda tertawa sampai bahunya bergetar sambil bersandar di pelukan Alfons. "Jadi kapan kamu mau terus terang sama dia? Sandiwara ini sudah cukup lama, 'kan?"

Alfons mencubit dagu Amanda. "Nggak perlu terburu-buru." Dia menunjuk jam di dinding. "Gimana kalau kita bertaruh?"

"Taruhan apa?"

Alfons mengeluarkan kartu hitam dan menepukkannya ke meja.

"Kita bertaruh apakah sebelum tengah malam nanti, perempuan bodoh itu akan menangis sambil merangkak kembali memohon maaf padaku. Aku bertaruh dia akan kembali. Karena dia nggak bisa hidup tanpa aku. Tanpa aku, dia cuma sampah."

Amanda meletakkan antingnya di atas meja. "Aku juga bertaruh dia akan kembali. Perempuan kelas bawah seperti itu, susah payah bisa menempel sama Alfons. Meski Alfons bangkrut sekalipun, dia pasti akan mempertahankannya mati-matian."

"Aku ikut!"

"Tambahin aku!"

Meja kopi dipenuhi kunci mobil, jam tangan mewah, dan uang tunai.

Semua bertaruh aku "akan kembali". Tidak ada yang mengira aku akan pergi. Tidak ada yang terpikir bahwa aku tidak akan pernah kembali.

Taruhannya cukup untuk membeli nyawaku ratusan kali.

Aku hanya merasa dingin. Rasa dingin itu meresap sampai ke dalam jiwaku. Di mata mereka, aku hanyalah seekor anjing. Bagaimanapun mereka memperlakukanku, asal dia memanggil, aku akan mengibaskan ekor dan merangkak kembali.

Di luar jendela, kembang api meledak. Cahayanya menerangi wajah Alfons. Dia mengangkat gelas.

"Bersulang untuk kebebasan yang akan segera datang."

Aku melayang ke dekat jendela. Teringat detik terakhir sebelum mati. Dasar selokan itu gelap dan sangat dingin. Salju jatuh ke wajahku, membekukan bulu mataku.

Aku juga sempat melihat setitik cahaya di kejauhan. Kupikir ada orang datang menolongku. Ternyata itu kembang api. Kembang api yang mereka nyalakan sambil menertawakan nyawaku yang murahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 10

    Setahun penuh setelah kematianku, harta Alfons habis tak bersisa. Karena kondisi mentalnya tak stabil, perusahaan direbut bersama-sama oleh dewan direksi. Dia benar-benar menjadi orang tak berguna.Pada malam Tahun Baru, di luar kembali turun salju lebat. Suara kembang api dan petasan bersahut-sahutan.Alfons bangkit dari tempat tidur. Di matanya terpancar kegembiraan yang aneh. "Tahun Baru ... harus makan pangsit ... harus makan daging goreng .... Sabrina belum pulang .... Aku harus jemput dia ...."Dia mendorong motor listrik rusak yang dulu kukendarai semasa hidup, lalu keluar dari rumah. Motor itu sudah lama kehabisan baterai. Dia mengayuhnya dengan kaki, sedikit demi sedikit bergerak maju."Sabrina ... suamimu datang menjemputmu …. Aku sudah membelikanmu baju baru ... membelikanmu gelang emas ...."Dari dalam pelukannya, dia mengeluarkan bungkusan kain merah. Itu gelang emas yang dia tebus kembali dari pegadaian dengan sisa uangnya selama setahun ini.Tanpa sadar, dia mengayuh sam

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 9

    Setelah diusir, Alfons mengurung diri di vila. Dia memulangkan semua orang. Dia duduk di sofa, menatap udara kosong."Sabrina, airnya sudah mendidih, kenapa kamu nggak tuang air?""Sabrina, lantainya kotor, kenapa kamu nggak pel?""Sabrina, aku lapar. Aku ingin makan daging goreng ...."Di rumah mewah yang begitu besar, hanya ada gema yang kosong. Alfons kelaparan sampai perutnya kram, tetapi dia tidak bisa menelan sedikit pun makanan.Dia mencoba memesan makanan dari hotel bintang lima itu. Hidangan yang sama, beef Wellington dengan trafel hitam.Namun, baru masuk ke mulut, bau amis darah itu membuatnya mual. Dia memuntahkannya."Nggak enak ... sama sekali nggak enak ...." Dia terisak-isak di meja makan. "Aku mau makan mi buatan Sabrina .... Aku mau makan mi kuah bening yang cuma ada sedikit daun sayur ...."Namun, tak akan ada lagi yang memasakkan untuknya. Saat malam tiba, ketakutan menelannya.Dia membungkus diri dengan jaket bulu angsa tebal, meringkuk di sudut dinding. Matanya te

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 8

    Keesokan harinya, kabar kematianku menyebar ke seluruh lingkaran pergaulan mereka.Tentu saja bukan karena Alfons yang mengumumkan berita duka, melainkan karena sebuah video.Seseorang merekam adegan Alfons mengorek sampah dan menelan pil di rumah kontrakan, lalu mengunggahnya ke grup "Grup Kesehatan Tuan Muda".[ Heboh! Tuan Muda Alfons lagi kerasukan atau benar-benar gila? ]Grup itu langsung ramai.[ Jovan: Buset! Itu benaran makan sampah? Sepertinya kematian gadis desa itu membawa pukulan besar buat dia ya? ][ Ed: Sudahlah. Menurutku cuma pura-pura. Alfons ini sial banget. Pas Tahun Baru istrinya mati, sekarang bikin drama begini. Jangan-jangan kerasukan? ][Liam: Keluarkan saja dia dari grup. Lihat saja sudah bikin merinding. Orang yang bawa sial pada istri begini, yang dekat-dekat sama dia pasti kena apes. ]Grup itu mengeluarkannya. Rekan bisnis memutus kerja sama dan menarik investasi. Namun, Alfons tidak peduli.Tubuhnya kurus sampai berubah bentuk, seperti pengemis. Dia ingi

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 7

    Keluar dari rumah duka, Alfons kembali ke rumah kontrakan. Begitu pintu dibuka, bau apek bercampur udara dingin menerpa wajahnya.Satu-satunya sumber pencahayaan berasal dari lampu jalan yang menembus masuk ke rumah, memberikan penerangan yang samar kepada ruang yang gelap gulita itu.Alfons menyalakan lampu. Bohlam redup itu berkedip dua kali dengan bunyi berdesis sebelum akhirnya menyala.Yang terlihat di depan mata adalah kekacauan di seluruh ruangan. Di lantai masih berserakan pecahan mangkuk yang dia banting dua hari lalu saat marah. Di atas meja ada setengah mangkuk kuah mi instan yang tak habis dimakan dan sudah membentuk lapisan minyak putih tebal.Di sudut dinding menumpuk beberapa karung anyaman. Isinya botol air mineral kosong dan kardus bekas. Dia yang memaksaku untuk memungutnya.Alfons masuk ke kamar tidur yang sempit. Tumpukan selimut di atas ranjang tampak berantakan, sarung bantal sudah menguning karena terlalu sering dicuci.Dia menjatuhkan diri duduk di ranjang. Papa

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 6

    Ruang jenazah di rumah duka sangat dingin, berbau disinfektan dan busuk.Alfons terhuyung mengikuti polisi tua itu dari belakang. Aku melayang masuk mengikuti mereka.Lemari pendingin tersusun rapi. Dokter forensik yang mengenakan masker tebal itu adalah seorang gadis muda. Dia melirik Alfons yang seluruh tubuhnya berbau alkohol dengan tatapan dingin, lalu menunjuk ke salah satu ranjang jenazah di tengah.Di sana tertutup selembar kain putih. Siluet di bawah kain putih itu kurus dan menyedihkan.Kedua kaki Alfons terasa seperti disiram timah, tak mampu maju untuk langkah terakhir itu. Dia mencengkeram pagar samping ranjang hingga buku-buku jarinya memutih."Buka. Aku mau lihat sampai kapan dia bisa pura-pura." Dokter forensik memegang sudut kain putih dan mengangkatnya.Udara seakan-akan membeku. Tubuh itu tersingkap di bawah cahaya lampu. Kulitnya kekuningan dan pucat, penuh luka lecet. Di dahinya ada lubang berdarah.Kedua tangan itu ungu kemerahan dan bengkak, dipenuhi radang beku d

  • Makanan yang Tak Pernah Sampai Di Hadapannya   Bab 5

    Tiba-tiba, pintu dipukul keras hingga bergemuruh. Jovan bangkit untuk membuka pintu."Siapa sih! Nggak punya mata apa? Nggak lihat Pak Alfons lagi kesal? Kalau itu kurir makanan yang nggak tahu diri, aku pasti ...."Umpatan itu terhenti mendadak.Terdengar langkah kaki yang berat dan kacau. Beberapa polisi mendorong Jovan ke samping lalu masuk dengan langkah besar.Ruang privat itu langsung sunyi. Semua orang mematung. Alfons masih mengangkat gelas, menatap polisi tua yang memimpin rombongan."Heh, sandiwara Sabrina ini benar-benar niat, ya." Dia menghantamkan gelas ke meja kopi, pecahan kaca berhamburan ke mana-mana."Demi memaksaku balik ke rumah sewaan, sampai menyewa polisi segala? Kalian tahu siapa aku? Tahu siapa pemilik rumah ini?"Polisi tua mengeluarkan sebuah kantong plastik dan menepukkannya ke meja kopi. Di dalam kantong itu ada sebuah ponsel dengan layar pecah dan sebuah kartu identitas berlumur darah. Lubang pengisian daya ponsel itu disumpal tisu.Foto di kartu identitas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status