“Ngerjain tugas kantor bentar,” jawab Arsen. “Kamu tidur aja duluan.”Aira menahan napas, udara di ruangan terasa lebih hangat dari biasanya. Ia mengangguk kecil, memilih mundur sebelum degup jantungnya makin sulit dikendalikan. Pintu kamar tertutup pelan, menyisakan sunyi yang menggantung.Beberapa detik kemudian, Arsen menjatuhkan diri ke sofa. Tangannya menyapu wajah, lalu mengacak rambutnya sendiri seperti orang frustrasi. Napasnya keluar panjang, seolah berusaha meredakan sesuatu yang masih berisik di kepalanya.“Gila,” gumam Arsen pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri. Bayangan barusan muncul lagi tanpa izin. “Sejak kapan bibir Aira semenggoda itu?”Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menertawakan dirinya sendiri, meski rahangnya masih terasa kaku. “Hampir aja aku melewati batas, sialan,” lanjutnya lirih, lebih seperti pengakuan daripada keluhan.Untuk pertama kalinya malam itu, Arsen benar-benar sadar ia sedang
Huling Na-update : 2026-02-21 Magbasa pa