Share

Bab 13. Edelweis

Author: Kenzie
last update publish date: 2026-02-23 23:11:03

“Eh?”

Aira terkejut ketika mobil tiba-tiba berbelok dan berhenti tepat di depan sebuah toko bunga sederhana. Papan kayu kecil di atas pintu bertuliskan nama toko dengan huruf yang sedikit pudar. Aneka warna bunga memenuhi etalase depan, segar dan kontras dengan bangunan di sekitarnya.

Ia menoleh ke samping. Benar saja, Adrian sudah membuka seatbelt dengan gerakan tenang. Ekspresinya sulit ditebak, seolah pemberhentian ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.

“Adrian, kita ke toko bunga?” tany
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 17. Satu Pernyataan dari Arsen

    “Arsen.” Suara Aira pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.“Apa, Ai?” jawab Arsen singkat. Ia menoleh sepersekian detik, lalu kembali fokus ke jalan.“Kamu masih marah soal mama?” ulang Aira, kali ini lebih jelas.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tertahan di ujung lidah. Ia tetap menatap jalanan di depannya.“Kamu mau aku nggak marah?” tanyanya balik, nada suaranya tenang tapi menyimpan sesuatu.Aira mengangguk refleks, lalu sadar Arsen tidak melihatnya. “Iya.”Mobil tiba-tiba menepi. Arsen mematikan mesin. Suasana mendadak sunyi, hanya ada suara kendaraan lain yang melintas.Ia akhirnya berbalik menghadap Aira sepenuhnya. Tatapannya dalam, bukan marah dan bukan pula lembut, hanya penuh keseriusan yang jarang ia tunjukkan. Di matanya ada sesuatu yang berat, sesuatu yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik candaan.“Jangan pernah bohongin aku. Sekalipun itu tentang Mama,” ucapnya pelan tapi tegas.Aira menelan

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 16. Si Paling Protektif

    Mendengar pertanyaan itu, dadanya langsung berdetak lebih cepat. “Iya, saya Arsen, sahabatnya,” jawabnya tergesa, suaranya nyaris kehilangan napas.“Nona Aira mengalami kecelakaan kecil di depan minimarket. Saat ini sudah dibawa ke IGD—”“Rumah sakit mana?” potong Arsen cepat. Nada suaranya berubah, tegas dan tajam dalam sekejap.Perawat itu menyebutkan nama rumah sakit beserta lokasinya. Arsen tidak sempat mendengar penjelasan lebih lanjut. Tanpa pikir panjang, sambungan telepon langsung ia tutup sepihak.Tangannya gemetar saat meraih kunci mobil. Ia melangkah cepat keluar apartemen menuju basement. Langkahnya panjang dan terburu-buru, seolah waktu tak mau menunggunya.“Ai, padahal aku cuma palingkan wajah sebentar,” gumamnya pelan, napasnya tersengal. “Kamu sudah terluka sampai masuk rumah sakit.” Suaranya penuh penyesalan, bukan marah, tapi takut yang menekan dada.*****Perjalanan m

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 15. Rumah Bisa Retak

    Aira dan Arsen serempak menoleh ketika Adrian mengulurkan sesuatu. Ponsel Aira.Arsen menerimanya lebih dulu. Jemarinya menyentuh ujung jari Aira sepersekian detik sebelum ia menyelipkan benda itu ke dalam tas kerjanya. Gerakan kecil yang seolah ingin memastikan semuanya kembali pada tempatnya.“Terima kasih,” ucap Arsen tulus, menatap Adrian dengan sopan namun tetap berjarak. “Kami izin pulang dulu.”Adrian mengangguk. “Hati-hati di jalan, Mr. Arsen, Nona Aira.”Arsen tidak menjawab panjang. Tangannya sudah lebih dulu merangkul pundak Aira, membawanya keluar dari galeri. Langkah mereka seirama, meski napas Aira masih belum sepenuhnya stabil.*****Mobil melaju meninggalkan halaman galeri. Siang terasa menyengat. Jalanan dipenuhi pelajar berseragam dan pekerja yang berbondong mencari makan siang. Kota tetap sibuk, seolah tidak peduli pada badai kecil yang barusan menghantam satu hati.Arsen menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam jemari Aira di atas konsol tengah. Geng

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 14. Di Antara Tuduhan dan Pelukan

    Aira menoleh. Seorang pria mendekat perlahan, kartu identitas penyelenggara tergantung di lehernya. Wajahnya menampilkan campuran ragu dan sopan.“Iya, saya Aira,” jawabnya singkat.Pria itu tersenyum sopan. “Saya pernah menghadiri pameran Anda dua tahun lalu. Tidak menyangka bisa bertemu langsung.”“Terima kasih sudah datang,” balas Aira, suaranya pelan tapi hangat.Pria itu mengangguk, kemudian nada bicaranya menurun. “Jujur, saya sempat mengikuti berita tahun lalu.”Aira menatap pria itu diam, rasanya jantungnya berdetak lebih kencang. Adrian melangkah sedikit ke samping, menjaga jarak tapi matanya tetap tertuju pada Aira. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa tegang dan sunyi.“Soal tuduhan plagiat itu,” lanjut pria tersebut hati-hati. “Apakah itu benar adanya?”Aira menelan ludah. Kedua tangannya mengepal, seolah hanya itu yang bisa ia pegang saat ini. Napasnya tersendat, jantungnya berdetak cepat.Ia mencoba tersenyum, meski gemetar. “Kali ini saya akan lebih berhati-hati lag

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 13. Edelweis

    “Eh?”Aira terkejut ketika mobil tiba-tiba berbelok dan berhenti tepat di depan sebuah toko bunga sederhana. Papan kayu kecil di atas pintu bertuliskan nama toko dengan huruf yang sedikit pudar. Aneka warna bunga memenuhi etalase depan, segar dan kontras dengan bangunan di sekitarnya.Ia menoleh ke samping. Benar saja, Adrian sudah membuka seatbelt dengan gerakan tenang. Ekspresinya sulit ditebak, seolah pemberhentian ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.“Adrian, kita ke toko bunga?” tanyanya, tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.“Iya, Nona,” jawab Adrian sopan. “Apa Nona ingin ikut melihat-lihat?”“Tentu saja,” sahut Aira cepat, antusiasnya spontan.Adrian turun lebih dulu, lalu berputar ke sisi Aira dan membukakan pintu untuknya. Aira ikut turun, masih menyimpan tanda tanya kecil di wajahnya. Aroma bunga segar langsung menyambut begitu mereka melangkah masuk ke dalam toko.“Selamat datang, Mas Adrian,” sapa seorang karyawan dengan senyum ramah. “Mau langsung seperti biasa

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 12. Kenapa Harus Dia?

    Arsen menghela napas pelan. Rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya kembali netral. “Kita sudah bahas ini tadi malam, Ai.”Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya, tapi Arsen memilih menahannya. Wajahnya tetap tenang, tidak memberi celah pada emosi yang sebenarnya muncul. Tatapannya lurus ke Aira, memastikan maksudnya jelas tanpa perlu suara keras.“Kamu juga bilang nggak akan bikin aku merasa nggak nyaman lagi.” Nada Arsen tenang. Terlalu tenang, sampai terasa seperti sesuatu yang sengaja ditahan.Aira melangkah mendekat satu langkah kecil. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman kok.”Tatapan Arsen beralih ke wajahnya, dalam dan penuh perhitungan, seolah sedang menimbang sesuatu yang penting. “Kalau aku minta kamu buat tunggu aku … bisa?”Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Sederhana, tapi rasanya berat. Seolah jawabannya bisa mengubah banyak hal.Aira menggeleng pelan. “Aku sudah bikin jadwal, Sen. Kamu tahu sendiri aku nggak suka jadwalku berantakan.”Keheni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status