Aira mengusap pipinya kasar, mencoba menghentikan tangis yang makin tidak terkendali. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, kuas itu masih tergenggam tapi terasa terlalu berat. Ruangan yang tadi terasa penuh harap kini dipenuhi sunyi yang menekan dada.Ia memejamkan mata, mengingat suara Arsen pagi tadi. Tentang pelan-pelan. Tentang tidak apa-apa berhenti sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, meski masih bergetar.“Bukan menyerah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Hanya istirahat sebentar.”Ia meletakkan kuas itu di lantai, lalu memeluk lututnya. Kanvas putih itu masih berdiri di easel, kosong, tapi tidak lagi terasa menghakimi. Untuk hari ini, ia memilih duduk diam, memberi ruang pada dirinya sendiri, tanpa memaksa apa pun untuk lahir.*****Siang itu, Aira duduk di kafe kecil bernuansa hangat dengan aroma kopi yang menenangkan. Dua perwakilan Ivory Gallery di seberangnya membahas hal-hal teknis dengan nada tenang sambil membuka map berlogo sed
Last Updated : 2026-02-10 Read more