Mag-log in“Aku mau pindah,” kata Aira suatu malam. Arsen hanya tersenyum, seolah itu keputusan paling wajar di dunia. “Kalau gitu, aku ikut.” Mereka sudah hidup bersama sejak kuliah. Berbagi ruang, waktu, dan kebiasaan kecil yang tanpa sadar berubah menjadi kebutuhan. Saling bergantung, saling menjaga, tanpa pernah berani menyentuh satu batas yang terlalu berisiko untuk dilanggar, yaitu perasaan. Hingga suatu hari, Arsen mendengar rumor bahwa Aira menyukai seseorang. “Bener?” tanyanya, setenang mungkin. Aira mengangguk. Ia mengakui perasaannya, tapi saat Arsen bertanya lebih jauh, ia memilih diam. Bukan karena tak ingin jujur, melainkan karena nama yang ingin ia sebut adalah milik Arsen sendiri. Namun kebungkaman itu justru melahirkan salah paham. Arsen mulai percaya bahwa pria yang disukai Aira adalah Adrian, manajernya. Dari satu kesalahpahaman kecil, jarak pelan-pelan tercipta di antara mereka, meski keduanya masih berdiri di tempat yang sama. Karena sejak awal, mereka sama-sama tahu, rumah itu selalu ada di samping. Lantas, jika mereka sama-sama saling mencintai, apa lagi yang sebenarnya mereka tunggu? Ikuti akun sosmed IG @hana_ryuuga untuk update novel
view more“Aku taruh di mana kardus ini?”
Aira berhenti mengancingkan tas kanvasnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Arsen berdiri di tengah ruang tamu studio flat mereka dengan satu kardus besar di pelukan. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya berdebu, dan dari cara ia berdiri, terlihat jelas ia sudah kelelahan sejak tadi. “Kardus yang isinya buku-buku taruh aja di dekat jendela,” jawab Aira. “Nanti biar aku pilah lagi.” Arsen mengangguk, tapi kakinya tidak langsung melangkah. Tatapannya justru jatuh ke tas kanvas yang tergantung di bahu Aira. “Kamu bawa kuas juga?” Pertanyaan itu membuat Aira terdiam. Tangannya yang tadi sibuk merapikan tali tas berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya menatap ujung tali itu, seolah kata-kata Arsen barusan membuka pintu ke sesuatu yang ingin ia kunci rapat-rapat. “Buat apa?” tanyanya datar. Arsen berkedip, lalu tersenyum kecil, agak canggung. “Nggak tahu. Refleks aja nanya.” Aira menghela napas pelan. “Aku nggak ngelukis lagi, Sen.” “Aku tahu.” “Kalau tahu, jangan tanya hal-hal yang bikin aku tambah capek.” Hening jatuh di antara mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang sudah terlalu sering hadir sampai tak lagi perlu dipertanyakan. Arsen berdiri di sana, menekan banyak hal yang tak pernah benar-benar menemukan jalan keluar. Arsen akhirnya mengangguk kecil. “Maaf.” Aira tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, seolah takut kalau satu kata saja bisa merobohkan pertahanannya. Tangannya kembali mengecek isi tasnya, pura-pura sibuk pada hal-hal kecil yang tidak benar-benar penting. Studio flat itu kecil, tapi selama tujuh tahun terakhir terasa cukup untuk mereka berdua. Sekarang, kardus-kardus menumpuk di sudut ruangan, membuat tempat itu terlihat semakin sempit. Atau mungkin bukan apartemennya yang menyempit, melainkan ruang di antara mereka. Di dinding ruang tengah, masih ada tiga kanvas besar yang dibalik menghadap tembok. Kain penutupnya sudah berdebu. Itu lukisan-lukisan terakhir Aira yang tidak pernah selesai. “Kita berangkat jam sepuluh, ‘kan?” tanya Arsen dari balik rak buku. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Aira menggeleng. “Nanti saja di jalan.” “Kamu belum makan dari tadi malam, Ai.” “Aku makan buah kok,” bantah Aira singkat. “Karbonya nggak ada, Ai.” Arsen mendesah kecil. “Aku bikinin mie, ya?” “Nanti aja, Sen. Sekarang mau beresin sisanya ini biar cepat selesai.” Arsen tidak memaksa. Ia tahu sejak semalam sahabatnya itu hampir tidak berhenti mengemasi barang. Kardus-kardus sudah memenuhi sudut studio flat, dan hari ini mereka benar-benar akan pergi dari tempat itu. Kontrak studio flat Aira sudah habis, dan ia menolak memperpanjangnya. Bukan karena uang, bukan pula karena tempat itu terlalu sempit. Melainkan karena di sanalah terlalu banyak kenangan yang ingin ia kubur. Perjalanan menuju apartemen baru berlangsung dalam sunyi. Aira duduk di kursi samping kemudi sambil memeluk tas kanvasnya, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Kota melintas di luar sana seperti potongan-potongan gambar yang terlepas dari cerita, hadir tanpa makna dan tanpa ingin ia simpan. “Kalau kamu terus meluk tas itu kayak gitu,” kata Arsen memecah keheningan. “Orang bisa mikir di dalamnya ada emas batangan.” Aira tersenyum tipis. “Isinya cuma kanvas kosong,” ujarnya. “Nah, itu. Lebih berharga dari emas, dong.” Arsen melirik lagi, kali ini lebih lama. “Kalau ada masalah, jangan ragu untuk cerita sama aku.” “Semua baik-baik saja.” Arsen tidak membalas. Ia tetap fokus menyetir. Dari sudut matanya, ia melihat jari-jari Aira mencengkeram tali tasnya terlalu kuat, seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya. Apartemen baru mereka berada di pinggir kota, jauh lebih sunyi. Tidak ada galeri, tidak ada studio, dan tidak ada orang-orang yang mengenal Aira sebagai apa pun selain perempuan biasa. Itulah yang ia mau. Gedung apartemen itu tidak tinggi, tidak juga istimewa. Cat dindingnya krem pucat, dengan lorong-lorong yang sedikit sempit. Mereka berhenti di lantai tiga. “Kuncinya di tasmu?” tanya Arsen. Aira mengangguk pelan. Ia merogoh tas kanvasnya, jarinya sempat ragu sebelum akhirnya menemukan gantungan kunci kecil berbentuk cat air. Ia tidak ingat kapan terakhir kali membeli gantungan itu. Pintu apartemen itu terbuka dengan bunyi klik kecil. Apartemen itu lebih luas dari studio flat lama mereka, tapi terasa jauh lebih hampa. Tidak ada bau cat, tidak ada kanvas. Tidak ada apa pun yang mengingatkan Aira pada dirinya yang dulu. “Lumayan juga,” komentar Arsen, memecah keheningan. “Setidaknya nggak ada tetangga yang hobinya nyetel dangdut jam enam pagi.” Sudut bibir Aira terangkat. “Setidaknya mereka bisa bikin pagi kita lebih hidup dengan bahan gibahan dari lagu yang diputar.” Arsen terkekeh kecil. “But, not my style.” “Iya juga sih. Kita berdua kan pecinta musik R&B,” sambung Aira sambil melangkah lebih dalam ke ruangan. “Kita mulai dari mana dulu?” tanya Arsen setelah memasukkan kardus terakhir. “Terserah,” jawab Aira ringan. Arsen menatapnya tanpa ekspresi. “Jawaban paling membantu sedunia.” Aira tertawa kecil, tapi tawanya cepat mereda. Mereka berdiri di tengah ruangan yang masih terasa asing, dikelilingi kardus-kardus yang belum dibuka. Dua pintu kamar di depan mereka tampak seperti pilihan yang sama-sama tidak ingin disentuh lebih dulu. “Gimana kalau kita pakai kamar yang sebelah kanan?” usul Arsen sambil melirik ke arah pintu itu. “Yang dekat jendela kita jadikan studio kamu saja. Cahaya paginya pasti bagus.” “Aku nggak kepikiran sejauh itu, tapi kalau menurutmu itu yang paling pas, it’s okay.” Butuh hampir seharian penuh untuk membereskan semuanya. Saat matahari mulai condong ke barat, apartemen itu akhirnya mulai terasa seperti rumah. Kardus-kardus sudah jauh berkurang, rak buku terisi, dan kasur terpasang rapi. Malam itu, mereka memilih memesan makanan, terlalu lelah untuk sekadar memikirkan masak. “Besok aku mulai kerja lagi,” kata Arsen sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Aira mengangguk pelan. “Di perusahaan ayahmu?” “Iya.” “Kalian masih … buruk?” tanya Aira ragu. Arsen tersenyum miring. “Masih.” Aira tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu hubungan Arsen dan ayahnya tak pernah sederhana, selalu penuh jarak dan luka yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Ia juga tahu, ada alasan yang terlalu panjang dan terlalu menyakitkan untuk diungkapkan malam ini. “Kalau kamu?” tanya Arsen kemudian. “Kamu mau ngapain setelah ini?” Aira menunduk, menatap piring di depannya. “Aku nggak tahu.” Jawaban itu meluncur begitu saja, jujur sekaligus menakutkan. Setelah itu, mereka kembali membiarkan sunyi mengisi ruang makan. Hanya cahaya lampu temaram dan bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring yang menemani. “Aira,” panggil Arsen saat melihat sahabatnya itu terlalu lama terdiam. Aira menoleh. “Ada apa?” Arsen menatapnya sejenak sebelum bertanya, suaranya lebih pelan. “Ai, kamu lagi mikirin sesuatu?” Aira tersentak kecil. Ia menatap Arsen sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerahkan ponselnya. Arsen menerimanya dan membaca email yang terbuka di layar. “Aku dapat tawaran comeback dari Ivory Gallery,” ucap Aira pelan, seolah kalimat itu sendiri masih terasa berat di lidahnya. “Bukankah itu galeri di bawah naungan WS Group?” Arsen mengangkat wajahnya, tatapannya terang oleh rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. Aira mengangguk kecil. “Iya, tapi aku belum ngasih jawaban ke mereka.” “Kenapa?” tanya Arsen, suaranya kali ini lebih lembut, tapi penuh perhatian. . . . ~ To Be Continue ~“Arsen.” Suara Aira pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.“Apa, Ai?” jawab Arsen singkat. Ia menoleh sepersekian detik, lalu kembali fokus ke jalan.“Kamu masih marah soal mama?” ulang Aira, kali ini lebih jelas.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tertahan di ujung lidah. Ia tetap menatap jalanan di depannya.“Kamu mau aku nggak marah?” tanyanya balik, nada suaranya tenang tapi menyimpan sesuatu.Aira mengangguk refleks, lalu sadar Arsen tidak melihatnya. “Iya.”Mobil tiba-tiba menepi. Arsen mematikan mesin. Suasana mendadak sunyi, hanya ada suara kendaraan lain yang melintas.Ia akhirnya berbalik menghadap Aira sepenuhnya. Tatapannya dalam, bukan marah dan bukan pula lembut, hanya penuh keseriusan yang jarang ia tunjukkan. Di matanya ada sesuatu yang berat, sesuatu yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik candaan.“Jangan pernah bohongin aku. Sekalipun itu tentang Mama,” ucapnya pelan tapi tegas.Aira menelan
Mendengar pertanyaan itu, dadanya langsung berdetak lebih cepat. “Iya, saya Arsen, sahabatnya,” jawabnya tergesa, suaranya nyaris kehilangan napas.“Nona Aira mengalami kecelakaan kecil di depan minimarket. Saat ini sudah dibawa ke IGD—”“Rumah sakit mana?” potong Arsen cepat. Nada suaranya berubah, tegas dan tajam dalam sekejap.Perawat itu menyebutkan nama rumah sakit beserta lokasinya. Arsen tidak sempat mendengar penjelasan lebih lanjut. Tanpa pikir panjang, sambungan telepon langsung ia tutup sepihak.Tangannya gemetar saat meraih kunci mobil. Ia melangkah cepat keluar apartemen menuju basement. Langkahnya panjang dan terburu-buru, seolah waktu tak mau menunggunya.“Ai, padahal aku cuma palingkan wajah sebentar,” gumamnya pelan, napasnya tersengal. “Kamu sudah terluka sampai masuk rumah sakit.” Suaranya penuh penyesalan, bukan marah, tapi takut yang menekan dada.*****Perjalanan m
Aira dan Arsen serempak menoleh ketika Adrian mengulurkan sesuatu. Ponsel Aira.Arsen menerimanya lebih dulu. Jemarinya menyentuh ujung jari Aira sepersekian detik sebelum ia menyelipkan benda itu ke dalam tas kerjanya. Gerakan kecil yang seolah ingin memastikan semuanya kembali pada tempatnya.“Terima kasih,” ucap Arsen tulus, menatap Adrian dengan sopan namun tetap berjarak. “Kami izin pulang dulu.”Adrian mengangguk. “Hati-hati di jalan, Mr. Arsen, Nona Aira.”Arsen tidak menjawab panjang. Tangannya sudah lebih dulu merangkul pundak Aira, membawanya keluar dari galeri. Langkah mereka seirama, meski napas Aira masih belum sepenuhnya stabil.*****Mobil melaju meninggalkan halaman galeri. Siang terasa menyengat. Jalanan dipenuhi pelajar berseragam dan pekerja yang berbondong mencari makan siang. Kota tetap sibuk, seolah tidak peduli pada badai kecil yang barusan menghantam satu hati.Arsen menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam jemari Aira di atas konsol tengah. Geng
Aira menoleh. Seorang pria mendekat perlahan, kartu identitas penyelenggara tergantung di lehernya. Wajahnya menampilkan campuran ragu dan sopan.“Iya, saya Aira,” jawabnya singkat.Pria itu tersenyum sopan. “Saya pernah menghadiri pameran Anda dua tahun lalu. Tidak menyangka bisa bertemu langsung.”“Terima kasih sudah datang,” balas Aira, suaranya pelan tapi hangat.Pria itu mengangguk, kemudian nada bicaranya menurun. “Jujur, saya sempat mengikuti berita tahun lalu.”Aira menatap pria itu diam, rasanya jantungnya berdetak lebih kencang. Adrian melangkah sedikit ke samping, menjaga jarak tapi matanya tetap tertuju pada Aira. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa tegang dan sunyi.“Soal tuduhan plagiat itu,” lanjut pria tersebut hati-hati. “Apakah itu benar adanya?”Aira menelan ludah. Kedua tangannya mengepal, seolah hanya itu yang bisa ia pegang saat ini. Napasnya tersendat, jantungnya berdetak cepat.Ia mencoba tersenyum, meski gemetar. “Kali ini saya akan lebih berhati-hati lag






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu