Lorenzo menggandeng tangan Allegra, menuntunnya keluar dari kapel. Saat mereka melangkah melewati barisan pria bersetelan hitam, secara serentak para pria itu menundukkan kepala dengan takzim. Begitu sampai di luar, matahari sudah semakin tinggi, menyilaukan mata Allegra yang terbiasa dengan temaram cahaya kapel. Alih-alih langsung masuk ke mobil, Lorenzo berhenti sejenak, menatap istrinya yang tampak begitu cantik."Kamu tampak pucat, Allegra. Apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya Lorenzo, jemarinya mengusap pipi Allegra dengan penuh kelembutan."Aku hanya merasa asing dengan semua ini, Lorenzo. Kenapa rekan-rekan bisnismu menatapku seolah-olah aku adalah sesuatu yang harus mereka jaga, bukan sebagai tamu?" tanya Allegra, melirik ke arah anak buah Lorenzo yang mulai bergerak keluar kapel dengan posisi siaga.Lorenzo tertawa kecil. "Itu bukan tatapan aneh, Cara. Itu adalah rasa hormat. Mereka menghormatimu karena kamu adalah istri majikan mereka."Keduanya kemudian masuk ke d
Last Updated : 2026-02-17 Read more