The Devil's Obsession

The Devil's Obsession

last updateLast Updated : 2026-02-11
By:  Zizara GeoveldyUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
105views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah mengalami kecelakaan tragis, Allegra kehilangan ingatan dan tidak mampu mengingat apa pun termasuk siapa dirinya, bagaimana asalnya dan siapa namanya. Lalu, seorang pria bernama Lorenzo mengaku sebagai suaminya. Lorenzo merawatnya, memberikan kelembutan, kemewahan, cinta dan kasih sayang, serta memperlakukan Allegra bagaikan seorang ratu, sampai Allegra benar-benar jatuh cinta dan memberikan seluruh hatinya pada pria itu. Di saat Allegra tidak mampu lagi berpaling, sebuah kejadian mengembalikan memorinya, membuat Allegra kembali mengingat segalanya, termasuk Lorenzo. Allegra sangat terpukul dan shock berat saat mengetahuinya. Siapakah Lorenzo sebenarnya? Apakah Allegra tetap mempertahankan cintanya pada pria itu? IG Author: Distrakzii

View More

Chapter 1

Part 1

Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.

​Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju.

​"Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.

​Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat. 

Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.

​Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang memicu percikan memori di otaknya. 

Matanya beralih ke jendela besar yang menghadap ke laut biru, lalu ke furnitur antik yang tampak sangat mahal. Semuanya terasa asing. Terlalu asing hingga mencekam.

​"Aku di mana?" bisiknya, suaranya terdengar parau dan nyaris hilang, tertelan oleh kesunyian kamar yang begitu luas.

​Di sudut ruangan yang remang, terpisah dari jangkauan sinar matahari, Lorenzo berdiri mematung. Segelas scotch di tangannya sudah tidak lagi dingin, namun dia tak peduli. Iris mata abu-abunya menyipit, memerhatikan setiap gerak-gerik wanita di ranjang itu dengan penuh kewaspadaan.

"Kamu sudah bangun?" suara Lorenzo terdengar jelas bersama kewaspadaannya yang semakin meningkat.

​Wanita itu mencoba menoleh pada sumber suara. Gerakannya begitu kaku, karena setiap kali dia bergerak tubuhnya terasa semakin remuk.

​"Siapa ... siapa kamu?" lirih wanita itu, matanya berkedip bingung, mencari-cari titik fokus. "Dan kenapa kepalaku?” Dia memegang kepalanya. “Aku tidak ingat kenapa aku di sini."

​Gelas scotch di tangan Lorenzo berhenti bergerak. 

​"Kamu tidak ingat siapa aku?" tanyanya.

​Wanita itu menggeleng pelan, air mata mulai menggenang karena rasa sakit dan ketakutan yang mencekam. "Aku tidak ingat namaku. Aku tidak ingat tempat ini. Tolong ... siapa kamu?” 

​Lorenzo meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian melangkah tenang mendekati ranjang.

​"Tenanglah, Cara (sayang)," ucapnya sembari duduk di tepi ranjang. Dia mengulurkan tangan, membelai rambut sang wanita dengan gerakan posesif. ​"Namamu adalah Allegra. Kamu mengalami kecelakaan hebat. Dokter bilang memori yang hilang adalah hal yang wajar karena benturan keras di kepalamu,” jelasnya dengan ekspresi yang begitu meyakinkan.

​Allegra menatap pria itu, satu-satunya manusia yang ada di dunianya yang kosong saat ini. "Kecelakaan?” ulangnya bingung. Dia benar-benar tidak ingat apa pun. “Lalu kamu ... siapa kamu bagiku?"

​Lorenzo mengecup punggung tangan Allegra, menghirup aroma kulit wanita itu dengan begitu penuh kasih. ​"Aku Lorenzo," bisiknya tepat di depan wajah Allegra sambil mengunci tatapannya. "Dan aku adalah suamimu, Allegra. Kita berdua saling mencintai. Terlebih dirimu. Kamu tergila-gila padaku jauh sebelum kita menikah.”

​Allegra terdiam, membiarkan nama dan penjelasan itu meresap ke dalam benaknya. 

Allegra. 

Istri Lorenzo. 

Dia merasa asing dengan identitas itu. Sungguh.

"Suami?"

​Allegra mengucapkannya dengan nada sangsi. Meski sentuhan pria itu terasa hangat, ada sesuatu di dasar jiwanya yang berteriak, sebuah penolakan yang tidak bisa dia jelaskan. Dia menarik tangannya perlahan, membuat kerutan tipis muncul di dahi Lorenzo.

​"Kalau kamu suamiku," Allegra menatap mata abu-abu itu dengan saksama, "kenapa aku merasa tidak mengenalmu sama sekali? Kenapa ruangan ini, tempat ini ... terasa asing? Dan di mana orang tuaku? Kenapa hanya ada kamu?"

​"Kamu sedang syok, Allegra. Trauma fisik dan mental setelah kecelakaan itu membuatmu mengalami amnesia. Wajar kalau tempat ini terasa asing bagimu," suara Lorenzo terdengar sangat lembut. "Dan tentang orang tuamu ... maafkan aku harus mengatakannya sekarang, tapi mereka sudah tiada sejak dua tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. Sejak saat itu, hanya aku yang dirimu punya. Hanya aku yang menjagamu."

​Allegra tertegun. Berita kematian itu terasa hampa karena dia tidak ingat wajah mereka, namun rasa sesak tetap menghimpit dadanya. "Meninggal? Lalu ... apa yang terjadi saat itu? Kenapa aku bisa kecelakaan?"

​Lorenzo bergeser lebih dekat, tangannya menyentuh bahu Allegra. "Malam itu kita bertengkar hebat karena masalah sepele. Kamu emosional, lalu pergi membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Aku mengejarmu, Allegra. Aku melihat sendiri mobilmu tergelincir dan terjun ke tebing. Aku pikir aku sudah kehilangan kamu selamanya. Tapi syukurlah kamu masih bisa diselamatkan. Aku yang menyelamatkanmu.”

​"Aku tidak percaya," bisik Allegra, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini tidak masuk akal. Aku butuh bukti."

​Lorenzo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak penuh kesabaran. Dia berdiri, berjalan menuju laci meja antik dan mengambil sebuah kotak beludru hitam.

​"Aku tahu sulit bagimu untuk percaya pada orang asing," kata Lorenzo lalu mengeluarkan handphonenya dari saku celana.

​Dia kembali menghampiri tempat tidur, menunjukkan layar pada Allegra. Di sana terlihat slide foto-foto pernikahan yang megah. Allegra mengenakan gaun putih indah, berdiri di depan altar sebuah kapel tua di Sicily. Di sampingnya, Lorenzo tampak gagah, memeluk punggungnya dengan erat. Foto-foto itu terlihat sangat asli, mulai dari detail wajahnya, senyumnya, hingga latar belakang bangunan yang tampak tua. 

​Lalu, Lorenzo membuka kotak beludru itu. Sebuah cincin mewah dengan berlian mungil di tengah ada di dalamnya.

​"Lihat jari manis kirimu," perintah Lorenzo lembut.

​Allegra melihat jarinya yang polos dan menemukan bekas luka karena kecelakaan. Lorenzo mengambil tangan Allegra, lalu dengan gerakan perlahan dia menyematkan cincin tersebut. Ukurannya sangat pas. Seolah-olah cincin tersebut 

memang diciptakan untuk jari lentik Allegra.

​"Cincin ini terlepas saat aku menyelamatkanmu. Dan lihat ini," Lorenzo menunjukkan tangan kirinya sendiri, di mana melingkar sebuah cincin serupa. Bedanya cincin itu polos, khas laki-laki. Dia melepas cincinnya sejenak dan menunjukkan bagian dalamnya pada Allegra. ​Tercetak ukiran halus di sana dengan tulisan ‘Allegra’.

​"Dan di dalam cincinmu," Lorenzo membimbing jemari Allegra untuk meraba bagian dalam cincinnya, "ada namaku. Lorenzo."

​Allegra terpaku melihat bukti-bukti fisik di depan matanya. Foto, cincin, dan bekas luka di tubuhnya seolah membenarkan setiap untaian kata yang keluar dari mulut pria ini. Logikanya mulai menyerah pada kenyataan yang disuguhkan.

​"Kenapa aku merasa sangat sedih saat menatapmu?" bisik Allegra lirih, air matanya akhirnya jatuh.

​Lorenzo merengkuh tubuh Allegra ke dalam pelukannya. Dia membelai punggung Allegra dengan gerakan protektif yang begitu posesif.

​"Itu karena sisa amarahmu malam itu, Cara. Tapi jangan khawatir," bisik Lorenzo di telinga Allegra, lagi-lagi dengan suara yang begitu lembut. "Aku akan membantumu mengingat betapa kita saling mencintai. Aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi padaku setiap hari, sampai kamu tidak butuh lagi ingatan lamamu."

​Meski masih dilanda kebingungan hebat, Allegra memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria asing yang mengaku sebagai suaminya.

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status