Sepasang matanya berkilat penuh ambisi yang berbahaya, sementara sudut bibirnya melengkung membentuk seringai dingin.Braaak! Ia melempar berkas bersampul kulit hitam itu kembali ke atas meja kayu gaharu, menimbulkan suara yang memecah keheningan ruangan.Namun, tepat ketika gema suara berkas itu meredup...Syuuuuut!Suhu di dalam ruangan mewah tersebut mendadak anjlok drastis. Bukan karena hawa es absolut milik Fang Zhe, melainkan karena kemunculan sebuah niat membunuh yang begitu pekat, tajam, dan berbau darah segar. Tekanan udara di sekitar pintu masuk mendadak menjadi sangat berat, seolah-olah atmosfer di area tersebut tersedot habis dalam sekejap.Bruk!Di dekat pintu, Lei Ba yang awalnya berjaga langsung berlutut dengan satu kaki, tubuh raksasanya gemetar hebat dengan peluh dingin yang mengucur deras di pelipisnya. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap lantai dengan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat ia menghadapi Fang Zhe di lapangan tadi.Merasakan hal yang sama, F
อ่านเพิ่มเติม