Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak asing lagi, dulu jalanan masih tanah, rumah masih terlihat sedikit. Tapi, sistem sepertinya memberikan informasi benar.Fang Zhe mulai menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Kulitnya penuh luka lama yang telah mengering, namun rasa sakitnya nyaris tak ada. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu jelas untuk dilihat.“Kalau begitu…” gumamnya pelan.“Aku harus segera pulang.”Dengan berjalan kaki, Fang Zhe menyusuri jalan dari Desa Mati menuju pinggiran kota Shange. Bangunan-bangunan mulai terlihat lebih rapat, rumah-rumah tua berdiri berdampingan dengan ruko modern yang masih tertutup. Tak ada yang mengenalinya. Jelas tak ada yang peduli.Beberapa jam kemudian, langkahnya mulai terhenti.
Read more