Liliana tertegun. Untuk beberapa detik, ruangan itu menjadi sangat sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman keras di telinganya. Ia berharap dirinya salah dengar, atau setidaknya, Gerald sedang melontarkan lelucon hambar.Namun, tatapan pria itu tidak berubah. Dingin, tajam, dan penuh dominasi."Menikah... ulang?" Liliana mengulang kalimat itu dengan suara yang nyaris berbisik, sebelum akhirnya sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangis."Tuan Ford, apa kepalamu terbentur sesuatu saat pingsan tadi?" Liliana berdiri dengan sentakan keras hingga kursi kecil yang ia duduki bergeser kasar. "Atau bagimu, pernikahan itu hanya sebuah dokumen bisnis yang bisa kamu tawar-menawar seperti denda kontrak?"Wajah Gerald mengeras, namun ia tetap diam, membiarkan Liliana menumpahkan amarahnya."Lima tahun lalu, aku memohon padamu untuk sedikit saja peduli padaku, atau setidaknya pada anakmu. Tapi apa?" Liliana melangkah maju, ta
Ler mais