LOGINLiliana, seorang gadis desa yang di jodohkan dengan Pria paling berpengaruh dan sukses di Kota Malaka, Gerald Ford, setelah menyelamatkannya dari kematian harus menelan kesedihan mendalam saat harus kehilangan bayi dalam kandungannya akibat di siksa oleh adik ipar dan kekasih masa kecil suaminya. Meski telah menikah selama 3 tahun, dan Liliana begitu tulus pada Gerald, Pria itu tetap sangat membencinya, Bahkan hingga anaknya dimakamkan, Suaminya itu tidak pernah muncul, malah pergi menemani kekasih masa kecilnya yang terluka karena jatuh dari tangga. Liliana menyerah, kematian anaknya sudah cukup untuk terus tenggelam dalam cintanya yang bodoh. Setelah menandatangani surat cerai, Lilia menghubungi Adam Smith, kakak angkatnya yang telah sukses menggeluti bidang pengobatan di luar negeri dan menyatakan diri untuk bergabung. Di dunia ini, selain Adam dan Ibu angkatnya yang telah tiada, tidak seorangpun tahu bahwa Liliana menguasai teknik pengobatan alternatif dan peracik obat tradisional paling di cari dan di hormati di dunia medis. Setelah 5 tahun berada diluar negeri, Liliana kembali, untuk membalas kematian anaknya, tapi saat pertama kali bertemu di pesta, Gerald malah menggila dan berkata : "Kamu pergi seenaknya, Kamu pikir Aku akan melepaskanmu?" Liliana menatapnya dengan dingin dan berkata, "Tuan Ford, Kita sudah bercerai, jangan sok akrab denganku"
View MoreDi usia kehamilannya yang ke 28 minggu, Liliana Santoso melakukan pemeriksaan prenatalnya di dokter kandungan pribadi keluarga suaminya, Gerald Ford.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan menerima laporan prenatalnya, Liliana bergegas ke luar ruangan. Namun, ia tidak menyangka ketika melihat siluet tubuh yang tak asing sedang berpelukan dengan seorang gadis cantik dengan tubuh mungil di ruang tunggu yang sepi.
Pria itu adalah suaminya, yang selalu bersikap dingin dan kejam terhadapnya, tapi kini tampak begitu lembut dan penyayang kepada gadis itu.
‘Gadis itu…’ Liliana bergumam dalam hati.
Liliana memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
“Ge-”
Di saat yang bersamaan, Gerald dan gadis itu menatap ke arahnya. Ah, itu Grace. Tentu saja Gerald sedang bersama Grace.
Sorot mata Gerald yang tadinya hangat langsung berubah dingin saat melihat Liliana ada di sana.
"Kak Gege, siapa tante-tante itu? Kenapa dia melihatku seperti itu? Aku jadi takut…” kata Gracie, masih dalam pelukan Gerald. Tentu saja Liliana dapat mendengarnya meski suaranya pelan.
"Tidak penting. Tidak usah dipikirkan. Ayo kita pergi."
Gerald merangkul bahu gadis itu dengan lembut. Ia pergi begitu saja tanpa melihat Liliana sedikitpun.
Liliana terpaku, kata-kata gadis itu langsung terngiang di telinganya.
Tante-tante…?
Liliana memandangi bayangan tubuhnya dari pintu kaca. Dirinya baru berusia 23 tahun, tapi karena efek kehamilan, tubuhnya yang dulu langsing kini melebar, wajahnya juga kusam, lingkar hitam di bawah matanya menambah efek penuaan dini yang Ia alami.
Pantas saja Grace memanggilnya ‘tante’.
Liliana memang merasa dirinya tampak jauh lebih tua, tapi ia tidak menyesalinya. Jelas saja, semuanya terjadi karena ia tengah mengandung buah hatinya, satu-satunya keluarga yang akan dimilikinya nanti.
Liliana adalah seorang yatim piatu yang tinggal di pinggiran kota dan di besarkan oleh tantenya, Rosita Santoso.
Ia bisa menikah dengan seorang Gerald Ford karena 5 tahun lalu Gerald diserang dan mengalami kecelakaan parah hingga mobilnya masuk ke jurang. Tempat kejadiannya letaknya tidak jauh dari perkampungan tempat Liliana tinggal.
Saat itu, Liliana tengah membantu Rosita mencari tanaman liar untuk membuat obat herbal. Melihat Gerald yang terkapar tak sadarkan diri, Liliana pun menyelamatkannya dengan meminta tolong.
Dibantu oleh warga sekitar, Gerald berhasil dibawa ke rumah sakit dan akhirnya bisa selamat.
Setelah bertemu dengan penyelamat cucunya, nenek Gerald yang sakit keras sangat menyukai Liliana. Nenek Gerald pun membujuk Gerald dan seluruh keluarga Ford untuk menjodohkan mereka berdua.
Padahal, saat itu Gerald sedang mengejar cinta masa kecilnya, Grace Natalie.
Nenek Gerald tidak menyukai Grace sama sekali, jadi ia memaksa Gerald untuk menikahi Liliana, sampai mengancam tidak ingin hidup lagi. Akhirnya, Gerald menyetujuinya dengan terpaksa karena ia sangat menyayangi neneknya itu.
Itu sebabnya Gerald membenci Liliana sejak awal. Bahkan selama menikah, mereka tidur di kamar yang berbeda.
Alasan kenapa Liliana bisa hamil adalah karena Gerald mabuk berat dan tanpa sengaja menidurinya. Bukan di kamar, bukan diatas kasur yang empuk, melainkan lantai dapur yang dingin.
Meski itu bukan kesalahannya, tapi Gerald maupun keluarganya selalu menuduh bahwa Liliana sengaja melakukan itu agar bisa hamil. Meskipun Liliana telah membela diri dan menjelaskan berkali-kali, tidak ada seorangpun yang percaya padanya.
Ting!
Liliana tersadar dari lamunannya saat mendengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Gerald mengirim pesan.
[Keluar. Nenek mengundang kita ke rumah untuk makan bersama.]
Liliana menarik nafas dalam-dalam, ia pun membalas dengan cepat.
[Baik].
Setelah mengirim pesan, Liliana lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit itu.
Tepat saat itu, Liliana melihat mobil Bentley warna hitam dengan plat yang ia kenal terparkir di depan. Ia tahu itu mobil Gerald dan menebak bahwa Gerald ada di dalam. Tapi, bukankah suaminya itu tengah bersama dengan Grace tadi? Atau jangan-jangan Grace juga ada di dalam mobil?
Diam-diam, Liliana merasa gugup, jika benar Grace juga ada di sana, apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba, kaca jendela mobil terbuka.
"Cepat!" sentak Gerald dari dalam mobil. Hal itu membuat Liliana terperanjat kaget.
Liliana pun segera masuk ke dalam mobil, ia tahu suaminya bukan orang yang sabar, terutama terhadap dirinya.
Setelah duduk di dalam mobil, Liliana tidak mengatakan sepatah katapun, tapi perasaannya sedikit lega karena tidak melihat Grace ada di sana. Hanya ada seorang sopir yang duduk di kemudi.
Gerald melirik Liliana sepintas dengan sinis. Aura kejam dan mengintimidasi membuat Liliana tidak nyaman.
Tanpa Liliana duga, Gerald tiba-tiba berkata.
"Setelah anak itu lahir, kita akan bercerai,” ucap Gerald tegas.
Liliana merasa jantungnya berhenti berdetak beberapa detik. Keringat dingin tiba-tiba membasahi telapak tangannya.
"Kenapa? Apa karena wanita itu?" Liliana memberanikan diri untuk bertanya.
"Wanita itu?” Gerald terdengar tersinggung. “Kamu pikir kamu pantas menyebutnya seperti itu?"
Gerald menjawab dengan galak. Liliana terdiam, ia sudah tahu jawabannya. Jadi Liliana berkata dengan tenang. "Baik, tapi kamu yang bilang ke nenek."
"Kamu nggak perlu mengaturku, aku akan memberitahunya dengan caraku," balas Gerald.
Liliana hanya bisa mengangguk, ia dapat merasakan wajahnya memanas karena perasaan yang bercampur. Liliana juga dapat merasakan lirikan Gerald sejenak, namun pria itu segera memalingkan wajahnya.
Meski Gerald berhutang nyawa pada Liliana, tapi Liliana pun tahu Gerald tidak pernah mencintainya. Apalagi, Liliana tahu Gerald menduga dirinya memanfaatkan kesempatan itu untuk menikah dengannya karena hutang budi.
Gerald sangat membencinya, Liliana paham soal itu. Meski begitu, Gerald sudah menyiapkan kompensasi yang lebih dari cukup untuk Liliana hidup sejahtera sampai hari tuanya.
Kedua pasangan itu sama-sama tidak saling bicara sampai tiba di rumah lama keluarga Ford. Gerald turun terlebih dahulu dan meninggalkan Liliana di belakangnya.
Saat memasuki rumah, Ibu dari Gerald, Susan Ford, menyambut kedatangan putranya dengan penuh kasih sayang. Tapi, Gerald menanggapinya dengan cuek karena dia memang tidak terlalu akrab dengan Ibunya.
Saat mata Liliana bertemu dengan Susan, raut wajah wanita paruh baya itu seketika berubah. Ketika Liliana ingin memberi salam, Susan menolaknya dan berkata dengan sinis. "Tidak perlu memberi salam, langsung ke dapur dan bantu-bantu di sana!"
Liliana mengangguk, kemudian berjalan ke arah dapur tanpa banyak bicara. Sikap Liliana yang tunduk seperti itu semakin menjadi bahan ejekan anggota keluarga Ford yang lain, terutama Cecilia Ford, adik semata wayang Gerald.
"Lihatlah, wanita jelek tak tahu diri itu selalu berusaha menjilat keluarga kita, benar-benar nggak punya malu dan harga diri, menjijikan!" ejek Cecilia. Liliana yang mendengarnya hanya bisa menghela napas berat.
Kemudian, Cecilia kembali berujar. "Kakak, sebaiknya kamu segera ceraikan dia dan menikahi Kak Grace! Kak Grace 1000 kali lebih baik dari pada wanita jelek itu!"
Liliana tahu Cecilia sengaja berbicara dengan begitu keras agar ia mendengarnya. Tapi, semua ejekan itu tidak lagi membuatnya sakit hati. Apalagi Gerald sudah memutuskan untuk menceraikannya.
Liliana hanya mampu menatap suaminya dengan getir, ketika suaminya itu menjawab, "Jangan khawatir. Aku memang sudah mengaturnya."
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini" "Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara di
Gerald membeku di tempat sambil bergumam Bayi itu meninggal? Bagaimana mungkin. Kemarin... Seketika kenangan semalam menyambar ingatannya. Dia telah menurunkan Liliana di tengah jalan karena harus pergi menemui Grace yang tiba-tiba demam. Dia tidak berfikir panjang karena perasaan bencinya pada wanita itu kian menumpuk hingga tidak tahan walau hanya menghabiskan waktu sebentar bersama dengannya. "Tuan Ford, apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanya perawat itu. Gerald menatapnya dengan tatapan kosong. Kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya membuatnya sedikit linglung. Meskipun Ia marah saat mengetahui Liliana hamil tapi bukan berarti Ia membenci anaknya sendiri. "Kapan Liliana keluar dari rumah sakit?" "Berdasarkan data di komputer, beliau meninggalkan rumah sakit 3 jam yang lalu Tuan" "Baiklah" Gerald menarik nafas dalam-dalam dengan kening berkerut. Ia kemudian pergi dari rumah sakit itu dan berniat untuk kembali ke Villa dan mencari petunjuk, namun di tengah perjalanan
"Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya. Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias. Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald. "Kak, Aku ingin membuang semua foto itu" "Aku bantu" Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah. "Ada lagi?" "Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari
Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi. "Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku" "Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja" Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana. "Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun" "Nenek...." Setelah merasa lebih






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.