LOGINDi usia kehamilan 28 minggu saat Liliana kehilangan bayi dalam kandungannya, suaminya justru sibuk mengurusi cinta pertamanya yang jarinya terluka kecil karena goresan. Saat itulah Liliana mati rasa. Ia menandatangani surat cerai, pergi untuk menekuni karirnya sebagai dokter spesialis, dan kembali lima tahun kemudian dengan identitas dan nama baru. Tapi, saat bertemu kembali untuk pertama kalinya, Gerald malah menggila! "Kamu pergi seenaknya, kamu pikir aku akan melepaskanmu?" Liliana menatapnya dengan dingin dan berkata, "Tuan Ford, kita sudah bercerai, jangan sok akrab denganku."
View MoreDi usia kehamilannya yang ke 28 minggu, Liliana Santoso melakukan pemeriksaan prenatalnya di dokter kandungan pribadi keluarga suaminya, Gerald Ford.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan menerima laporan prenatalnya, Liliana bergegas ke luar ruangan. Namun, ia tidak menyangka ketika melihat siluet tubuh yang tak asing sedang berpelukan dengan seorang gadis cantik dengan tubuh mungil di ruang tunggu yang sepi.
Pria itu adalah suaminya, yang selalu bersikap dingin dan kejam terhadapnya, tapi kini tampak begitu lembut dan penyayang kepada gadis itu.
‘Gadis itu…’ Liliana bergumam dalam hati.
Liliana memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
“Ge-”
Di saat yang bersamaan, Gerald dan gadis itu menatap ke arahnya. Ah, itu Grace. Tentu saja Gerald sedang bersama Grace.
Sorot mata Gerald yang tadinya hangat langsung berubah dingin saat melihat Liliana ada di sana.
"Kak Gege, siapa tante-tante itu? Kenapa dia melihatku seperti itu? Aku jadi takut…” kata Gracie, masih dalam pelukan Gerald. Tentu saja Liliana dapat mendengarnya meski suaranya pelan.
"Tidak penting. Tidak usah dipikirkan. Ayo kita pergi."
Gerald merangkul bahu gadis itu dengan lembut. Ia pergi begitu saja tanpa melihat Liliana sedikitpun.
Liliana terpaku, kata-kata gadis itu langsung terngiang di telinganya.
Tante-tante…?
Liliana memandangi bayangan tubuhnya dari pintu kaca. Dirinya baru berusia 23 tahun, tapi karena efek kehamilan, tubuhnya yang dulu langsing kini melebar, wajahnya juga kusam, lingkar hitam di bawah matanya menambah efek penuaan dini yang Ia alami.
Pantas saja Grace memanggilnya ‘tante’.
Liliana memang merasa dirinya tampak jauh lebih tua, tapi ia tidak menyesalinya. Jelas saja, semuanya terjadi karena ia tengah mengandung buah hatinya, satu-satunya keluarga yang akan dimilikinya nanti.
Liliana adalah seorang yatim piatu yang tinggal di pinggiran kota dan di besarkan oleh tantenya, Rosita Santoso.
Ia bisa menikah dengan seorang Gerald Ford karena 5 tahun lalu Gerald diserang dan mengalami kecelakaan parah hingga mobilnya masuk ke jurang. Tempat kejadiannya letaknya tidak jauh dari perkampungan tempat Liliana tinggal.
Saat itu, Liliana tengah membantu Rosita mencari tanaman liar untuk membuat obat herbal. Melihat Gerald yang terkapar tak sadarkan diri, Liliana pun menyelamatkannya dengan meminta tolong.
Dibantu oleh warga sekitar, Gerald berhasil dibawa ke rumah sakit dan akhirnya bisa selamat.
Setelah bertemu dengan penyelamat cucunya, nenek Gerald yang sakit keras sangat menyukai Liliana. Nenek Gerald pun membujuk Gerald dan seluruh keluarga Ford untuk menjodohkan mereka berdua.
Padahal, saat itu Gerald sedang mengejar cinta masa kecilnya, Grace Natalie.
Nenek Gerald tidak menyukai Grace sama sekali, jadi ia memaksa Gerald untuk menikahi Liliana, sampai mengancam tidak ingin hidup lagi. Akhirnya, Gerald menyetujuinya dengan terpaksa karena ia sangat menyayangi neneknya itu.
Itu sebabnya Gerald membenci Liliana sejak awal. Bahkan selama menikah, mereka tidur di kamar yang berbeda.
Alasan kenapa Liliana bisa hamil adalah karena Gerald mabuk berat dan tanpa sengaja menidurinya. Bukan di kamar, bukan diatas kasur yang empuk, melainkan lantai dapur yang dingin.
Meski itu bukan kesalahannya, tapi Gerald maupun keluarganya selalu menuduh bahwa Liliana sengaja melakukan itu agar bisa hamil. Meskipun Liliana telah membela diri dan menjelaskan berkali-kali, tidak ada seorangpun yang percaya padanya.
Ting!
Liliana tersadar dari lamunannya saat mendengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Gerald mengirim pesan.
[Keluar. Nenek mengundang kita ke rumah untuk makan bersama.]
Liliana menarik nafas dalam-dalam, ia pun membalas dengan cepat.
[Baik].
Setelah mengirim pesan, Liliana lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit itu.
Tepat saat itu, Liliana melihat mobil Bentley warna hitam dengan plat yang ia kenal terparkir di depan. Ia tahu itu mobil Gerald dan menebak bahwa Gerald ada di dalam. Tapi, bukankah suaminya itu tengah bersama dengan Grace tadi? Atau jangan-jangan Grace juga ada di dalam mobil?
Diam-diam, Liliana merasa gugup, jika benar Grace juga ada di sana, apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba, kaca jendela mobil terbuka.
"Cepat!" sentak Gerald dari dalam mobil. Hal itu membuat Liliana terperanjat kaget.
Liliana pun segera masuk ke dalam mobil, ia tahu suaminya bukan orang yang sabar, terutama terhadap dirinya.
Setelah duduk di dalam mobil, Liliana tidak mengatakan sepatah katapun, tapi perasaannya sedikit lega karena tidak melihat Grace ada di sana. Hanya ada seorang sopir yang duduk di kemudi.
Gerald melirik Liliana sepintas dengan sinis. Aura kejam dan mengintimidasi membuat Liliana tidak nyaman.
Tanpa Liliana duga, Gerald tiba-tiba berkata.
"Setelah anak itu lahir, kita akan bercerai,” ucap Gerald tegas.
Liliana merasa jantungnya berhenti berdetak beberapa detik. Keringat dingin tiba-tiba membasahi telapak tangannya.
"Kenapa? Apa karena wanita itu?" Liliana memberanikan diri untuk bertanya.
"Wanita itu?” Gerald terdengar tersinggung. “Kamu pikir kamu pantas menyebutnya seperti itu?"
Gerald menjawab dengan galak. Liliana terdiam, ia sudah tahu jawabannya. Jadi Liliana berkata dengan tenang. "Baik, tapi kamu yang bilang ke nenek."
"Kamu nggak perlu mengaturku, aku akan memberitahunya dengan caraku," balas Gerald.
Liliana hanya bisa mengangguk, ia dapat merasakan wajahnya memanas karena perasaan yang bercampur. Liliana juga dapat merasakan lirikan Gerald sejenak, namun pria itu segera memalingkan wajahnya.
Meski Gerald berhutang nyawa pada Liliana, tapi Liliana pun tahu Gerald tidak pernah mencintainya. Apalagi, Liliana tahu Gerald menduga dirinya memanfaatkan kesempatan itu untuk menikah dengannya karena hutang budi.
Gerald sangat membencinya, Liliana paham soal itu. Meski begitu, Gerald sudah menyiapkan kompensasi yang lebih dari cukup untuk Liliana hidup sejahtera sampai hari tuanya.
Kedua pasangan itu sama-sama tidak saling bicara sampai tiba di rumah lama keluarga Ford. Gerald turun terlebih dahulu dan meninggalkan Liliana di belakangnya.
Saat memasuki rumah, Ibu dari Gerald, Susan Ford, menyambut kedatangan putranya dengan penuh kasih sayang. Tapi, Gerald menanggapinya dengan cuek karena dia memang tidak terlalu akrab dengan Ibunya.
Saat mata Liliana bertemu dengan Susan, raut wajah wanita paruh baya itu seketika berubah. Ketika Liliana ingin memberi salam, Susan menolaknya dan berkata dengan sinis. "Tidak perlu memberi salam, langsung ke dapur dan bantu-bantu di sana!"
Liliana mengangguk, kemudian berjalan ke arah dapur tanpa banyak bicara. Sikap Liliana yang tunduk seperti itu semakin menjadi bahan ejekan anggota keluarga Ford yang lain, terutama Cecilia Ford, adik semata wayang Gerald.
"Lihatlah, wanita jelek tak tahu diri itu selalu berusaha menjilat keluarga kita, benar-benar nggak punya malu dan harga diri, menjijikan!" ejek Cecilia. Liliana yang mendengarnya hanya bisa menghela napas berat.
Kemudian, Cecilia kembali berujar. "Kakak, sebaiknya kamu segera ceraikan dia dan menikahi Kak Grace! Kak Grace 1000 kali lebih baik dari pada wanita jelek itu!"
Liliana tahu Cecilia sengaja berbicara dengan begitu keras agar ia mendengarnya. Tapi, semua ejekan itu tidak lagi membuatnya sakit hati. Apalagi Gerald sudah memutuskan untuk menceraikannya.
Liliana hanya mampu menatap suaminya dengan getir, ketika suaminya itu menjawab, "Jangan khawatir. Aku memang sudah mengaturnya."
Mendengar permintaan Lucy, ekspresi Adam langsung berubah jelek. suasana hatinya yang sejak bangun sangat baik dan cerah, seketika berubah mendung. Adam jelas ingin berkata tidak, namun Ana justru tersenyum padanya dan menjawab sebaliknya, "Baiklah, silahkan. Aku yakin kalau Adam tidak akan keberatan, benar kan?" "Tentu saja aku keberatan, aku kan-" "Ya ampun, sayang kamu jangan pelit begitu dong sama calon adik iparmu? Lucy itu kan adik aku satu-satunya, masa kamu tega tidak mau memberinya tumpangan?" Ana berkata sambil berjalan menghampiri Adam, dengan nada yang manja dia membujuk pria itu sembari menggoyang-goyangkan lengan kekasihnya itu. Adam dan Lucy sama-sama membeku di tempat. Terkejut dengan sikap Ana yang tiba-tiba berubah. Bedanya, Adam terkejut karena bahagia, sementara Lucy terkejut karena tidak terima dengan ucapan kakaknya. Adam berdehem sekali dengan keras sebelum akhirnya menjawab, "baiklah, karena pacarku yang minta, aku akan mengizinkan. Silahkan, calon adik i
Setelah mendarat dengan selamat, Adam tidak langsung mengantar Ana pulang ke rumahnya, melainkan membawa gadis itu keliling kota Malaka dalam rangka merayakan hari pertama mereka resmi berpacaran. Mereka baru pulang setelah matahari hampir tenggelam.Adam mengemudikan mobilnya sendiri dan Ana duduk di sampingnya dengan canggung. Ini adalah pertama kalinya dia diantar pulang oleh seorang pacar."Terima kasih," ucap Ana tiba-tiba.Adam menoleh ke arah gadis itu sembari mengerutkan keningnya. "Terima kasih untuk apa?" tanyanya."Karena kamu membuatku merasakan sesuatu yang bahkan tidak berani aku impikan."Pernyataan sederhana yang tulus itu membuat dada Adam terasa sesak. Meski tidak menyaksikannya secara langsung, tapi dari cerita Gerald, dia telah mengetahui tentang masa lalu Ana yang diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh lingkungannya, bahkan oleh ayahnya sendiri. Jadi, sangat wajar jika Ana merasa bersyukur atas sesuatu yang seharusnya menjadi hal lumrah bagi orang lain—seperti b
Liliana menghela napas panjang, wajahnya berubah sendu saat mengingat kenangan pahit itu."Gadis bernama Alana itu divonis mengidap tumor ganas di otak. Namun, saat itu dia tahu bahwa Kak Adam sedang mengikuti banyak ujian kompetensi dan seleksi beasiswa masuk perguruan tinggi jurusan kedokteran paling populer di Meikarta. Jadi, dia merahasiakannya dari Kak Adam."Liliana menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan keheningan malam yang dilengkapi semilir angin sejuk menemani mereka."Malam itu, kondisi Alana memburuk. Dia terus mencoba menghubungi Kak Adam, mungkin karena merasa hidupnya tidak lama lagi. Jadi, dia tidak berhenti menghubungi Kak Adam dan mengirimkan banyak pesan, tidak seperti biasanya. Namun, Kak Adam tengah menjalani ujian operasi pertamanya, jadi ponselnya memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Hingga sampai Alana mengembuskan napas terakhirnya, dia tidak bisa bertemu dengan Kak Adam."Alana adalah luka terdalam kakaknya, juga nama yang masih tetap memb
Kale memperhatikan pasangan di hadapannya sambil menahan senyum. Pria dengan kepala plontos berperawakan tinggi besar itu kemudian mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.Sebelum pergi, Kale menepuk bahu Adam dan berkata, "Baiklah, Dokter Adam, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong jaga calon istri Anda dengan baik. By the way, tidak perlu cemburu pada saya, bukankah saya lebih cocok jadi ayahnya Ana daripada pacar?"Kale tersenyum, kemudian melempar kedipan menggoda ke arah Ana yang sukses membuat rona merah di wajah Ana kian memerah. Gadis itu melotot ke arah Kale, namun binar wajahnya jelas tampak bahagia.Setelah Kale pergi, Ana meronta dan melepas pelukan Adam."Kale sudah pergi, Dokter Adam, lepaskan saya. Anda... tidak perlu berakting lagi."Ana mencoba menghindar. Entah kenapa dia merasa tidak mampu untuk menatap mata Adam."Siapa yang sedang berakting, Anastasia? Aku bersungguh-sungguh, termasuk perasaan kesalku karena kamu malah menyuruh
Satu bulan kemudian, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.Aula utama Grand Ballroom Rathore Group disulap menjadi sebuah ruangan bak negeri dongeng modern yang memancarkan kemewahan tanpa batas. Rangkaian bunga lili putih segar impor berpadu dengan kristal-kristal gantung yang memantulkan cahaya lam
"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena seorang Nona besar bersedia bersuamikan anak haram yang dikucilkan banyak orang sepertiku."Begitu mendengar kalimat penghinaan diri yang sama seperti sebelumnya, wajah Rosalina seketika berubah cemberut."Kenapa kamu sangat suka menghina diri sendiri?"
Keberanian dan sikap bar-bar yang ditunjukkan wanita itu sepanjang hari seolah menguap begitu saja. Rosalina berdiri di sana, sedikit meremas ujung gaun pengantin sutra putih berpotongan A-line yang melekat sempurna di tubuhnya. Desainnya yang elegan dengan aksen brokat halus di bagian bahu mengeks
Setelah selesai makan siang kilat dalam waktu cepat, Rosalina berhenti di depan sebuah toko perhiasan mewah bergaya klasik modern di tengah mal yang mereka kunjungi. Begitu melangkah masuk, gemerlap lampu kristal yang memantul pada deretan berlian di dalam etalase kaca langsung menyambut mereka.Se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore