Sakti sedikit terlambat ketika semua trek itu meninggalkan tempat pembuangan akhir. Gegas dia melompat di bak belakang layaknya bajing lompat. Walau dia harus menahan perutnya yang sedikit mual. Campur aduk baunya. Dia tidak sadar bisa tertidur di bak sampah itu. Yang penting sampai Jakarta. Hingga dia mendengar sebuah obrolan membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Telinganya sudah terlatih untuk mendengar pembicaraan yang pelan sekalipun di dekatnya. "Bang Jambrong, bagaimana dengan gadis yang dari kampung itu? Apakah harganya sesuai?" Supir trek yang bernama Didik, sedang berdiri di belakang bak sampah dengan kernetnya,Yatno. Di depannya berdiri seorang pria dengan kumis tebal, badan yang gendut. Hanya pakai kaos dan celana jeans. Mereka memanggilnya Jambrong. "Wah dia masih mulus, gue pastikan nanti malam ada pembeli dengan harga tinggi. Dia datang dari sebrang," ucap Jambrong dengan mata bersinar. "Lalu mana bagian gue,Bang," ucap Disik dengan menengadahkan tangan
最後更新 : 2026-05-12 閱讀更多