Nambah Lagi Dong, Sayang

Nambah Lagi Dong, Sayang

last updateHuling Na-update : 2026-05-09
By:  Mini YuetIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 Mga Ratings. 2 Rebyu
77Mga Kabanata
959views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

"Sakti, kamu memang luar biasa. Aku mau nambah lagi," bisik Laura. "Aku akan lakukan apa yang kamu mau," balas Sakti. Dikhianati istrinya, membuat Sakti berada di kehidupan lain. Yang tadinya dingin dan kaku. Kini lebih perkasa dan kuat di ranjang. Sakit datang untuk membalas dendam dengan caranya. Terutama pada orang yang telah menyakitinya. Apalagi dia telah menemukan cincin aneh penambah kekuatan.

view more

Kabanata 1

Bab 1. Bermain Di Belakang

"Aku berangkat dulu ya, Sayang," ucap Sakti kepada istrinya, Rina.

Wanita cantik itu tersenyum nakal sambil membetulkan dasi suaminya.

"Hati-hati ya, Honey. Jangan kecantol cewek cantik di luar kota. Aku menunggumu. Ingin nambah... permainan semalam benar-benar bikin aku terus teringat," goda Rina sambil tertawa kecil.

Sakti mencubit hidung istrinya. Rasanya gemas sekali dengan wanita berkulit putih itu. Padahal baru semalam mereka bercinta, tetapi rasanya Sakti ingin lagi dan lagi.

Begitu berat meninggalkan istrinya beberapa hari. Pasti kangen banget.

Sakti Dewangga menggandeng tangan istrinya menuju mobil. Hari ini ia harus menghadiri rapat penting para investor Dewangga Group di Semarang.

Lambaian tangan Rina dan senyum manisnya dibalas dengan tatapan rindu dari Sakti.

Mobil melaju menyusuri jalanan kota Jakarta menuju bandara.

Jalanan agak macet karena bertepatan dengan jam kerja. Setiap sudut jalan dipenuhi mobil dan suara klakson yang bersahutan. Tidak ada yang mau mengalah.

Sakti tersenyum, masih sempat membayangkan wajah Rina. Ia memejamkan mata.

Ciuman semalam terasa berbeda. Lebih liar dan memabukkan hingga membuatnya kewalahan.

Hampir tiga tahun menikah dengan Rina, namun mereka jarang berhubungan intim. Sentuhan Rina membuat Sakti mabuk kepayang. Rasanya nikmat dan membuat ketagihan.

BRAAAK!

Mobil Sakti hampir menabrak seseorang yang tiba-tiba melintas di jalan. Sopir segera membanting setir ke kiri dan menghentikan mobil. Ban berdecit keras. Hampir saja mobil menabrak pembatas jalan.

"Astaga!" seru Supri, si sopir dari kursi depan.

Sakti yang tersentak dari lamunannya langsung menegakkan badan.

"Ada apa?" tanyanya.

"Ada orang tiba-tiba nyebrang, Bos."

Sopir itu segera keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan orang tersebut.

Sakti mengerutkan kening dari dalam mobil. Ia melihat sosok pria tua dengan caping lebar yang kini terduduk di pinggir jalan.

Supri membungkuk di depan pria itu, tampak berbicara sesuatu.

Namun beberapa detik berlalu.

Satu menit.

Supri belum juga kembali.

Sakti melirik arlojinya dengan gelisah. Waktu check-in pesawat tinggal satu jam lagi.

"Kenapa lama sekali?" gumamnya tidak sabar.

Karena Supri tidak kunjung kembali, Sakti akhirnya membuka pintu mobil dan turun.

Udara panas langsung menyergap wajahnya. Ia berjalan mendekat ke arah pria tua itu.

"Ada yang luka, Pak?" tanya Sakti sambil membungkuk di depan pria itu.

Pria tua itu hanya menggeleng pelan. Caping lebar menutupi wajahnya sehingga Sakti tidak dapat melihat dengan jelas.

Pengemis itu hanya memakai celana pendek hitam tanpa baju. Sebuah sarung lusuh tergantung di lehernya.

“Saya ambil air minum dulu di mobil, Bos,” kata Supri.

Sakti hanya mengangguk, lalu menoleh pada pria tua itu. "Maaf, Pak. Sopirku tidak sengaja. Bapak muncul tiba-tiba," ucap Sakti, merasa bersalah sekaligus sedikit kesal. Di tempat sepi seperti ini, tiba-tiba ada orang melintas.

Sakti mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyodorkannya kepada pria tua itu. Namun pria itu menolak. Sakti sedikit terkejut.

Ia lalu membantunya berdiri. Rupanya pengemis itu tidak bisa berdiri tegap.

"Gunakan ini kalau kamu benar-benar terpaksa. Terima kasih sudah menolongku," ucap pria tua itu dengan suara parau.

"Apa ini?" tanya Sakti bingung.

Sakti menerima sebuah cincin dengan batu berwarna biru muda. Cincin itu tampak tua dan bahkan sudah berkarat. Namun ketika Sakti memperhatikannya, ia merasa seolah ada energi besar tersimpan di dalamnya.

"Terima kasih, Pak Tua," ucap Sakti sambil menoleh ke arah pria itu.

Namun pria tua itu sudah tidak ada.

Sepi.

Di area itu tidak ada kendaraan sama sekali.

"Siapa dia? Ke mana perginya?” Sakti mengerutkan kening. “Bikin takut saja," gumamnya.

Sakti melihat arlojinya. Ia lantas menyimpan cincin itu di saku celananya, lalu kembali ke mobil.

Supri terheran melihatnya. “Loh, ke mana pria tua itu, Bos?”

“Sudah pergi,” sahut Sakti, lalu masuk ke dalam mobil.

Ketika tangannya meraba tas kerja yang berada di kursi, ia tiba-tiba terdiam. Wajahnya berubah.

"Dokumen kontrak..."

Dadanya langsung terasa dingin. Ia baru menyadari sesuatu.

Dokumen asli kontrak investasi yang harus ia presentasikan kepada para investor ternyata tidak ada di dalam tasnya.

Sakti mencoba mengingat.

Pagi tadi ia membaca ulang dokumen itu di ruang kerjanya sebelum berangkat. Karena terburu-buru setelah menerima telepon dari salah satu investor, ia menaruhnya di meja.

Setelah itu, Rina datang dan mereka menghabiskan waktu bersama.

Dan...

Ia lupa memasukkan dokumen itu ke dalam tas.

Sakti menghela napas kesal. "Supri!" panggilnya.

"Iya, Bos?" sahut sopir pribadinya itu.

"Ada yang tertinggal. Kita balik ke kantor dulu."

Supri langsung menoleh dengan wajah kaget. "Aduh Bos, kita sudah jauh banget. Tidak mungkin kembali. Penerbangan satu jam lagi," kata Supri mengingatkan.

Sakti menggeleng tegas. "Tidak. Aku tidak mungkin menghadiri rapat tanpa dokumen penting itu. Balik! Kalau ketinggalan pesawat, aku bisa naik yang lain."

Nada suara Sakti tidak memberi ruang untuk membantah.

Supri hanya menghela napas berat sebelum memutar mobil. Terpaksa mobil berbalik arah menuju kantor.

….

Beberapa saat kemudian.

Gedung Dewangga Group tampak sepi.

Sebagian besar karyawan sudah keluar untuk makan siang.

Sakti berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Pikirannya hanya tertuju pada dokumen kontrak yang tertinggal di meja.

Namun ketika ia hampir membuka pintu ruangannya, langkahnya terhenti.

Sebuah suara terdengar dari dalam.

"Ah... lagi, Sayang," bisik seorang wanita.

Tubuh Sakti langsung menegang.

Suara itu… sangat ia kenal.

"Rina?"

Jantungnya berdetak keras. Kenapa istrinya ada di sini? Dan... dengan siapa?

Langkah Sakti menjadi lebih pelan ketika ia masuk ke dalam ruangannya.

Suara itu berasal dari kamar mandi pribadi miliknya.

"Kamu memang enak. Aku cemburu saat kamu bercinta dengan Sakti," balas suara pria dari dalam.

Tangan Sakti langsung gemetar. Suara itu juga sangat dikenalnya.

Sony Dewangga. Adiknya sendiri.

Dada Sakti seperti dihantam sesuatu yang berat.

"Sedang apa mereka berdua di kamar mandi?" pikir Sakti dengan dada bergemuruh.

"Tenang, Sayang. Aku hanya milikmu. Dia cuma pria yang tidak bisa memuaskanku. Permainannya payah," kata Rina.

Setiap kata itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Sakti.

"Dia tidak bisa bermain lama. Aku masih kurang puas, Sayang," bisik Rina lagi. "Aaah…."

Rintihan itu membuat amarah Sakti memuncak.

Harga dirinya hancur ketika mengetahui istrinya dijamah orang lain. Bahkan oleh adiknya sendiri!

Ucapan Rina bahwa dirinya tidak perkasa di ranjang terasa seperti palu yang menghancurkan hatinya berkeping-keping.

"Dasar pengkhianat!" teriak Sakti sambil membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.

Dua orang yang saling bertindih di lantai itu terkejut.

Tanpa berpikir panjang, Sakti menendang Sony hingga pria itu terhuyung.

"Bisa-bisanya kalian bercinta di sini!" teriak Sakti dengan mata merah.

Rina berusaha meraih bajunya yang tergeletak di lantai kamar mandi.

Sony berdiri dengan santai, seolah mengejek kakaknya.

"Hahaha... Istrimu memang enak, Kak. Kamu saja yang kurang perkasa," ejeknya.

Sakti tidak mampu menahan diri lagi.

Ia menyerang Sony dengan penuh amarah.

BYAAAR!

Tanpa disadari Sakti, Rina mengambil botol minuman keras di lantai dan memukul kepala Sakti.

Tubuh Sakti roboh ke lantai kamar mandi.

Darah mengalir deras dari kepalanya.

Sony dan Rina saling berpandangan.

"Wah... dia mampus," gumam Sony.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rina dengan wajah pucat.

Bersambung....

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

dahlya nabila
dahlya nabila
ceritanya menarik. dari seorang yang dikhianati berubah menjadi pria dingin. terus semangat updatenya kak...
2026-04-07 08:38:11
0
1
Mini Yuet
Mini Yuet
Halo pembacaku yang tercinta. Aku hadir lagi nih. Tentu dengan cerita yang berbeda. Rasakan sensasinya ya!
2026-03-25 18:37:55
2
0
77 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status