“Kamu berani bayar berapa? Jasaku mahal.”Agatha memutar bola mata. “Dokter, perhitungan banget jadi orang. Saya junior Dokter, kan?”“Junior ya, junior. Bisnis ya, bisnis. Nggak bisa digabungin. Kamu pakai jasaku, ya harus berani bayar.”Di belakang mereka, Sonya dan Bang Deni terkikik geli. Dua orang itu langsung memasang ekspresi serius, sambil menahan tawa, setelah dipelototi oleh Sonya.“Ya, pokoknya gitu deh, Tha. Aku bisa jadi mata-mata kalian. Asal kalian bayar uang jasa yang cukup buat aku.”“Kok, kita, Dok? Yang pengen tahu soal dokter Damian kan, Agatha.” Sonya protes.“Tapi kalian mau gosipnya juga, kan?” Mata Bima berbinar geli. Dia menunjukkan layar ponselnya. “Nih, lihat. Yakin nggak mau gosip terbaru soal Damian?”Sonya dan Agatha langsung menjulurkan leher melihat apa yang terjadi. Sementara Bang Deni terpaksa menelan rasa kecewa karena posisinya yang berada di kursi depan tak memungkinkan untuk ikut melihat apa yang ditunjukkan koleganya.“Kerjaan istri sahnya, nih.”
Read More