“Percayalah. Semua orang di rumah sakit ini sangat ingin melempari kepala Damian dengan apapun. Aku yakin dirimu juga pasti sangat kesal dengan dia. Tapi percayalah, lemparanmu itu nggak akan setimpal dengan hukuman di kepolisian kalau sampai kepala Damian bocor.”Bima membujuk. Senyumnya manis bercampur kecut. Tatapannya bergantian dari Victoria, vas di tangannya yang terangkat ke atas, lalu kepada wajah Damian yang selempeng jalan tol.“Dam, ngomong dong.” Bima setengah menghardik.“Apa yang harus kukatakan? Faktanya benar. Komplikasinya sudah terlalu banyak. Ibra adalah bom waktu. Salah langkah, salah waktu, dia akan meledak. Semua yang sudah kita usahakan akan sia-sia.”Brakkk!Bima, Rio, Devon, dan Tiffany yang sudah berada di dalam kantor Damian terlonjak kaget. Victoria menggebrak meja dengan vas kristal.“Oke. Kamu menang.” Victoria akhirnya bersuara. Bahunya mulai santai. “Keselamatan pasien adalah nomor satu. Sikap tak berperasaanmu ini sudah kusukai sejak kita pertama berte
Read More