ログインAgatha suka pria lebih tua. Namun, apa jadinya kalau pria yang dipacarinya ternyata 20 tahun lebih tua darinya dan notabene adalah sahabat papa-nya sendiri? Awalnya semua aman. Mereka pacaran backstreet, sampai Damian menghilang begitu saja, meninggalkan Agatha tanpa pamit di ulang tahun pertama hubungan mereka. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka dalam hubungan rawan skandal. Agatha ingin menghindar. Namun, tubuhnya ternyata bereaksi lebih jujur. Dia menginginkan Damian untuknya sendiri, malam ini, di ranjangnya.
もっと見る“Waduh, gede banget! Berapa harga sewanya, nih?”
Agatha tidak bisa menahan desah penuh kekaguman saat mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen. Sejenak melupakan rasa sedih yang menghimpit dada.
Unit ini luas, bersih, dan tampak rapi. Dindingnya berwarna netral, menjauhkan penghuninya dari kesan suram. Tidak bau apek, bahkan justru cenderung wangi. Perabotannya pun lengkap, meski tidak banyak. Tampaknya pemilik apartemen ini menyukai gaya minimalis.
Agatha bergerak mengecek kamar mandi yang bersih, dengan air yang mengalir lancar, lalu ke kamar tidur.
“Akhirnya bisa tidur nyenyak aku.” Dia menghempaskan badan ke tempat tidur yang sudah berlapis sprei dan dilengkapi bantal serta selimut. “Kukira apartemennya kosongan. Ternyata udah full furnish. Bagus, deh. Bisa tenang aku sebentar.”
Di luar hujan turun sangat deras. Airnya memukul-mukul kaca jendela kamar di apartemen. Meski berisik, tetapi cukup menenangkan.
Perlahan Agatha mengeluarkan ponsel dari saku dan menghubungi sahabatnya untuk mengucapkan terima kasih. Setelahnya, dia membaca ulang pesan sahabat masa kuliahnya itu beberapa jam lalu.
[Gat, sori. Gue gak bisa tebengin lo nginep. Kucing gue ada 5. Takut asma lo kambuh. Tapi lo bisa ke tempat temen gue dulu. Dia punya unit apart yang kosong. Gue udah kontak dia dan dia oke. Lo bisa tinggal di sana sementara waktu sampai dapat kerjaan lagi.]
Gadis itu menatap langit-langit kamar tidur. Helaan napasnya berat mengingat peristiwa pagi tadi. Saat pertukaran shift kerja di pagi hari, Agatha langsung menerima surat pemecatan.
Gara-gara salah membaca situasi klinis, Agatha harus menerima kenyataan pasien yang dia tangani berakhir di kamar jenazah karena serangan jantung. Wajahnya muram. Dia mengangkat tangan dan mengamati kesepuluh jari.
“Kenapa kamu masih nekat jadi perawat, Gatha? Udah jelas kamu nggak punya bakat di kesehatan. Masuk Jurusan Keperawatan aja udah taruhan nyawa, sekarang malah ngilangin nyawa orang.”
Agatha memejamkan mata. Dia baru enam bulan bekerja di rumah sakit kecil di Kota S. Sejak awal sebenarnya Agatha sudah cukup kerepotan menangani pasien. Namun, dia bertekad mengalahkan segala rintangan.
Sampai dua hari lalu indekosnya kebakaran. Hampir semua barang Agatha lenyap tak berbekas. Konsentrasi Agatha terpecah, ditambah kelelahan parah karena bekerja dua shift
berturut-turut. Alhasil pasien yang harusnya masuk kamar bedah jantung, disepelekan oleh Agatha dan hanya ditempatkan di bangsal rawat biasa.Tanpa penghasilan dan tempat tinggal, Agatha berniat menginap di rumah sahabatnya semasa kuliah. Namun, itu pun ternyata tidak bisa dilakukan.
Beruntung, dia kemudian mendapatkan secercah harapan.
“Mungkin akhirnya dunia kasihan padaku, jadi malah dapat tempat menginap besar begini,” Agatha menyimpulkan. “Tanpa lembur dan kerja rodi, malam ini aku pasti bisa tidur–”
Pats!
Lampu tiba-tiba mati. Gelap total.
“Haish, kenapa pakai mati lampu segala?” Agatha mengeluh. Dia benci gelap. Napasnya sontak sesak karena tak mampu melihat cahaya. Cepat-cepat Agatha menyalakan senter di ponsel dan langsung mencelos.
“Kenapa baterainya tinggal lima persen?” Dia berseru panik.
Berjingkat-jingkat berjalan dalam kegelapan, dia akhirnya berhasil sampai di ruang duduk. Sayangnya ponselnya juga mati total setelah mengeluarkan peringatan baterai habis.
“Aahh! Jangan gini dong!” Agatha berteriak frustrasi.
Dia langsung mencoba menyalakan ponselnya lagi, tapi tentu saja gagal total. “Kenapa pakai mati lampu segala, sih? Aku nggak suka gelap!” suara Agatha bergetar.
Dia meraba-raba tembok dan berhasil tiba di foyer. Segera Agatha membuka pintu lebar-lebar. Akan tetapi, bukannya lega, jantungnya justru mencelos.
“Sial. Kenapa semuanya gelap gini? Masak satu gedung mati lampu?” Agatha nyaris menangis. Tubuhnya gemetar hebat menahan takut berhadapan dengan gelap di lorong.
Nyalang Agatha berusaha mencari sumber cahaya. Ketemu. Ada seberkas sinar di pintu depan unitnya yang terkuak sedikit.
Agatha menelan ludah.
Dia sebenarnya tidak suka minta bantuan orang lain. Apalagi seseorang yang tidak dia kenal.
Namun, kegelapan ini membuat tubuhnya gemetar tanpa kendali. Belum lagi napasnya yang masih sulit diatur.
Pada akhirnya, dia melangkah ke unit di depannya.
“Permisi?” sapanya. “Halo? Ada orang–”
Cahaya dari unit itu menyapu wajah seseorang yang membuat napas Agatha makin tercekat. Agatha sontak merasakan tubuhnya mati rasa.
“Gatha?”
Suara berat dan dalam itu mengaliri tulang belakangnya.
Agatha refleks mundur, tetapi kakinya tersandung. Dia terhuyung dan terkesiap keras.
Akan tetapi sebelum dia terjatuh, satu tangan terulur menyambar tubuhnya dan menariknya masuk pelukan. Dada mereka berbenturan.
“Kamu masih ceroboh. Nggak berubah.”
Agatha membelalak. “Kamu!?”
Suara gadis itu terdengar lebih keras dari seharusnya. Dia menggelengkan kepalanya, seperti mencoba bangun dari mimpi buruk.
Nggak. Nggak. Nggak mungkin!
Kenapa Damian Wibisana ada di sini?
Kenapa mantannya yang paling brengsek itu ada di depannya sekarang?
“Dam, penerbangannya tiga jam lagi! Stop it, please ….”Suara Agatha berubah menjadi desah pasrah saat punggungnya menempel pada pintu kayu apartemen mereka. Gaun kasual yang tadinya rapi kini sudah tersingkap sampai ke pinggang. Di depannya, Damian sama sekali tidak berniat melambat. Sentuhan pria itu selalu punya cara untuk melumpuhkan akal sehat Agatha dalam hitungan detik.“Tiga jam itu lama, Sayang. Sementara kamu mau meninggalkanku satu tahun,” bisik Damian parau. Napasnya memburu di ceruk leher Agatha, menyuntikkan sensasi panas yang membuat seluruh tubuh wanita itu meremang.Tanpa aba-aba, Damian mengangkat tubuh Agatha, membuat kedua tungkai wanita itu melingkar erat di pinggang kokohnya. Gerakan Damian berikutnya begitu menuntut, dalam, dan menghentak, seolah pria itu ingin membuat Agatha mengingat sebanyak mungkin kenangan tentang dirinya. Itu cara yang efektif agar Agatha tidak sempat melirik bule Amerika mana pun selama fellowship di Mayo Clinic nanti.“Damian … ah!” A
“Ngapain Papa masih nekat nyuruh aku ngurusin perusahaan? Pakai datangin tim lawyer segala. Dam, aku nggak mau ngurusin perusahaan dulu.” Agatha merengek.“Mau dibantu?” Damian santai, tetapi matanya tidak. Dia terus menatap intens kepada istrinya yang sedang ganti baju di depannya.Sial. Damian merutuk dalam hati sambil merapatkan kaki. Apa istrinya tak tahu pengaruh bodi sintal itu terhadap suaminya sendiri? Damian harus mati-matian menahan diri tidak menarik Agatha ke tempat tidur dan mencumbunya habis-habisan.“Nggak mau. Aku udah janji buat selesaikan masalah ini sendiri.”Agatha mengancingkan kancing terakhir blusnya. Pakaiannya kasual. Cocok untuk bertemu dengan tim pengacara perusahaan Papa yang datang ke rumah.“Kalau begitu, izinkan aku menemanimu.” Damian berdiri dan memperbaiki posisi celananya.“Nggak balik ke Novera?” Agatha mengangkat alis.“Aku sudah ajukan cuti. Kemarin berangkat dadakan setelah lihat berita kecelakaan kereta api.”Agatha tersenyum. Dia menjulurkan ta
Suara dentuman keras dari dua kereta yang bertabrakan masih terekam jelas di ingatan Agatha. Untungnya dia ada di gerbong paling belakang. Selain luka gores di pelipis, tidak ada yang harus dikhawatirkan dari dirinya.“Saya Agatha, perawat dari Kota M! Saya bisa bantu!” serunya keras setelah berhasil keluar dari gerbong yang anjlok.Hiruk pikuk suara evakuasi menjadi latar belakang seorang dokter yang sedang memimpin triage. Dokter pria berompi medis itu menatapnya sekilas. “Bagus. Bantu saya di zona kuning dan merah. Prioritaskan yang mengalami gangguan napas dan pendarahan hebat!”Agatha langsung bergerak tanpa ragu. Seorang pria setengah baya yang baru saja dievakuasi oleh TIM SAR dari gerbong depan adalah pasien pertamanya.“Pak, bisa dengar suara saya?” Agatha memeriksa kesadaran korban sambil jarinya berpindah cepat ke pergelangan tangan. Denyut nadinya lemah dan cepat. Agatha berteriak lantang ke arah dokter.“Dok! Pasien mengalami tanda-tanda syok hipovolemik. Kemungkinan ada
“Wajah merah merona. Baju kusut. Tingkah aneh. Fix, Bang Deni! Sahabat kita ini baru saja mendapat kesenangan entah di mana.”Agatha melotot galak. Buru-buru dia membungkam mulut Sonya.“Resek banget, sih?” gerutu Agatha.Sonya terbahak. “Habisnya kamu main ngilang entah ke mana.”“Kan, ada Bang Deni sama Mbak Rosma yang nemenin. Sigit sama Talita juga lagi keliling.” Agatha mengingatkan.Sonya melirik Bang Deni yang sedang makan kuaci. Senyum dua orang itu penuh arti.“Iya, deh. Yang barusan dapat kesenangan dari suami-aduh! Jangan dipukul dong, aku.” Sonya terkikik geli.“Tha, besok ikut ke Lembang gak? Ners yang libur mau healing ke sana. Mumpung dapat jatah cuti dua hari.”Agatha menggeleng. “Aku mau pergi ke tempat Papa.”Deni melirik Sonya. “Oh, tugas negara.”Agatha hanya mengangguk tanpa menjelaskan lebih jauh. Dia menyelesaikan shif tanpa banyak bicara. Sepotong pesan dari Damian membuatnya semangat.[Damian: Aku nginap RS. Besok pulang bareng.]Sayangnya, rencana hanya tingg
“Saya tidak akan membuka dada pasien yang masih bisa berjalan masuk ke ruangan ini.”Agatha mencelus saat telinganya menangkap suara dingin yang sangat familier. Namun, level dinginnya kali ini sudah naik menjadi skala delapan per sepuluh.“Stent hanya menunda. Kasus seperti ini butuh operasi,” sua
“Gatha, berhenti.”Tak ada teriakan. Langkah panjang Damian berhasil menyusul Agatha. Kemudian, pria itu langsung menarik Agatha kembali ke dalam mobil.Agatha sempat meronta-ronta, tetapi langsung mematung saat Damian memasangkan sabuk pengamannya. Bukan dekat lagi, mereka nyaris tidak berjarak sa
"Makasih makanannya, Om."Damian yang sedang berdiri di depan lift menatap Agatha. "Kamu suka itu.""Iya." Agatha mengangguk singkat. Rasanya ingin dia bicara jujur. Makanan dari Damian sudah berakhir di tempat sampah tanpa sempat dicicip.Seharusnya cukup sampai situ. Namun, mulutnya malah lanjut
“Pakai jaketku.”Agatha menggeleng. Walau AC mobil Damian dingin, dia akan pantang menyerah menolak memakai jaket pria itu.“Bajuku basah, Om. Jaket Om bisa basah nanti.” Itu alasannya.“Justru karena basah ….” Damian tak meneruskan ucapan.Agatha menatap bingung. Dia melirik Damian. Pandangan pria






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー