“Dam,” desis Agatha kaget. “Hampir aja aku teriak, nih. Seenaknya aja main seret orang ke tempat gelap.”“Aku rindu kamu,” bisik Damian. Wajahnya menyusup ke pelukan Agatha. “Lama sekali kamu tengok bocah itu.”Agatha tersenyum. Dia membalas pelukan peremuk tulang Damian. Satu tangannya mengusap-usap kepala pria itu.“Katamu, aku harus ikut operasi besok. Jadi, aku tengok dia.”“Sampai jam sepuluh malam?”Agatha mendorong pelan Damian, tetapi tidak melepaskan pelukan. “Aku bantu jagain dia. Ayahnya biar istirahat bentar. Kebetulan aku juga bisa pelajari berkas dari kamu.”“Kamu jaga dia, terus yang jaga aku?” Damian merajuk.Agatha menaikkan alis. “Dam, please deh. Ingat umur. Masak kamu cemburu sama bocah empat tahun, sih?” Agatha terkikik.Damian menyambar pinggang Agatha. Dia mencium kuat-kuat bibir wanitanya.Agatha memejamkan mata. Di tengah ceruk gelap bangsal anak, dia menikmati ciuman dokter konsulen senior yang sangat dihormati oleh seluruh kolega rumah sakit.“Aku rindu kamu
อ่านเพิ่มเติม