Di dalam kamar yang temaram, sisa-sisa kemarahan Celina masih terasa di udara yang pengap. Ia memukul-mukul dada Dave dengan tinju kecilnya, sebuah luapan frustrasi dari dua malam yang menyiksa. Namun, Dave tidak melepaskan dekapannya. Ia membiarkan setiap pukulan itu mendarat, menyerap semua rasa sakit istrinya ke dalam tubuhnya sendiri."Celina, demi nyawaku... demi setiap napas yang kuhirup," Dave berbisik tepat di telinga Celina, suaranya rendah dan penuh penekanan yang menggetarkan. "Tidak ada wanita lain. Tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada.""Bohong! Kau bersama Bianca! Ponselmu mati, kau menghilang!" raung Celina, meski tenaganya mulai terkuras.Dave memegang kedua bahu Celina, memaksanya berhenti bergerak dan menatap langsung ke dalam manik mata birunya yang sedalam samudera. "Ponselku hilang saat aku tiba di San Alexandria, Celina. Aku sedang bertempur dengan waktu untuk mengurus aset ayahku yang terancam. Aku bersumpah, hatiku tidak pernah meninggalkan kamar in
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-11 Mehr lesen