Masuk[Male Book] Di mansion mewah keluarga Fortman, Dave hanyalah "Kecoa Busuk". Sebagai menantu bungsu, posisinya bahkan dianggap lebih rendah dari anjing peliharaan. Di saat menantu lainnya dipuja sebagai CEO dan Presdir, Dave hanya menjadi sasaran caci maki Nyonya Theresia, sang ibu mertua. Namun, keluarga konglomerat Westalis itu tidak sadar bahwa mereka sedang bermain api dengan maut. Di balik penampilannya yang sederhana, Dave menyimpan identitas yang bisa meruntuhkan seluruh kota dalam semalam. Dia adalah Dave Alen Parker. Sang Penguasa Eropa yang namanya saja sanggup membuat seluruh Italia gemetar. Saat topengnya terbuka, apakah keluarga Fortman masih sanggup berdiri tegak?
Lihat lebih banyakWestalis tidak pernah ramah pada mereka yang berkantong tipis. Pagi itu, kota metropolitan tersebut masih dibalut kabut putih yang menggantung malas di antara pepohonan maple yang mulai memerah.
Udara sisa musim panas terasa menggigit, menusuk hingga ke tulang bagi siapa pun yang berani berdiri diam terlalu lama. Namun, di dalam dapur megah mansion keluarga Fortman, hawa dingin itu kalah oleh panasnya kompor dan aroma bawang bombay yang ditumis. Seorang pria berdiri memunggungi pintu. Postur tubuhnya tegap, kemeja putihnya yang mahal tersembunyi di balik apron biru muda yang tampak kontras. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan gambar tato di antara otot-otot lengan yang keras dan kulit kecokelatan yang tampak terawat, bukan karena gym, melainkan karena tempaan hidup yang tak terlihat. Tangannya yang kokoh bergerak sangat cekatan. Dengan pisau dapur yang berkilat tajam, ia memotong sayuran dengan presisi seorang ahli bedah. "DAVE! Di mana sepatuku?!" Lengkingan suara itu memecah keheningan pagi. "Hei, Kecoa Busuk! Kau tuli, ya?!" "Dave! Mana saladnya?! Lamban sekali kau seperti siput!" Suara-suara itu beradu, saling bersahutan dari arah ruang makan seperti paduan suara cacian. Pria itu, Dave, hanya memejamkan mata sejenak. Manik biru terangnya—yang sebiru samudra terdalam—menatap tumpukan keju di hadapannya. Ada dorongan liar di benaknya untuk menyumpal mulut-mulut berisik itu dengan parutan keju tersebut. Namun, ia menarik napas panjang. Sabar adalah senjatanya saat ini. Baru saja ia meletakkan sebutir ceri sebagai sentuhan akhir pada saladnya, sebuah benda melayang di udara. BUGH! Sebuah sepatu kain menghantam punggung kokohnya. Dave berbalik perlahan. Di ambang pintu dapur, berdiri seorang wanita paruh baya dengan riasan wajah sempurna yang tampak terlalu berlebihan untuk jam tujuh pagi. Theresia Fortman. Wanita itu menatap Dave seolah-olah pria itu adalah noda lumpur di lantai marmernya yang mengkilap. "Apa lihat-lihat? Telingamu sudah mati, hah?!" Theresia berkacak pinggang. "Jam berapa sekarang? Para menantuku yang hebat akan segera berangkat ke kantor, dan kau masih berdiri di sini seperti tiang tower? Dasar sampah!" Dave menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan rahangnya yang mengeras. "Maaf, Nyonya. Saya kurang enak badan, jadi terlambat bangun hari ini." "Kurang sehat?" Theresia tertawa sinis, langkah kakinya mendekat, mengeluarkan aroma parfum mahal yang menyesakkan. "Mungkin aku harus menelepon Rumah Sakit Jiwa untuk membawamu pergi. Kehadiranmu saja sudah membuat kepalaku pusing. Kau tahu? Tadi malam aku berdoa agar kau dikirim ke medan perang di Libanon, supaya peluru musuh bisa segera melubangi kepala bodohmu itu." Dave hanya meremas pinggiran apronnya hingga buku-buku jarinya memutih. Hinaan itu sudah menjadi makanan hariannya. Bagi Theresia, kotoran anjing peliharaan mereka jauh lebih berharga daripada menantu bungsu yang dianggapnya parasit ini. "Kenapa diam?! Cepat bawa sarapan itu ke meja! Menantu-menantuku yang sukses tidak punya waktu untuk menunggu sampah sepertimu!" bentak Theresia sebelum berbalik pergi. "Ah, aku lupa... kau bahkan tidak punya ijazah, bukan? Mimpi buruk macam apa yang membuat orang rendahan sepertimu masuk ke keluarga ini?" Setelah suara langkah sepatu hak tinggi itu menjauh, Dave melepaskan apronnya dengan gerakan kasar. Ia membantingnya ke lantai, menginjaknya seolah kain itu adalah wajah semua orang di rumah ini yang telah menghinanya. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Dave? Apa yang kau lakukan?" Suara lembut itu seperti siraman air dingin di tengah kobaran api. Dave tersentak. Ia menoleh dan mendapati Celina berdiri di sana. Rambut hitamnya tergerai indah, menatapnya dengan raut cemas. "Aku... aku hanya sedang meregangkan otot," dalih Dave cepat, memungut apron kucalnya dengan wajah memerah karena malu. Celina tersenyum tipis, meski ada gurat keletihan di matanya. "Berolahraga di dapur? Kau unik sekali. Sini, biar kubantu membawa saladnya. Mommy bisa mengamuk jika kita tidak segera ke meja makan." Hanya karena wanita ini. Hanya karena Celina Victoria Fortman—istrinya yang sah—Dave sudi bertahan di neraka ini. Mereka menikah dua tahun lalu atas perintah mendiang ayah Celina, James Fortman. Sebuah pernikahan yang dianggap seluruh kota sebagai lelucon terbesar abad ini. Sang Dewi Westalis menikahi pria dari antah berantah. Di meja makan, suasana terasa mencekam bagi Dave. "Hei, Alien dari Pluto! Cepat bawa saladnya ke sini!" teriak Edward Donovan, menantu tertua. Seorang Presdir pertambangan yang merasa dunia berputar di bawah kakinya. Dave bergerak seperti pelayan, menuangkan salad ke piring Edward tanpa suara. "Bodoh! Mana jus ku?!" timpal Jolie, istri Edward yang wajahnya tampak kaku karena terlalu banyak operasi plastik. Celina yang duduk di ujung meja, meletakkan garpunya dengan denting keras. "Aku berangkat sekarang. Ada meeting penting." Ia beranjak pergi tanpa menghabiskan makanannya, raut wajahnya tampak masam melihat suaminya diperlakukan seperti budak. Dave tertegun. Ia tahu Celina belum makan apa pun. Dengan cekatan, ia lari ke dapur, memasukkan beberapa potong roti dan buah ke dalam kotak bekal. Ia ingin menyusul istrinya. "Mau cari perhatian, hah?" cibir Arthur Desmond, menantu kedua yang merupakan CEO teknologi kesayangan Theresia. "Dasar norak." "Celina sedang diet untuk peluncuran produknya. Dia tidak akan menyentuh makanan murah buatanmu," sahut Jesica, istri Arthur, sambil tertawa mengejek. Theresia menimpali sambil mengunyah apel dengan anggun. "Harusnya kau tahu diri, Dave. Ratusan eksekutif muda di Westalis sedang mengantre menunggu Celina menceraikan mu. Kau hanya debu di bawah kakinya." Satu per satu mereka bangkit, meninggalkan meja makan dengan tawa meremehkan, membiarkan Dave sendirian di antara piring-piring kotor. Dave terdiam. Ia menatap kotak bekal di tangannya, lalu tersenyum getir. Jika saja James masih hidup, mungkin ia tak perlu sedalam ini bersembunyi di balik topeng kepatuhan. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Ia mencuci tangannya dengan cepat, memastikan tidak ada orang di sekitar, lalu mengangkat telepon itu. "Hm?" suara Dave berubah total. Tidak ada lagi nada ragu atau penundaan. Suaranya berat, dingin, dan penuh otoritas. ["Bos, orang-orang kita ditangkap di dermaga oleh faksi lawan. Logistik milikmu dijarah."] Dave terdiam sejenak. Matanya yang tadi tampak kuyu, kini tajam seperti elang yang siap menyambar mangsa. "Hubungi Luca. Katakan padanya jangan biarkan satu pun dari mereka melihat matahari besok. Tangkap para pencuri itu dan kunci mereka di markas bawah tanah. Aku akan turun tangan sendiri nanti malam." ["Baik, Bos!"] Klik. Dave memasukkan kembali ponselnya. Ia kembali memungut piring kotor dan menyalakan keran air. Sambil bersiul pelan, ia mencuci piring-piring itu dengan tenang, seolah perintah untuk melenyapkan nyawa yang baru saja ia berikan hanyalah obrolan cuaca. Mereka memanggilnya Kecoa. Mereka memanggilnya Sampah. Tapi di belahan dunia lain, di bawah langit Italia yang gelap, nama Dave Alen Parker adalah hukum yang tak terbantahkan. Sang Penguasa Eropa itu sedang menikmati perannya sebagai menantu yang tertindas. Entah apa yang sedang dia rencanakan.Tiga hari telah berlalu seperti hembusan angin yang membawa aroma badai. Pesta topeng yang digelar oleh raksasa Westalis, Group Foster, kini hanya tinggal hitungan jam. Seantero kota—bahkan seluruh daratan Eropa—seolah menahan napas. Headline surat kabar dan media sosial tak henti-hentinya menggaungkan satu nama: Alen Parker. Sang penguasa Miracle Group yang mistis akhirnya akan muncul dari balik tirai emasnya. Para wanita lajang dari klan bangsawan dan putri-putri konglomerat telah menghabiskan ribuan dolar hanya untuk memastikan helai rambut mereka jatuh dengan sempurna malam ini. Di kediaman Fortman, sore itu suasana lebih mirip medan perang estetika daripada sebuah rumah. Jolie dan Jesica sudah sibuk berhias sejak matahari masih tinggi. Gaun-gaun sutra dan brokat berserakan di lantai marmer tanpa dipedulikan, sementara tiga orang perias profesional dan penata rambut bergerak lincah di sekitar mereka. Celina muncul di ambang pintu dengan wajah murung. Matanya redup, tak ada
Mobil sedan perak milik Celina meluncur mulus memasuki area parkir sebuah mall kelas atas di pusat Westalis. Begitu mesin mati, Dave menunjukkan inisiatif yang lahir dari insting perlindungannya yang tajam; ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Celina dengan gerakan yang sangat sopan. Celina menatap suaminya, hatinya menghangat melihat perlakuan manis itu, meski di mata dunia, tindakan Dave hanyalah standar operasional seorang pelayan. Mereka melangkah masuk ke dalam mall yang megah. Dave berjalan di samping Celina dengan dagu tegak dan langkah yang tenang. Ia tidak terlihat norak atau kagok meski berada di tengah kemewahan—sesuatu yang membuat Celina tersenyum lega. Namun, ketenangan itu terusik saat tiga orang wanita dengan pakaian bermerek dan aroma parfum yang menusuk hidung muncul dari arah gerai perhiasan. Mereka adalah teman-teman sosialita Celina. "Celina! Oh, Tuhan, sudah lama tidak bertemu!" salah satu dari mereka berseru, menghampiri dengan
Makan malam telah usai, meninggalkan keheningan yang canggung di antara dinding-dinding Mansion Fortman yang dingin. Dave berdiri di depan wastafel dapur, punggungnya yang tegap dan bahunya yang luar biasa lebar tampak mendominasi ruangan yang remang-remang itu. Ia sedang mencuci piring, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini bergerak ritmis di antara busa sabun.Celina berjalan pelan mendekat. Langkah kakinya tertahan beberapa meter di belakang suaminya. Ia tertegun sesaat, matanya terpaku pada postur tubuh Dave yang amat maskulin. Ada kekuatan tersembunyi yang terpancar dari punggung itu, sebuah ketegaran yang entah mengapa membuat Celina merasa aman. Andaikan hubungan kami tidak sepahit ini, batin Celina lirih, aku ingin sekali bersandar di bahu itu, melepaskan semua penat yang menghimpitku.Suara air dari keran yang mengucur deras mengejutkan Celina, membuyarkan lamunan liarnya. Ia buru-buru berdehem, mencoba menyingkirkan getaran di dadanya."Dave," sapanya lembut, berja
Jam makan siang di kantin Micro Pusat terasa lebih riuh dari biasanya. Aroma pasta al dente dan saus marinara menguar di udara, namun pikiran Celina tidak berada di atas piringnya. Ia duduk berhadapan dengan Tracy, mencoba menikmati makan siangnya di tengah kepenatan audit pemasaran yang menggunung. Cuaca Westalis yang lembap membuat peluh tipis muncul di dahi Celina. Secara refleks, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sapu tangan putih bersulam benang emas—hadiah ulang tahun dari Dave—dan menyeka dahinya. Deg! Tracy tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya membulat, garpunya berdenting jatuh ke atas piring porselen. "Celina! Dari mana kau mendapatkan itu?!" Tracy memekik, suaranya naik dua oktav hingga beberapa karyawan di meja sebelah menoleh. Celina tersentak, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Ada apa denganmu, Tracy? Ini hanya sapu tangan." "Hanya sapu tangan katanya?!" Tracy menyambar kain sutra itu dari tangan Celina. Ia membolak-baliknya dengan tangan gemetar, jarinya m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.